Oleh: Erna Ummu Aqilah
Member Akademi Menulis Kreatif

Manusia adalah mahluk lemah yang telah diciptakan oleh Allah Swt. Karena keterbatasan akal dan pikirannya tanpa bersandar pada wahyu, manusia akan cenderung melakukan kesalahan.

Akhir-akhir ini Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi, telah menghapus konten radikal yang termuat di 155 buku pelajaran agama Islam. " Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme" ujar Menag lewat keterangan tertulis Kamis 2 juli 2020.

Kendati demikian, Menag memastikan buku-buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia. Ia mengungkapkan, penghapusan konten radikal merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan Kemenag.

Menurut Fachrul, ratusan judul buku pelajaran yang direvisi berasal dari lima mata pelajaran. Yakni Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, Alquran dan Hadits, serta Bahasa Arab.

Pihaknya memastikan ratusan buku pelajaran tersebut telah direvisi dan mulai dipakai untuk tahun ajaran 2020/2021.

Menag juga menyampaikan bahwa pihaknya tengah menjalankan program moderasi beragama, yakni pembangunan rumah moderasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) serta penguatan bimbingan perkawinan.

" Presiden menggarisbawahi penguatan bimbingan perkawinan upaya membangun generasi sehat, kita perkuat lagi dengan moderasi agama " ujarnya.

Selain itu menurut Fachrul, program moderasi agama lainnya yang juga tengah dijalankan Kemenag yakni pelatihan bagi guru dan dosen, penyusunan modul pengarusutamaan Islam wasathiyah, serta madrasah ramah anak. ( Terkini.id, 2/07/2020).

Dengan dihapuskannya konten-konten yang dianggap radikal, dan mastikan buku-buku akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak relevan di Indonesia, ini adalah bentuk penyesatan sistematis terhadap ajaran Islam.

Sebagaimana kita ketahui khilafah adalah ajaran islam yang telah tertulis di berbagai kitab-kitab Fikih dengan berbagai mazhab. Namun dengan dikatakan bahwa khilafah tidak lagi relevan di Indonesia, dan adanya program penguatan moderasi beragama adalah bentuk Islamofobia terhadap ajaran Islam. Karenanya ajaran Islam yang dianggap berpotensi mengganggu kepentingan rezim dihapuskan.

Sebagaimana kita ketahui khilafah adalah ajaran Islam yang telah diwariskan Rasulullah Saw. Dan merupakan sistem pemerintahan yang mengatur urusan bermasyarakat dan bernegara baik di bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, pidana, pendidikan, politik dalam negeri, politik luar negeri dan yang lainnya.

Khilafah merupakan tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara yang sangat sempurna, dan telah terbukti selama 14 abad berhasil membangun peradaban yang sangat gemilang bagaimana bisa dianggap tidak relevan?

Justru dengan program moderasi beragama umat secara sistematis akan mulai melupakan dan meninggalkan ajaran agamanya. Akibatnya masyarakat menjadi jauh dari ajaran dan hukum-hukum agama Islam.

Kebijakan di atas jelas-jelas akan menghasilkan kurikulum pendidikan sekuler anti Islam. Kurikulum yang menjadi rujukan  dan mengarahkan umat untuk memperjuangkan tegaknya Islam, diganti dengan materi yang justru mendorong mereka untuk menerapkan hukum dan sistem buatan manusia.

Dan dengan ditetapkannya kurikulum yang sekuler, sudah pasti menghasilkan masyarakat yang memiliki pemikiran sekuler pula. Dan inilah justru yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam, yaitu menjauhkan umat Islam dari pemikiran Islam.

Akibatnya umat menjadi rusak dan lemah tak lagi berpegang teguh pada hukum-hukum dan aturan Islam. Dan umat Islam cenderung takut dengan ajaran agamanya yang dianggap radikal. Dan bisa dipastikan musuh-musuh Islam akan dengan mudahnya menguasai umat dari berbagai penjuru. Wallahu A'lam Bishshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations