Oleh: Dian Handayani
Praktisi pendidikan dan Pemerhati sosial

Menurut data per awal Juli 2021 Kondisi Covid-19 di Kalimantan Timur (Kaltim) sudah sangat menghawatirkan, data update Satgas Covid-19 per 2 Juli 2021 terus meningkat hingga menyentuh angka 78.492 tekonfirmasi dengan rincian, pasien dirawat mencapai 4.925 orang, pasien yang dinyatakan sembuh 71.716 orang serta angka pasien meninggal 1.851 orang. Hingga kondisi sekarang sudah terbilang darurat. (Penajam Online)

Hal ini disampaikan Gubernur Kaltim Isran Noor, saat Rapat Kordinasi Evaluasi Khusus Terkait Pencegahan Covid-19 Provinsi Kaltim, yang berlangsung secara virtual. Dalam paparannya Gubernur Kaltim Isran Noor, mengatakan bagaimana cara mencari jalan dan solusi soal penanganan Covid-19 yang dihadapi saat ini. Bicara data tak ada waktu lagi, karena semua harus segera melakukan tindakan, seperti melakukan kordinasi yang lebih intens dalam menindaklanjuti, serta melaksanakan langkah agar masyarakat menyadari secara penuh terhadap disiplin terhadap protokol kesehatan (Prokes).

Hal ini tak hanya terjadi di Kaltim, namun di daerah lain juga. kasus positif Covid-19 dan kematian harian terus bertambah. Fasilitas kesehatan dan rumah sakit rujukan nyaris kolaps karena membludaknya pasien. Bahkan Sampai pasien non covid seprti patah tulang atau pun lainnya, yang memerlukan rujukannke RS yang lebih memadai tidak bisa tertangani. Tenaga kesehatan banyak yang berguguran. 

Kemudian pula para ulama dan ustadz pun dipanggil mendahului kita. Para ahli ilmu yang masih sangat dibutuhkan umat demi kebangkitan Islam.

Mengutip dari salah satu tulisan menyatakan bahwa ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga menyatakan efektivitas PPKM Darurat bisa dilihat dari angka positivity rate dan bed occupancy rate (BOR). Positivity rate (rasio kasus) adalah persentase dari jumlah orang yang dinyatakan positif dibagi jumlah orang yang diperiksa kemudian dikali 100%.

Data Satgas Covid-19, rasio kasus Indonesia pada hari pertama PPKM Darurat (3/7/2021) sebesar 36,69%. Hari kedua rasio kasus melambung menjadi 44,61%. Pada (8/7/2021), rasio kasus mencapai 40,02%. Positivity rate Indonesia konsisten di atas 30%.

Di sisi hilir, BOR atau keterisian bed di sejumlah daerah di Indonesia rerata di atas 60%. Kalimantan Barat misalnya, BOR isolasi mencapai 68,09%. Lalu BOR ICU 82,48%. Di Lampung, BOR isolasi mencapai 77,91% dan ICU 73,43%. (cnnindonesia.com, 9/7/2021).

Kemudian saat ini PPKM kemudian diperpanjang kembali sampai awal agustus. Sejumlah kebijakan tidak sinkron antara daerah dan pusat pun yang mengakibatkan kepala daerah menjadi serba salah. Membuat mereka ada memilih untuk terus berjuang sampai akhir seperti di Jakarta, dan ada juga yang menyatakan lepas tangan seperti contohnya di penajam. 

Bagaimana kita menyikapi hal ini? Maka kita harus bisa membedakan mana opini dan mana fakta. Sehingga juga tidak berlarut pada polemik Covid-19 adalah hoax atau bukan. Dan ikut menyebarkan opini yang justru akan menambah keruwetan masalah.

Masalah keberadaan virus ini tentu harus merujuk pada pendapat ahli di bidangnya. Dan para ahli sudah menyatakan bahwa virus ini memang ada dan bukan rekayasa genetika. 

Sebagai hamba yang beriman, kita tentu wajib mengimani bahwa hanya Allah SWT lah yang menciptakan virus inibdan memiliki qadar atasnya. Namun Allah juga yang berkuasa menghidupkan dan mematikan manusia. 

Kita  harus meyakini bahwa musibah juga datang atas ijin dari Allah SWT. Karenanya kita harus bersabar dan hanya kepada Allahlah kita meminta jalan keluar segala perkara.

Kurang sigap serta salah urus lah yang menjadi masalah penanganan wabah pandemi ini. Semakin hari kitabbisa melihat makin tidak jelas arahnya. Adalah sebuah kewajaran jika masyarakat makin kecewa. Dan hilang kepercayaan  kepada pemerintah .

Ini juga menunjukkan kegagalan kapitalisme dalam menangani wabah. Sungguh pangkal keterpurukan ini bersumber pada satu hal, yakni penyimpangan terhadap aturan-aturan Allah SWT. Ketidaktaatan pada aturan atau syariah-Nya. kita masih enggan menjadikan al-Quran sebagai rujukan . Hal itu sebagaimana telah diterangkan oleh Allah SWT:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124)

Sudah begitu banyak aturan Allah diabaikan. Dan itu semua sudah cukup dipertontonkan didepan mata kita. Seorang pemimpin pun tidak boleh abai Apalagi lepas tangan atas tanggung jawabnya. Kemudian bagaimana masukan penangan Masalah ini diabaikan jika rujukan dari para ulama yang kompeten. Apalagi merujuk pada syariah-Nya. Atas nama menjaga ketentraman dalam kebhinekaan. Padahal hanya kembali kepada Allah yang Maha Tahu , Yang menciptakan dan mengatur alam semesta inilah yang menjadi jawabannya . 

Semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslim. Dengan disadarkannya umat untuk kembali pada aturan Nya. Semoga kita pun termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah dan berkorban penuh keikhlasan dalam rangka mewujudkan kehidupan Islam. Aamiin Yaa robbal 'aalamiin

Wallahu a'lam bi ashahowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations