Oleh : Linda Dwi Elvandari

Baru baru ini telah diberitakan lebih dari lima juta orang menjadi jutawan di seluruh dunia pada tahun 2020 meskipun ada pelemahan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19. Sementara banyak orang miskin yang makin miskin.

Melansir dari BBC, Rabu (23/6/2021), berdasarkan penelitian Credit Suisse ditemukan bahwa jumlah miliarder meningkat sebanyak 5,2 juta orang, menjadikan total miliarder di dunia saat ini berjumlah 56,1 juta orang.

Walaupun jumlah orang kaya bertambah selama masa pandemi, dikabarkan adanya kesenjangan antara 'si kaya' dengan 'si miskin' menjadi semakin terlihat. Hal ini menjadi si kaya menjadi semakin kaya sedangkan si miskin menjadi semakin miskin. Nannette Hechler-Fayd'herbe, kepala investasi di Credit Suisse, mengatakan bahwa fenomena ini dapat terjadi karena adanya penurun suku bunga yang dilakukan oleh banyak bank-bank sentral di seluruh dunia. Nannette menjelaskan bahwa dengan adanya penurunan suku bunga dari bank sentral di tiap-tiap negara dapat membantu meningkatkan harga saham dan harga rumah selama masa pandemi. Peningkatan harga saham dan harga rumah inilah yang menjadi alasan utama sejumlah orang dapat meraup 'untung' semasa pandemi.

Begitupun yang terjadi di Indonesia, fakta mengungkapkan bahwa orang kaya diIndonesia mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan Credit Suisse, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp 14,49 miliar (kurs dollar Rp 14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang, alias bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Laporan Credit Suisse tentu memberikan bukti bahwa kesenjangan antara rakyat Indonesia sudah sangat melebar. Terlihat dari data indeks yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks tersebut merupakan indikator yang mengukur tingkat pengeluaran penduduk yang dicerminkan dengan angka 0-1. Semakin rendah angkanya, maka pengeluaran semakin merata.

Inilah hasil dari penerapan Sistem kapitalisme yang telah mewujudkan kemiskinan secara massal baik pada individu, keluarga dan negara. Hal ini disebabkan Sistem ini selalu berpihak kepada pemilik modal. Sistem Kapitalis akan memasilitasi kerakusan pemilik modal untuk melipatgandakan kekayaan pribadinya. Sedangkan rakyat dibiarkan dalam menghidupi diri dan keluarganya. Maka akan menjadi hal yang sangat wajar jika sistem ini mencetak kesengangan permanen yang rentan melahirkan masalah baru dimasyarakat seperti maraknya kriminalitas dan problem sosial lainnya.

Berbicara tentang kekayaan tentu tidak akan pernah habisnya. Apalagi kita sebagai seorang muslim memahami kekayaan di langit dan bumi hanya milik Allah SWT. Allah pun berhak menentukan kepada siapa kekayaan itu diberikan. Begitu pun dengan kemiskinan dalam Islam bukanlah sesuatu ujian yang akan diberikan oleh Allah supaya umatnya bersabar dalam ketaatan dan keikhlasan. Namun kaya dan miskinnya seseorang bukanlah sesuatu yang disengaja seperti kejadian sekarang. Terpenting di dalam Sistem Islam seluruh masyarakat baik kaya maupun miskin akan mendapatkan pelayanan terbaik. Tidak akan ada kesenjangan ataupun pembeda antara orang kaya dan orang miskin. Semuanya berhak mendapatkan perlindungan dari negara baik perlindungan nyawa dan harta. Pelayanan kesehatan terbaik akan diberikan kepada seluruh rakyat tanpa membedakan kaya dan miskin. Pelayanan pendidikan terbaik pun akan menjadi hak bagi semua orang dan negara berkewajiban untuk memenuhinya. Apalagi dalam kondisi sulit seperti saat ini maka negara akan segera menyelesaikan masalah dengan tepat dan cepat. Menyelesaikan masalah pandemi Covid 19 dengan solusi yang telah dicontohkan oleh nabi dan para khalifah. Tentu dengan solusi Islam akan mampu menyelesaikan masalah perekonomian yang banyak menelan korban hingga berubah menjadi perekonomian yang mampu membawa pada kesejahteraan. Saatnya kita kembali pada sistem aturan yang mampu membawa pada kebaikan dunia dan akhirat. Kehidupan yang membawa pada rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu'alam 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations