Oleh : Ummul Asminingrum, S.P.d

Belum juga tuntas kasus penistaan agama yang dilakukan oleh seorang youtuber beberapa waktu lalu. Kini kekhusyukan kaum muslim dalam menjalankan ibadah puasa kembali diuji.

Adanya postingan pendapat yang dianggap 'nyeleneh' terkait diperbolehkannya puasa bagi wanita haid. Telah mengakibatkan kegaduhan di sosmed beberapa waktu lalu.

Akun Instagram indonesiafeminis's mengunggah ulang pembahasan dari akun Instagram mubadalah.id soal 'alasan perempuan haid boleh berpuasa'. Dilihat detikcom pada Minggu (2/5/2021), unggahan itu menyebutkan tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang melarang perempuan haid berpuasa. (detiknews.com, 3/5/2021)

Padahal sudah kita ketahui bersama bahwa sumber-sumber hukum Islam bukan hanya berasal dari Al-Qur'an. Namun ada sumber yang lain seperti Al hadist, ijma' sahabat, dan qiyas. Kedudukan Al hadist adalah sebagai penjelas dari Al-Qur'an atau melengkapi hukum-hukum yang belum dinash-kan dalam Al Qur'an. 

Pandangan 'nyeleneh' tersebut mengatasnamakan fikih progresif. Fiqih progresif sendiri merupakan bentuk progresifisme pemikiran Islam yang ingin mengembalikan misi ajaran Islam pada otentisitasnya, yaitu semangat pembebasan. Hal ini berarti melakukan penafsiran ulang dari ayat Alquran maupun Al hadist secara bebas. Pendapat seperti ini digaungkan oleh orang-orang liberal. 

Mayoritas ulama tidak ada perbedaan pendapat mengenai perempuan yang sedang haid atau nifas tidak boleh melakukan puasa, baik itu puasa Ramadan atau puasa sunah. Jikapun dilaksanakan, maka puasanya tidak diterima oleh Allah SWT.

Dasarnya adalah pertanyaan Mu'adzah juga kepada Aisyah ra: "Kenapa gerangan wanita yang haid mengqada puasa dan tidak mengqada salat?"

Maka Aisyah menjawab, "Apakah kamu dari golongan Haruriyah? Aku [Mu'adzah] menjawab, "Aku bukan Haruriyah, namun aku hanya bertanya."

Aisyah menjawab, "Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqada puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqada salat," (HR Muslim).

Selain dari Aisyah, Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Bukankah wanita itu jika sedang haid, tidak salat dan tidak berpuasa?” Mereka menjawab,: Ya.” (HR Bukhari).

Lafadz hadits diatas sudah sangat gamblang menunjukkan bahwa di zaman Rasulullah Saw, wanita yang sedang haid tidak melaksanakan shalat dan puasa. Sekaligus sebagai dalil larangan puasa bagi wanita haid. Meskipun demikian, diwajibkan mengqadha puasa sejumlah hari ketika wanita tersebut haid. 

Maka, wajar saja apabila unggahan yang mengatakan wanita haid boleh puasa, mendapat banyak kecaman dari masyarakat. Termasuk dari lembaga-lembaga agama karena dinilai tak sesuai ketentuan. Salah satunya dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi. 

Beliau menyampaikan, "Kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa boleh berpuasa bagi orang haid ya mungkin itu pendapat yang sangat syadz, pendapat yang menyimpang dari konsensus".

"Itu pandangan yang tidak mainstream, itu pandangan yang menyempal sendiri dia. Karena bertentangan dengan konsensus ulama pada umumnya. Karena hadisnya sahih". (detiknews.com, 2/05/2011)

Munculnya pandangan 'nyeleneh' seperti ini disebabkan abainya peran negara dalam melindungi agama. Seharusnya negara lah yang memegang peran utama dalam melindungi syariat. Sebab, negara memiliki kekuasaan untuk itu, dengan seperangkat sistem dan sanksi yang dimiliki. 

Namun sayangnya itu tidak bisa terealisasi. Sebab negeri ini mengadopsi sistem buatan manusia yang amat lemah dan terbatas. Demokrasi, dengan selogan kebebasan berpendapat telah menjadikan manusia semakin liar menggunakan akalnya. Tidak lagi memperhatikan rambu-rambu agama. Hanya memperturutkan nafsu atas nama hak asasi manusia. 

Dalam sistem demokrasi perlindungan terhadap agama diserahkan kepada masing-masing individu. Terbukti ketika ada kasus penistaan, pelecehan atau semacamnya, negara tidak segera mengusut tuntas dan menghukum pelaku sebelum ada protes massif dari masyarakat. 

Gambaran mengharap penjagaan agama pada sistem demokrasi, bagaikan berlindung di sarang laba-laba. Sangatlah rapuh dan tak berdaya. Sebagaimana firman Allah Swt :

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui". (QS. Al-Ankabut : 41).

Bahkan dalam sistem demokrasi saat ini, liberalisasi terhadap syari'at semakin subur. Dan ironisnya hal ini mendapat dukungan dari negara. Terbukti dengan massifnya dukungan terhadap moderasi agama.

Penguasa justru berupaya mencekoki benak-benak umat dengan berbagai pemikiran yang membuat mereka kehilangan kepekaan terhadap agama. Serta propaganda kebebasan berekspresi dan HAM, menunjukkan bahwa negara berkepentingan agar umat Islam tak lagi menjadi umat militan.

Islam adalah agama yang rahmatan lil aalamiin. Kerahmatan Islam bisa kita rasakan apabila diterapkan secara Kaffah. Islam juga merupakan agama yang toleran terhadap pemeluk agama lain. Sebab tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Semua warga negara akan dilindungi meskipun itu non muslim. Termasuk kaffir dzimmi selama masih tunduk dan membayar jizyah pada Daulah. 

Selain melindungi Islam, Daulah juga melindungi agama lain. Mereka bebas beribadah, makan, menikah dan berpakaian sesuai agamanya. Namun, bagi muslim yang murtad, mengaku nabi, menista agama dan syariatnya akan dibunuh. Nabi Saw bersabda: 

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

“Siapa saja yang murtad dari agamanya, bunuhlah!” (HR at-Tirmidzi).

Hukum Islam yang tegas seperti ini bisa menjadi semacam imunitas bagi seluruh kaum muslim agar terbebas dari pemurtadan, yang dihawatirkan menjadi misionaris. Hukum Islam bersifat tegas sehingga mencegah orang lain berbuat yang hal sama. 

Penjagaan Daulah yang luar biasa terhadap agama, juga tidak akan memungkinkan muncul dan berkembangnya aliran-aliran sesat ditengah ummat. Pun juga tidak akan memungkinkan munculnya orang-orang liberal yang akan merusak Islam dari dalam. Negara akan menghentikan mereka sebelum menyebarkan pemikiran sesat tersebut. Daulah tidak akan memberikan ruang sedikitpun bagi pemikiran barat seperti sekulerisme, liberalisme, pluralisme dll. 

Insyaallah dengan diterapkannya Islam Kaffah, kemurnian Aqidah dan kerahmatan Islam akan dirasakan oleh semesta. Jika sekarang institusi itu belum kembali, maka tugas kita untuk memperjuangkankannya. Semoga Allah  Swt menyegerakan pertolonganNya sehingga kehormatan Islam selalu terjaga. Aamiin 

Wallahu'alam bish-shawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations