Oleh: Sri Haryati
Ibu Rumah Tangga dan Member AMK

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Sepenggal lirik lagu keluarga cemara ini, menggambarkan kepada kita betapa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Keluarga adalah tempat dimana limpahan kasih sayang, perhatian, perlindungan, serta pondasi nilai-nilai agama diajarkan oleh kedua orangtua dan anggota keluarga lainnya kepada seorang anak. 

Namun akhir-akhir ini justru banyak sekali kasus kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak yang diperoleh dari keluarga. Ada banyak kasus kekerasan pada anak yang mulai terungkap ke publik belum lama ini. 

Salah satunya kasus kekerasan yang menimpa dua bocah perempuan kakak beradik berusia 9 tahun dan 5 tahun di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat. Ironisnya mereka menjadi korban pencabulan dan perkosaan yang dilakukan oleh anggota keluarga intinya. Tidak hanya sekali, perlakuan tidak senonoh yang dilakukan terhadap dua anak perempuan itu terjadi beberapa kali. 

Diketahui ada lima pelaku yang sudah ditangkap yaitu inisial ADA (16) yang merupakan kakak sepupu korban, Dj panggilan Udin berusia 70 tahun yang merupakan kakek korban, RO panggilan Rian berusia 23 tahun selaku paman korban. Lalu dua orang lainnya dijadikan sebagai anak saksi lantaran usianya masih 11 tahun dan 10 tahun dan saat ini dititipkan di LPKS ABH Kasih Ibu.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Padang, Kompol Rico Fernanda mengatakan, total pelaku yang sudah diamankan polisi dari kasus dugaan pemerkosaan serta pencabulan itu berjumlah lima orang. Namun, dua orang dilakukan diversi karena usianya di bawah 12 tahun. Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. (Republika.co.id, 27/11/2021)

Sungguh menyesakkan dada dan membuat masyarakat geram. Bukankah idealnya rumah menjadi tempat paling aman bagi anak setelah sekolah, dan keluarga sebagai orang terdekat yang paling baik? Apa penyebab kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat? Lantas, Bagaimana mengatasinya?

Menurut Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Nahar menyebut selama pandemi, sistem informasi online (Simfoni) perlindungan perempuan dan anak mencatat ada lebih dari enam ribu laporan bentuk kekerasan terhadap anak. Menurut data KemenPPPA, jumlah kekerasan terhadap anak pada 2020, meningkat 11.278 kasus, di antaranya kekerasan fisik 2.900 kasus, psikis 2.737 kasus, kekerasan seksual 6.980 kasus, eksploitasi 133 kasus, TPPO 213 kasus, penelantaran 864 kasus, dan kasus kekerasan lainnya sebanyak 1.121 kasus.

Data terbaru Januari-September 2021, jumlah kekerasan pada anak sebanyak 9.428 kasus. Terdiri dari kekerasan fisik 2.274 kasus, psikis 2.332, seksual 5.628 kasus, eksploitasi anak 165 kasus, TPPO 256 kasus, penelantaran 652 kasus, dan kasus kekerasan lainnya sebanyak 1.270 kasus. (cnnindonesia.com, 2/11/2021)

Angka kekerasan tersebut hanya kasus yang terlapor di laman pengaduan Simfoni milik KemenPPPA. Tidak menutup kemungkinan bahwa angka kekerasan yang terjadi jauh lebih tinggi, dikarenakan banyak yang tidak melapor. Banyak yang  menganggap sebagai masalah keluarga dan aib keluarga sehingga enggan melapor, minimnya pengetahuan atau takut karena mendapat ancaman.

Selama pandemi Covid-19 kasus kekerasan anak terus meningkat, tak dipungkiri kesulitan ekonomi menjadi faktor utama penyebabnya. Kebutuhan yang meningkat tidak berimbang dengan penghasilan yang memadai mengakibatkan banyak yang mengalami stres. Kerusakan moral akibat rapuhnya keimanan dan ketakwaan menghancurkan ketahanan keluarga .

Selain itu peran orang tua dalam keluarga yang sangat minim dalam melindungi, mendidik, dan mengawasi anak-anaknya di dalam pergaulan, baik di lingkungan keluarga dan sekitar tempat tinggal. Minimnya pemahaman akidah di dalam keluarga menjadi faktor penyebab rusaknya moral sehingga mendorong terjadinya inses. 

Moralitas yang rusak di kalangan individu, masyarakat hingga negara akibat sekularisme yang telah mewabah di negeri ini. Perbuatan memisahkan agama dari kehidupan membuat mereka semakin jauh dari akidah Islam, perbuatan tak lagi berdasarkan syariat, hingga tak takut akan dosa serta pertanggungjawaban kelak di akhirat atas semua perbuatan di dunia. 

Lemahnya kontrol negara terhadap media massa baik elektronik maupun cetak yang menyiarkan pornografi maupun pornoaksi. Berakibat masyarakat dengan mudahnya mengakses berbagai film, video, foto maupun situs-situs porno di berbagai media sehingga menimbulkan syahwat yang liar dan memicu kejahatan seksual.

Selain itu lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak. Hukuman yang diberikan terlalu ringan, sehingga tidak menimbulkan efek jera. Faktor penegakan hukum ini cukup memberi andil sehingga kasus-kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan terus terulang.

Tak dipungkiri berbagai faktor penyebab maraknya kasus kekerasan terhadap anak ini, akibat kegagalan sistemis dari sistem kapitalisme sekuler. Telah nampak kerusakan dan kegagalan sistem buatan manusia ini di segala lini kehidupan, kita butuh sistem kehidupan lain yang lebih melindungi, mengayomi dan meminimalkan kasus kekerasan, khususnya terhadap anak. Dan sistem itu bukan sistem kapitalisme sekuler yang telah nyata rusak namun sistem yang datang dari Sang Pencipta manusia yaitu sistem Islam.

Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab sebagai pengayom, pelindung, dan benteng bagi keselamatan seluruh rakyatnya. Begitu pun nasib anak menjadi kewajiban negara untuk menjaminnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw., 

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang kepala negara yang memimpin rakyat akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Negara adalah benteng utama yang melindungi anak-anak dari kejahatan. Tanpa bantuan negara, keluarga dan masyarakat tak akan mampu menjalankan tugasnya dengan maksimal. Negara yang berlandaskan Islam akan menerapkan kebijakan perlindungan anak. Islam memiliki mekanisme perlindungan secara sistemis, melalui penerapan berbagai aturan.

Pertama, penerapan sistem pendidikan. Negara berkewajiban mendorong setiap individu warga negara untuk taat terhadap aturan Allah SWT. Penanaman akidah Islam  dibentuk melalui pendidikan formal maupun nonformal melalui beragam sarana dan prasarana yang dimiliki negara.

Kedua, penerapan sistem ekonomi Islam. Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang cukup dan layak agar para kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi keluarganya. Krisis ekonomi yang memicu kekerasan anak oleh orang tua yang stres bisa dihindari, dan para perempuan/ibu akan fokus pada fungsi keibuannya (mengasuh, menjaga, dan mendidik anak) karena tidak dibebani tanggung jawab mencari nafkah.

Ketiga, penerapan sistem sosial. Negara wajib menerapkan sistem sosial yang menjamin interaksi antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat. Di antaranya perempuan dan laki-laki diwajibkan menutup aurat, perempuan dilarang berdandan berlebihan (tabarruj), larangan berkhalwat (berdua-duaan dengan nonmahram), ataupun campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa ada keperluan syar’i (ikhtilat), serta menjaga pandangannya (gadhul bashar), larangan melakukan pornoaksi atau pornografi sehingga terhindar dari naluri seksual yang tak terkendali.

Keempat, pengaturan media massa. Negara akan menyiarkan berita dan informasi yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Negara juga akan menutup semua mata rantai penyebaran situs-situs porno di berbagai media. Apa pun yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hukum syariat akan dilarang keras. 

Kelima, penerapan sistem sanksi. Negara menjatuhkan hukuman yang sangat tegas dan keras terhadap para pelaku kejahatan terhadap anak, baik fisik maupun seksual. Dengan sanksi yang tegas dan keras mampu memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah orang lain melakukan kejahatan yang sama.

Dengan penerapan yang paripurna ini, Islam menjadi satu-satunya sistem yang memberikan kepastian perlindungan bagi anak dari kekerasan seksual. Ketika Khilafah tegak, Islam akan menjadi rahmat bagi semesta alam. Anak-anak pun akan tumbuh dan berkembang dalam keamanan dan kenyamanan, serta jauh dari bahaya yang mengancam. 

Wallahu a’lam bishshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations