Oleh: Ayu Fitria Hasanah S.Pd
Aktivis Muslimah

Bagai mengurai benang kusut, kekerasan seksual bertambah tahun tak kunjung menyusut. Payung hukum kekerasan seksual yang belum kuat atau belum rinci menjadi salah satu anggapan kasus kekerasan seksual terus meningkat.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat sebanyak 8.800 kasus kekerasan seksual terjadi dari Januari sampai November 2021. Sementara itu, Komnas Perempuan juga mencatat ada 4.500 aduan terkait kekerasan seksual yang masuk pada periode Januari hingga Oktober 2021 (cnnindonesia, 29/12/2021).

Aturan atau hukum yang tidak membuat pelaku kekerasan seksual jera melakukan kejahatannya, memang menjadi potensi kejahatan terus berulang. Tetapi, dalam menyelasaikan masalah maraknya kekerasan seksual perlu melihat secara mendalam atau komprehensif berbagai faktor penyebabnya. Berdasarkan pemahaman dalam Kitab Sistem Pergaulan dalam Islam yang ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani, faktor yang menyebabkan kekerasan seksual semakin marak adalah terjadinya kesalahan pandangan terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Hubungan laki-laki dan perempuan lebih didominasi dengan pandangan yang hanya bersifat seksual semata (sebatas hubungan biologis antara lelaki dan perempuan). Akibatnya banyak orang yang sekedar mementingkan pemuasan naluri seksualnya tanpa berpikir dan peduli apa akibat serta tujuan dari perbuatannya tersebut. Pandangan yang benar, yakni hubungan laki-laki dan perempuan berikut dengan naluri seksual yang muncul diantara keduanya adalah dalam rangka melestarikan jenis/keturunan umat manusia.

Faktor lain yang menjadikan kekerasan sesksual marak yaitu dua unsur yang membangkitkan naluri seksual hari ini justru disuasanakan dan diproduksi. Pertama, fakta-fakta yan gmenggejolakkan naluri seksual, seperti film-film porno, drama-drama percintaan, gambar-gambar seksi. Kedua, pikiran, fantasi, bayangan-bayangan yang ditimbulkan karena terbiasa mengindera fakta-fakta yang merangsang naluri seksualnya. Akibatnya terdapat orang-orang yang liar memenuhi pemuasan naluri seksualnya. Sedangkan Islam mencegah segala hal yang membangkitkan nafsu seksual dalam kehidupan umum dan hanya membatasinya dalam hubungan suami istri. Artinya terdapat penjagaan yang luar biasa dari segala hal yang menimbulkan peluang naluri seksual seseorang bergejolak yang seringkali diekspresikan dalam tindakan kekerasan seksual.

Selain itu, tidak adanya pengaturan hubungan laki-laki dan perempuan secara alamiah dan yang sesuai dengan hukum-hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur juga menjadi penyebab maraknya kasus kekerasan seksual. Misalnya tidak adanya kendali terhadap naluri seksual yang muncul dari hubungan laki-laki dan perempuan, walhasil banyak perbuatan biadab seperti pelecehan seksual, pemerkosaan. Sedangkan sistem pergaulan dalam Islam menjadikan keridhoan Allah SWT sebagai pengendali hubungan tersebut, sehingga menjadikan terjaganya kesucian dan ketaqwaan sebagai standart dalam memenuhi naluri seksual. Faktor lain yaitu tidak adanya batasan terhadap hubungan laki-laki dan perempuan, juga menyebabkan kekerasan seksual semakin marak. Misalnya seperti pacaran yang dinormalisasikan, hubungan seks suka sama suka (tanpa ikatan pernikahan) yang tidak dikategorikan sebagai penyimpangan, akibatnya sering terjadi kerancuan misalnya seperti pihak perempuan yang mengadu mendapat kekerasan seksual karena telah diperkosa, sedang pihak laki-laki mengadu bahwa melakukannya dengan sukasama suka. Berbeda dengan Islam yang hanya membatasi hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan hanya dengan pernikahan, selain dengan pernikahan maka adalah dosa besar yang layak diganjar, sehingga terjaga dari akhlak yang tidak baik. Karena itu, untuk menghentikan kasus kekerasan seksual adalah dengan menerapkan sistem pergaulan pria wanita dalam Islam yang menjadikan asas dan hukum-hukum syariah sebagai tolak ukur.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations