Oleh: Fitri Suryani
Freelance Writer

Berita terkait kekerasan seksual tiap harinya seolah tak pernah habis, baik melalui pemberitaan media online ataupun cetak.

Sebagaimana dalam kurun waktu Januari-Mei 2021, tercatat kasus kekerasan seksual terhadap anak telah mencapai 35 kasus di Konawe Selatan (Konsel). Hal itu diungkapkan Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kementerian Sosial wilayah Konsel, Helvin Ezza, Jumat (4/6/2021).

Helvin menjelaskan, motif pelaku ada yang sama-sama suka, ada bujuk rayu, ada juga modus kenalan melalui media sosial.

Selain itu, Aktivis Anak Wilayah Konsel, Desti Felani menambahkan, korban kekerasan seksual terhadap anak mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA (Telisik.id, 04/06/2021).

Di samping itu, kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat, sejak 1 Januari hingga 16 Maret 2021, terdapat 426 kasus kekerasan seksual dari total 1.008 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Asisten Deputi Perumusan Kebijakan Perlindungan Hak Perempuan Ali Khasan pun mengatakan, data tersebut berdasarkan hasil pelaporan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA). Ali meyakini kasus kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es. Artinya, banyak kasus yang tidak terungkap dan dilaporkan. Sedangkan, saat ini belum ada upaya pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan yang diatur secara komprehensif (Kompas.com, 19/03/2021).

Masalah kekerasan seksual yang terjadi hari ini jelas banyak penyebabnya. Adapun faktor peyebab hal tersebut di antaranya: Pertama, media, baik online maupun offline yang tak sedikit menggumbar aurat bahkan mempertontonkan adegan-adegan yang sifatnya privat. Hal tersebut tentu saja sangat memiliki dampak negatif mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Karena tak sedikit mereka yang melakukan kekerasan seksual tersebut tidak jarang pernah menyaksikan tayangan-tayangan porno yang dapat membangkitkan birahi.

Kedua, sanksi. Minimnya sanksi yang memberikan efek jera sangat berpengaruh pula. Sebab, jika hukumannya ringan akan membuat para pelaku dengan mudahnya melakukan kejahatan tersebut. Dari hal itu pula, para calon pelaku yang baru tidak segan bertindak hal yang serupa.

Ketiga, pakaian yang terbuka atau “minim”. Tak bisa dipungkiri pula bahwasanya pakaian “minim” dapat memicu para pelaku melakukan kekerasan seksual. Karena hal itu dapat memberikan ruang dan kesempatan bagi pelaku untuk melakukan tindak bejatnya. Apalagi sebelumnya pelaku tak jarang menyaksikan tayangan-tayangan porno ataupun meminum minuman keras.

Keempat, pergaulan bebas. Bukan hal asing lagi bahwasanya hari ini pergaulan antara laki-laki dan perempuan seolah telah mengikuti gaya hidup barat, yang mana seakan meminggirkan nilai-nilai moral bahkan agama.

Dari itu, dalam mengatasi permasalahan kekerasan seksual tentu sangat perlu melibatkan komponen-koponen terkait yang dapat membantu meminimalisir kejahatan tersebut, bahkan membabat habis hingga ke akarnya.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan, yakni: Pertama, adanya ketakwaan individu yang mana hal itu bisa diperoleh melalui pendidkan yang didapat baik melalui lembaga formal seperti sekolah ataupun non formal seperti lingkungan keluarga ataupun masyarakat.

Kedua, kontrol masyarakat, diantaranya adanya budaya amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. Karena manusia memiliki potensi berbuat buruk, maka dari itu penting adanya kebiasaan saling menasehati dalam kebenaran dan mencegah dari perilaku yang menyimpang dari norma agama.

Ketiga, peran negara dalam hal ini seperti memblokir tayangan atau situs yang jauh dari nilai pendidikan ataupun yang dapat memicu rangsangan seksual. Ditambah pula adanya sanksi tegas yang dapat menimbulkan efek jera. Sehingga dapat meminimalisir ataupun memberangus calon pelaku kejahatan. Karena itu, peran negara begitu sangat penting, mengingat negara memiliki wewenang dan kekuatan hukum untuk menerapkannya.

Karenanya, kasus kekerasan seksual yang kian bertambah, bukanlah salah dari salah satu pihak, namun saling berkaitan erat antara 3 komponen, yakni lingkungan keluarga, masyarakat dan negara.

Oleh karena itu, sulit memberantas kekerasan seksual, jika masih banyak celah yang mampu mengantarkan seseorang ke arah tersebut. Olehnya itu, perlu adanya sinergi antara lingkungan keluarga, masyarakat dan negara untuk membabat tuntas kejahatan tersebut.

Wallahualam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations