Oleh : Lilik Yani
Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Adanya ujian pandemi, menjadikan seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah. Bukankah seharusnya menjadi berkah? Ternyata tidak demikian yang dirasakan.

Efek pandemi mengakibatkan masalah-masalah lain yang tak bisa diatasi pemerintah. Terutama masalah ekonomi untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Fakta membuktikan, efek pandemi mengakibatkan resesi ekonomi. Banyak kepala keluarga yang jadi pengangguran mendadak. Ini masalah pokok karena berhubungan dengan hajat hidup. Belum lagi masalah belajar anak-anak melalui daring.

Ketidakmampuan ibu yang tak terbiasa mengajari anak sering jadi pemicu kemarahan ibu terhadap anak. Tak cukup marah dengan mulut, ada yang sampai menyakiti fisik anak, bahkan membunuh anak. Apalagi jika ibu dalam kondisi, keuangan minimalis, masalah menumpuk. Maka pertanyaan-pertanyaan anak semakin menambah ibu kalut, bingung, stres. Pelampiasan yang mudah adalah apa saja yang berada dihadapannya, yaitu anak.

Seperti yang dilansir Koran SINDO. MEREBAKNYA kasus Covid-19 di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, memberikan tantangan khusus bagi dunia saat ini. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus Covid-19 di seluruh dunia mencapai lebih dari 30 juta, dengan angka kematian mencapai 1 juta jiwa. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus Covid-19 sudah lebih dari 250.000 kasus, dengan angka kematian lebih dari 10.000 jiwa (Kamis, 8/11/2020).

Dalam menghadapi pandemi Covid-19, Kementerian Pendidikandan Kebudayaan (Kemdikbud) sejak Maret 2020 telah memberlakukan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah bagi seluruh siswa. Kemdikbud memberlakukan pembelajaran dengan menggunakan media daring. Sebagai kompensasi PJJ, Kemdikbud bahkan memberikan bantuan kuota data internet kepadapara siswa, mahasiswa, ataupun para pengajarnya. Selain itu, pendidikan dirumah juga telah dirancang sedemikian rupa untuk lebih mengutamakan aspek keamanan dan kesehatan anak dengan pembiasaan untuk mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker ketika keluar rumah.

Dengan pemberlakuan PJJ, tentunya seluruh anggota keluarga baik orang tua maupun anak mengalami hari-hari yang panjang di rumah. Perubahan drastis yang terjadi pada rutinitas sehari-hari ini tidak jarang menyebabkan keluarga mengalami konflik antar anggota keluarga akibat timbulnya rasa bosan, jenuh, dan penat.

Selain itu, perubahan drastis yang terjadi pada keuangan keluarga, interaksi sosial, dan kontrol sosial masyarakat akibat adanya pandemi juga dipercaya sebagai faktor eksternal yang dapat menjadi pemicu terjadinya konflik antar anggota keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas tinda kkekerasan terhadap anak terjadi pada keluarga dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah. Hal ini terjadi karena tekanan sosial-ekonomi (terlilit utang, rendahnya kemampuan ekonomi, dll) dan menjadi penyebab tingginya tingkat stres pada orang tua. Perubahan pada kondisi finansial keluarga akibat adanya Covid-19 (kesulitan mengakses kebutuhan pokok), diyakini akan semakin memperburuk tekanan psikologi pada keluarga yang dapat berdampak fatal bagi kondisi keluarga.

Stres orang tua inilah yang menjadi cikal bakal munculnya amarah, rendahnya tingkat kesabaran, dan tingginya tensi orang tua terhadap berbagai masalah yang muncul. Bahkan tidak jarang ada orang tua yang tidak kuasa untuk mengatasi tekanan emosionalnya ketika muncul masalah kecil di dalam keluarganya. Namun parahnya, anaklah yang sering menjadi korban ledakan emosi sang orang tua. Itu terjadi karena selain anak adalah pihak terdekat, risiko untuk mendapatkan perlawanan balik pun sangat kecil.

Ekspresi amarah yang berlebihan sebagai solusi pelarian masalah sering ditumpahkan orang tua kepada anak. Ditambah lagi, rendahnya pengetahuan akan strategi pengasuhan tanpa kekerasan fisik dan kebiasaan memberlakukan hukuman fisik dalam interaksi sosial sehari-hari antara anak dan orang tua juga dinilai sebagai faktor eksternal yang bertanggung jawab atas munculnya tindak kekerasan yang lebih serius terhadap anak.

Sebagai contoh, kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang Ibu (LH) terhadap anak perempuan kandungnya yang masih duduk di bangku kelas 1 SD di Tangerang (26/8/2020). LH tega menganiaya anak kandungnya sendiri yang masih berusia enam tahun akibat perasaan jengkel karena sang anak tidak mampu menguasai pembelajaran daring. Ini terjadi karena minimnya kemampuan dalam melakukan pendampingan anak belajar di rumah. LH tidak segan untuk memberikan hukuman fisik yang berakibat fatal kepada anaknya.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur Andriyanto mengungkapkan masih tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2020. Data Sistem Informasi Online Kekerasan Ibu dan Anak (Simfoni) mengungkapkan adanya 1.358 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak diJatim, yang tercatat hingga 2 November 2020

Andriyanto mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak banyak terjadi di lingkungan rumah tangga. Andriyanto menduga, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan rumah tangga karena selama pandemi Covid-19, masyarakat lebih banyak beraktivitas dirumah.

Ketika kondisi aman, semua anggota keluarga memiliki aktivitas masing-masing hingga sulit bertemu. Bahkan hari libur pun terkadangtak sempat beraktivitas bersama karena sudah ada agenda masing-masing. Kini dalam kondisi pandemi, ketika harapan untuk bisa berkumpul di rumah dikabulkan, ternyata tak bisa menikmati.

Sungguh aneh manusia, apa yang diharapkan lagi. Benar, siapa yang tak mau berkumpul bersama keluarga. Hanya saja, ketika berkumpul namun tak bisa makan, itu masalahnya. Bapak sebagai tulang punggung keluarga diPHK karena perusahaan gulung tikar efek pandemi.

Sebuah dilema, saat pandemi harus stay at home, namun kebutuhan hidup tidak dijamin pemerintah. Jadilah emosi dan kemarahan yang menghantaui isi rumah. Ibu sebagai managemen keluarga bingung apa yang harus diatur. Melihat suami nganggur di rumah, melihat anak ramai dan ribet tak bisa mengerjakan tugas sekolah. Mau menyiapkan makanan untuk keluarga harus mencari pinjaman dulu. Jadilah ibu semakin menanggung beban berat dan bisa menderitastres jika tak kuat iman.

Itulah efek berkepanjangan jika suatu pemerintahan tidak menggunakan aturan dari Allah. Pandemi berkepanjangan jadi sasaran kesalahan. Banyaknya masalah bertubi-tubi termasuk kekerasan anak yang meningkat, pandemi yang dihujat.

Dalam pemerintahan Islam, ketika mengalami pandemi maka kebutuhan umat di wilayah yang diisolasi akan ditanggung oleh negara. Jadi umatbisa fokus dengan penyembuhan sakitnya. Bagi penderita pun akan mendapat pelayanan terbaik agar cepat pulih.

Anak-anak tetap mendapat perlindungan dari negara. Pendidikan, keamanan, keselamatan dijamin oleh negara. Jika orang tua tenang hatinya, maka anak akan ikut bahagia. Dalam penjagaan orang tua yang bahagia maka anak bisa maksimalkan potensi dan menjadi generasi yang tangguh.

Itu artinya kunci segala persoalan adalah kembali menjalankan perintah Allah. Menjalankan pemerintahan dengan aturan dari Allah. Jika semua urusan disandarkan pada Allah, insyaAllah ibu, anak, keluarga, dan seluruh umat akan merasakan keberkahan dalam menjalankan kehidupan.

Wallahu a'lam bish shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations