Oleh : Rosmi
Muslimah Jakarta Utara

Selain faktor kemiskinan yang meyebabkan pernikahan dini masih terjadi dibeberapa daerah di tanah air, gaya hidup dan pergaulan bebas merupakan salah satu faktor pemicu meningkatnya angka pernikahan dini.

Pernikahan dini bukanlah solusi  mengurangi beban orang tua akibat kesulitan ekonomi, apalagi pernikahan yang dilakukan tanpa ilmu dan kesiapan mental. Sebaliknya pernikahan dini justru sebagai pangkal terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Jumat 19 Februari 2021, telah ditandatangani Momerandum of Understanding (MoU) atau nota Kesepahaman oleh Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Penandatanganan MoU ini bertujuan untuk menekan angka pernikahan dini yang angkanya masih tergolong tinggi dibeberapa daerah diIndonesia pada zaman moderen ini.

Seks bebas, kekerasan terhadap perempuan dan pernikahan dini, semua permasalahan ini korbannya adalah kaum perempuan, untuk itu Kementererian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan BPMI berkomitmen untuk merancang suatu program yang bertujuan untuk memberikan pendidikan dan pemahaman serta membebaskan kaum perempuan dari pola pikir yang keliru selama ini.

Berbicara tentang bangsa yang besar, masyarakat yang harmonis tentu tidak terlepas dari pembentukan keluarga yang ideal dan tentu saja peran orang tua sebagai pencetak dan pembentuk awal karakter generasi saat pertama dikenalkan dengan ilmu, termasuk ilmu berinteraksi (komunikasi dan berperilaku).

Bagaimana mungkin keluarga ideal dapat tercipta, jika peran orang tua sudah dikesampingkan, digeser, terabaikan bahkan digantikan. Para ayah yang seharusya dipundaknya dititipkan tanggung jawab pengasuhan anak-anaknya, dipaksakan oleh sistem ini untuk bekerja keras menjemput rejeki Allah untuk kebutuhan keluarga, sehingga waktunya hanya tersisa sedikit bahkan hampir tidak ada karena sudah tergadaikan dengan aqod ijaroh.

Para ibu yang seharusnya mengasuh serta mendampingi tumbuh kembang sang buah hati, dipaksa bekerja baik dengan alasan membantu perekonomian keluarga atau mewujudkan impian orang tuanya bahka lebih fatal lagi berasumsi tidak berbakat menjadi ibu rumah tangga karena mereka terbiasa sebagai wanita karir. Akhirnya melalaikan kewajiban mulia sebagai seorang ibu.

Negara menambah kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat dengan penetapan aturan interaksi antara masyarakat dengan menyongsong pilar kebebasan. tayangan-tayangan media eloktronik yang kurang mendidik bahkan vulgar dan terkesan sengaja dijadikan contoh dan menjebak atau menjerat generasi kekinian pada kehidupan pergaulan bebas serta lingkungan yang rusak.

Meningkatkan taraf hidup dan merubah pola pikir masyarakat bukan dengan jalan megucilkan serta menyalakan aturan/ajaran agama tertentu atau mengulangi kesalalahan yang sama dengan dalil membuat program baru yang dapat membawa perubahan, tetapi ujung-ujungnya rakyat harus membayar mahal karena menguras kas Negara, tetapi cara yang ditempuh tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya.

Jauh sebelum NKRI ini terbentuk dengan segudang aturan yang tentunya disadur ulang dan sedikit mendapatkan tambahan bumbu pelengkap sebagai pemanis, seribu empat ratus tahun yang lalu Baginda yang mulia datang dengan Islam sebagai risalah dan problem solving bagi seluruh umat manusia.

Untuk mengatur interaksi antara lawan jenis (laki-laki dan perempuan), supaya tetap terjalin interaksi yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, Islam mengatur sistem pergaulan antara laki-laki dan perempuan dengan begitu terperinci.

Dalam Islam kehidupan laki-laki dan perempuan itu terpisah, kecuali hukum syariah memperbolehkannya (muamalah dll). Perempuan dalam Islam sangat di muliakan. Perempuan dalam Islam tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya, karena mereka menjadi tanggung jawab mahrom mereka (ayah, saudara laki-laki, suami, anak laki-laki). Perempuan dalam Islam tidak bisa disentuh atau di liat auratnya oleh laki-laki yang bukan mahromya.

Salah satu bentuk penjagaan atau pemuliaan terhadap muslimah, adalah memberikan perlindungan terhadap perempuan, menjauhkanya dari bahaya yang mengancam kehormatan serta menjauhkannya dari fitnah. Yang dapat menimbulkan fitnah serta membahayaka kehormatan perempuan adalah membiarkan perempuan melakukan safar tanpa didampingi mahrom.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda yang artinya, “ Tidak halal bagi seorang muslimah, bersafar yang jauhnya sejauh perjalanan sehari semalam, kecuali bersama laki-laki yang merupakan mahromnya.” (HR. Muslim no.1339).

Tanggungjawab mahrom (ayah dan saudara laki-laki) kepada anak/saudarinya bukan semata memenuhi kebutuhannya, menemani perjalanannya, tetapi sampai mencarikan jodoh/pasangan yang terbaik untuk anak/saudarinya. Mencari jodoh bukan semata melepaskan tanggung jawab atau mengurangi beban, tetapi memindahkan tanggung jawab kepada lelaki yang pantas untuk meneruskan kewajiban.

Para ayah diperintahkan untuk mencari lelaki sholeh yang aqida dan akhlaknya baik untuk dinikahkan dengan putrinya, bertanggung jawab dunia akhirat, begitulah Islam memuliakan perempuan, sehingga jika Islam diterapkan secara kaffah, tidak akan kita dapati kasus kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan karena mereka begitu dilindungi dan dihormati.

Wallahu a’lam bishshawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations