Oleh : Eviyanti
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Dilansir oleh idntimesjabar.com, Selasa (14/07/2020), Dinas Pendidikan Kota Bandung menyebut ada 9,2 persen siswa dari 300 ribu siswa TK, SD dan SMP yang terkendala akses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Bahkan, ada satu keluarga yang hanya memiliki satu handphone sebagai perangkat yang digunakan untuk PJJ. "Ada satu keluarga yang punya handphone hanya bapaknya dan saat di jam ayahnya bekerja dia tidak bisa mengerjakan karena tidak punya alat daring," ujar Kepala Seksi Kurikulum PP SMP, Bambang Ariyanto, saat ditemui di Balai Kota Bandung, Selasa (14/07/2020).

Dengan keadaan tersebut, Disdik mengizinkan dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) digunakan bagi guru dan siswa yang kurang mampu, untuk membeli kuota internet yang nantinya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung di Kota Bandung. "kuota internet, sekolah menganggarkan dari dana BOS untuk anak tidak mampu. Pemkot Bandung juga menganggarkan untuk guru honorer TK, SD, SMP sebesar 165 miliar dari APBD, ungkapnya.

Komentar politik :

Adanya penyebaran Covid-19 ini, berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Apa daya, kita tidak pernah menghendaki wabah penyakit ini. Berdasarkan data Kemdikbud, lebih dari 160 pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi mengeluarkan surat edaran KBM di kelas. Siswa dan guru diminta melakukan aktivitas belajar mengajar dari rumah. Belajar jarak jauh pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Untuk ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyediakan aplikasi dan laman Rumah Belajar sebagai sarana pendukung belajar di rumah.

Namun faktanya, proses belajar di rumah penuh dinamika. Mulai dari guru yang memberikan tugas kepada siswa tanpa bimbingan. Biaya yang dikeluarkan untuk internet, karena tidak semua orangtua mampu. Untuk sekedar bisa bertahan di tengah wabah dengan ekonomi sulit seperti sekarang ini pun sudah sangat bersyukur. Seperti contoh kasus diatas. Dan permasalahan lain adalah masih banyaknya daerah yang belum atau tidak terakses internet, untuk bisa mengikuti pembelajaran secara daring atau online.

Ini yang terjadi ketika sistem kapitalis yang berkuasa, membuat suatu kebijakan tidak dicermati dan dipikir baik dan buruknya secara keseluruhan. Dengan menerapkan pembelajaran secara daring/online seperti sekarang ini, nyatanya masih banyak siswa yang tidak terakses.

Namun, sistem Islam mempunyai solusi atas permasalahan ini. Dimana dalam Daulah Islam yakni negara khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa, dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisasi. Berbeda dengan kondisi saatini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi. Padahal, pembelajaran jarak jauh telah cukup banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Hanya saja, kapitalisme telah membelenggu banyak kalangan dari mengenal dan menggunakan teknologi ini. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu.

Dalam sejarah, negara khilafah dikenal sebagai negara maju yang menguasai jagad teknologi. Berbagai penemuan teknologi dilakukan oleh kaum muslim. Hal ini karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan mengembangkan ilmunya. Negara pun mendukung sepenuhnya.

Belajar di rumah dalam khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown. Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pokok, negara khilafah juga mampu memberikan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Negara menyediakan platform pendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya).

Walhasil, semua kebutuhan belajar di rumah tidak ada kendala, karena negara men-support penuh semua kebutuhan tersebut. Yakni, negara yang menerapkan syariat Islam.

Wallahu a'lam bishshawaab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations