Oleh: Maman El Hakiem

Secara linguistik, jenuh berbeda dengan malas, meskipun keduanya keadaan yang harus segera di atasi.

Malas biasanya sikap sebelum berbuat, bahkan tidak mau berbuat apa-apa. Sedangkan, perasaan jenuh muncul karena telah berbuat, namun tidak mampu untuk melanjutkan sampai tujuan cita-citanya. Ibarat sebuah perjalanan, dakwah adalah jalan panjang kehidupan. Siapapun yang menempuh jalan dakwah, tentu akan menghadapi aral rintangan, ujian kesabaran dan ketahanan mental.

Besarnya ujian dan rintangan seiring mulianya tujuan perjalanan. Yang perlu dipersiapkan bukan sekadar modal kemauan, melainkan sikap kesabaran dalam mengarungi terjalnya medan dakwah. Menyeru kepada jalan Allah SWT artinya menyampaikan apa-apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Seruan dakwah tidak serta merta gayung bersambut, namun sebuah proses kesadaran dan pemahaman manusia dalam waktu yang cukup lama.

Begitulah yang dialami baginda Nabi Saw. pertama kali memulai jalan dakwah, hanya beberapa orang saja yang tersadarkan dan mau mengikuti jalannya. Mereka yang menghadiri halaqah di rumah Arqam sebagai titik awal menumbuhkan kesadaran umat agar faham tentang aturan Allah SWT yang harus diterapkan dalam kehidupan.

Itulah proses yang yang harus ditempuh, tidak terbatasi  lamanya waktu. Maka, sebenarnya kita hanya dituntut untuk menjalani prosesnya, bukan menuntut kapan hasil akhirnya. Inilah tahapan dakwah yang membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi. Saat kita merasakan kejenuhan, tetaplah berbaik sangka akan janji kemenangan dari Allah SWT.

Para sahabat Nabi Saw. tentu merasakan pula titik jenuh, namun karena dakwah mereka adalah dakwah berjamaah, rasa jenuh itu terobati dengan perasaan kejamaahan dan harapan pasti karena Allah SWT selalu bersamanya. لصَّابِرِينَ مَعَ اللهَ إِنَّ وَاصْبِرُوا…

“…Dan bersabarlah kalian, karena Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal : 46)

Kesabaran, inilah kunci untuk mengusir rasa jenuh dalam dakwah. Apa karakter orang yang sabar itu? 

Kesabaran itu bukanlah sikap pasif, menahan diri namun tidak berkreasi. Tetapi, sabar itu produktif, terpancar dari para pengemban dakwah yang senantiasa di hatinya memiliki rasa optimisme dan selalu membuat semangat perubahan yang lebih baik. Sabar itu seperti para pendaki gunung yang terus memilih jalan menanjak daripada turun ke bawah, karena dibenaknya tergambar indahnya pemandangan saat telah sampai di puncak kemenangan.

Wallahu’alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations