Oleh : Haura Az-Zahra

Lagi-lagi stateman yang dilontarkan oleh Mentri Agama, Fachrul Razi menimbulkan polemik di tengah-tengah umat. Sebagaimana diketahui Menag kerap kali menyampaikan narasi tentang radikalisme yang ujung-ujungnya menyudutkan umat Islam

Setelah sebelumnya pada bulan November 2019 lalu mempermasalahkan cadar dan celana cingkrang di kalangan ASN, kini Menag menyinggung tentang ciri-ciri orang yang memiliki paham radikal salah satunya adalah berpenampilan good looking, hafal Al-Qur’an dan pandai bahasa Arab.

Seperti yang dilansir pada laman merdeka.com (4/9/20), Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi mengungkap cara penyebaran paham radikalisme di lingkungan Kementerian dan BUMN. Fachrul menuturkan, salah satu polanya melalui orang berpenampilan menarik. Beradaptasi hingga menjadi pengurus masjid. "Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz,mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan," kata Fachrul dilihat dari YouTube Kemen PAN-RB, Jumat (4/9).

Pernyataan Menag tersebut memantik polemik yang menuai kritik dan kencaman dari berbagai pihak, salah satunya MUI. Wakil Ketua MUI, Muhyiddin Junaidi meminta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam (detiknews.com 4/9/20). Kritik juga disampaikan oleh Ketua Komisi VIII, Yandri Susanto yang menilai pernyataan tersebut seolah-olah menggambarkan bahwa orang-orang yang menguasai agama Islam dan hafal Al-Qur'an sebagai kelompok radikal. Padahal, para penghafal Al-Qur'an bukan radikal, tapi justru sedang mengamalkan ajaran agama (cnnindonesia.com 9/9/20).

Isu radikalisme yang digelontorkan rezim hari ini, kerap kali terjadi tidak hanya saat ini. Pasalnya, umat muslim yang selalu disudutkan dengan cap radikalismenya. Demi mencegah penyebaran paham radikalisme, dibuatlah kebijakan-kebijakan yang menuai pro dan kontra, salah satu kebijakan yang di wacanakan adalah sertifikasi penceramah (cnnindonesia.com 3/9/20). Selain itu kebijakan seleksi masuk Calon Pegawai Negri Sipil (CPNS) untuk tidak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah (cnnindonesia.com 2/9/20).

Jika kita cermati, apa sebenarnya makna dari kata radikal ini? Istilah radikal diambil dari kata radix dalam bahasa latin yang berarti akar (wikipedia.org), jadi jika Islam dikatakan radikal sama saja mengartikan pemahaman Islam yang dalam sampai akar-akarnya. Setelah mencermati makna dan arti dari kata radikal, bukankah kita akan temukan suatu hal yang positif?

Radikal semacam ini dalam Islam sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW dan para sahabat. Rasulullah mendakwahkan dan menyampaikan Islam radikal kepada para sahabat dan masyarakat Mekah saat itu, maksudnya disini Rasulullah mengajak para sahabat untuk memahami Islam tidak hanya setengah-setengah tapi harus dalam sampai akar-akarnya, hingga Islam bisa berjaya dan membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Namun mengapa saat ini istilah radikal menjadi hal yang negatif dan sangat berbahaya bahkan menakutkan?

Inilah gambaran dari sistem sekuler (memisahan agama dari kehidupan) yang dianut oleh mayoritas negeri. Dimana umat muslim yang berislam kaffah akan dilabeli sebagai radikal yang dianggap berbahaya dan harus diwaspadai. Padahal berislam kaffah merupakan suatu kewajiban bagi setiap individu, seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 208 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Upaya musuh-musuh Islam untuk menghalangi kebangkitan Islam sangat tampak di sistem hari ini. Mereka tidak rela jika Islam kembali berjaya. Mereka tidak ingin generasi Islam bangkit, yang mereka inginkan agar generasi Islam tidur nyenyak dan merasa tidak peduli dengan agamanya sendiri. Dibuatlah narasi-narasi yang menakutkan tentang Islam, seorang hafidz Qur’an dan pandai bahasa Arab dicap radikal, wanita menutup aurat dan bercadar dicap radikal, mengancam negara dan seolah-olah orang yang menyampaikan Islam kaffah harus diwaspadai. Dari narasi tersebut membuat para pemuda muslim menjauhi agamanya sendiri dan merasa takut untuk berislam kaffah.

Berbeda dengan sistem Islam, dalam Islam justru sangat menganjurkan umatnya untuk senantiasa berpenampilan good looking atau berpenampilan menarik. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup bersih. Selain itu menghafal Al-Qur’an dan bisa berbahasa Arab juga merupakan bagian dari perintah Allah SWT, agar umatnya bisa lebih dekat serta lebih mudah memahami agamanya.

Dalam sistem Islam juga mewajibkan bagi setiap individu umatnya untuk memahami Islam secara kaffah dan menyampaikannya di tengah-tengah umat. Seperti dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104 yang artinya “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Sejarah juga mencatat bagaimana pemuda pada zaman Rasulullah dan para sahabat yang dinaungi dengan sistem Islam, mencetak para pemuda yang menjadi pejuang Islam Kaffah. Seperti Saad bin Abu Waqqash pada saat usia 17 tahun untuk yang pertama kalinya mampu melontarkan anak panah di jalan Allah. Selain itu ada Arqam bin Abi Arqam saat usianya 16 tahun menjadikan rumahnya sebagai tempat dakwah pertama Rasulullah SAW selama 13 tahun lamanya, kemudian ada Muhammad Al-Fatih saat usianya 22 tahun sudah mampu menaklukan Konstatinopel dan lain sebagainya.

Lantas kenapa kita mesti takut dengan isu-isu radikal yang disematkan kepada umat muslim? Agenda deradikalisasi yang digaungkan rezim hari ini, hanyalah sebuah kedok untuk menghambat kembali tegaknya sistem Islam, yang mesti kita lakukan saat ini adalah fokus terhadap apa yang bisa kita lakukan untuk dapat membangkitkan kembali kejayaan Islam. 

Allahu Akbar!! Wallahu’alam..

YOUR REACTION?

Facebook Conversations