Oleh: Rizki Aulia Rahma

Insiden Bom di gereja kembali terjadi. Kali ini terjadi di Gereja Katedral Makassar Sulawesi Selatan pada hari Ahad, tanggal 28 Maret lalu. Pelakunya disebut tergabung dalam Jemaah Ansharud Daulah (JAD).

Dalam peristiwa ini, dua orang yang diduga merupakan pelaku tewas sedangkan belasan korban termasuk petugas keamanan gereja mengalami luka-luka (Kompas.com, 30/3/21)

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melalui akun twitternya, memberikan tanggapan terkait peristiwa di depan Gereja Katedral Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Ahad, 28 Maret 2021 itu sebagai upaya adu domba. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak serta merta mengaitkan aksi itu dengan agama tertentu.

“Boleh jadi tindakan bom tersebut merupakan bentuk adu domba, memancing di air keruh, dan wujud dari perbuatan teror yang tidak berkaitan dengan aspek keagamaan,” tulisnya.

Insiden Bom bunuh diri memang sering berulang. Sayangnya peristiwa ini seringkali di lekatkan dengan Islam. Pelaku sering diindentikkan dengan muslim yang taat, keluarga aktivis, simbol-simbol Islam, buku-buku bahkan Al-Qur’an sebagai barang bukti. Insiden yang terus berulang ini seolah menjustifikasi bahwa terorisme adalah masalah besar bagi negeri ini. Jika memang benar seperti itu, penguasa harusnya mengambil langkah yang tepat untuk memberantasnya secara tuntas sehingga bom bunuh diri tidak terus berulang.

Sayangnya langkah yang di tempuh penguasa bukannya menyelesaikan persoalan, namun justru memunculkan masalah yang serius. Densus 88 sebagai representasi penguasa misalnya dalam penanganan terorisme seringkali melanggar penerapan prinsip keadilan. Mekanisme tangkap selidiki tanpa bukti yang jelas seringkali terjadi.

The Islamic Study and Action Center (ISAC) mencatat ada sekitar 96 nama yang masuk dalam daftar korban kekejaman Densus 88 sejak lembaga tersebut dibentuk hingga 2016. 

Saling curiga di tengah masyarakatpun tidak dapat di hindari akibat carut marutnya penanganan masalah ini. Terutama terhadap mereka yang terlihat Islami. Ibarat penyakit, Islamphobiapun menjangkiti umat Islam dan generasi kaum Muslim sendiri.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla dan dibawa oleh  Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi wa Sallam. Islam menjadi rahmat bagi semesta Alam yang terwujud saat di terapkan dalam segala aspek kehidupan dalam sebuah negara yang di sebuat sebagai Negara Khilafah. Islam menjamin terpeliharanya harta, kehormatan, darah, dan jiwa warga negaranya. Islam sangat tegas melarang pembunuhan tanpa alasan yang benar. Jaminan ini berlaku juga bagi non Muslim. Ini bukanlah cerita tanpa bukti, Tapi sebuah realita yang benar adanya. Islam pernah diterapkan selama kurang lebih 13 abad. Menaungi belahan barat hingga timur dunia dengan warga negara yang beragam adat, budaya, bahasa dan agamanya. Islam berhasil mencapai puncak kejayaan saat dunia dalam kegelapan. Cahayanya menaungi manusia dan mewujudkan kesejahteraan padanya. Tentang keamanan, tidak perlu ditanya. Rasulullah Sallahu ‘Alayhi wa Sallam sebagai Rasul dan Nabi terakhir sekaligus kepala Negara yang memimpin daulahIslam di Madinah kala itu telah bersabda:

 “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i)

Warga negara Daulah Islam, kafir muahad (kafir yang bukan warga negara tetapi terikat perjanjian dengan Daulah Islam) pun mendapatkan perlakuan istimewa. 

Siapa saja yang membunuh kafir muahad, dia tidak akan mencium bau surga, padahal sungguh bau surga itu bisa dirasakan dari jarak perjalanan 40 hari.” (HR Muslim)

Jaminan kemanan yang luar biasa yang diberikan Daulah/Khilafah Islam yang menerapkan syariat Islam diakui oleh sejarawan dan cendikiawan Barat. Will Durant misalnya, berkomentar, “Para Khalifah telah memberikan rasa aman kepada manusia (Muslim dan non-Muslim) hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka…” (Will Durant — The Story of Civilization).

Sebagai sebuah Ideologi, Islam mengatur segala aspek kehidupan seperti bermasyarakat maupun bernegara. Aturannya terbukti dapat menjadi solusi atas semua permasalahan yang disebabkan perbuatan tangan manusia yang melampaui batas. Ketika saat ini dunia dilanda persoalan ekonomi, jurang ketimpangan sosial begitu dalam akibat penerapan sistem kapitalisme maka di dalam sistem ekonomi Islam sumber daya alam dipandang sebagai harta kekayaan milik umum yang harus dikelola negara dan haram diprivatisasi. Begitupun sekelumit persoalan lainnya dapat diselesaikan oleh Islam. Sudah saatnya Kaum Muslimin berjuang untuk mengembalikan Islam dan menerapkan aturan Islam dalam naungan Daulah khilafah Islamiah. Serta mencampakkan sistem kapitalisme yang telah melahirkan persoalan yang tidak berujung hingga saat ini.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations