Oleh : Yayah Rokayah, Amd.,Keb.

Pandemi virus corona belum berakhir , perhatian masyarakat Indonesia tertuju pada pandemi covid – 19, padahal ada virus lain yang sejak tahun 1987, jadi masalah besar di Indonesia yaitu HIV/AIDS.

HIV (Human Immunodeficiensy Virus) adalah sejenis virus yang menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh sedangkan  AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV. Sejak masa pandemi covid -  19 seakan tenggelam, padahal penyebarannya terus terjadi.

Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, Ditjen P2P (Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) yang bersumber IMA (Infeksi Menular Seksual) SIHA (Sistem Informasi HIV/AIDS ) tahun 2019, jumlah Infeksi HIV di Indonesia adalah sebanyak 50.282 jiwa  (Provinsi Lampung : 568) sedangkan penderita AIDS di Indonesia 7036 jiwa, (Provinsi Lampung : 143), penderita HIV/AIDS tersebar di seluruh provinsi yang ada Indonesia. Dalam keterangannya presentase HIV/AIDS yang dilaporkan berdasarkan jenis kelamin bahwa kasus HIV dan AIDS pada laki – laki lebih tinggi dari perempuan, dimana 64,59% kasus HIV adalah pada laki – laki begitupun kasus AIDS,  68,60% adalah laki – laki. Adapun berdasarkan kelompok umur dengan sumberdata yang sama, penderita infeksi HIV pada tahun 2019 adalah usia 25 – 49 tahun (usia produktif).

Sungguh sangat miris, sejatinya diusia produktif itu seorang pemuda menjadi sosok yang kuat,tangguh, tumpuan harapan keluarga, masyarakat, bangsa dan agama, tetapi ini harus berjuang melawan penyakit yang sangat berat, bagaimana akan melaksankan perannya sebagai seorang ayah, seorang suami, jika merekapun memerlukan bantuan untuk menjalankan kehidupannya kepada orang – orang disekitarnya.

Kasus penderita HIV/AIDS, ibarat  sebuah fenomena gunung es dimana jumlah kasus HIV/AIDS, sangat jauh dengan komparasi (perbandingan) data yang sebenarnya yang berada di lapangan. Hal ini terjadi karena, kebanyakan dari individu tidak terbuka dengan status HIV/AIDSnya, sebab  adanya stigma negatif di masyarakat, begitupun seseorang yang terinfeksi HIV /AIDS tidak mengetahui, bahwa dirinya terkena infeksi HIV/AIDS, dikarenakan gejala HIV/AIDS umumnya tidak akan langsung muncul setelah pertama kali terinfeksi virus. Dua kondisi tersebut menyebabkan data penderita HIV/AIDS tidak terlacak,sehingga angka yang ada di lapangan kemungkinan besar masih bisa bertambah dari angka yang tercatat, bahkan bisa berkali lipat. Dan perlu diperhatikan ODHA ( Orang Dengan HIV/AIDS ) yang tidak terdeteksi ini jadi mata rantai penularan HIV/AIDS di masyarakat, karena mereka tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS, ini terjadi karena tidak ada tanda dan gejala atau ciri – ciri yang khas pada fisik ODHA dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang khas.

Menanggapi hal ini, ketua tim HIV terpadu (Rumah Sakit Universitas Indonesia) Dr. dr. Alvin Widhani, SpPD, KAI, menyatakan bahwa jumlah infeksi penularan HIV di Indonesia, diprediksi akan meningkat pada tahun depan, pada tahun 2020, terjadi penambahan 46 ribu kasus baru, tahun depan bisa diperkirakan terjadi peningkatan kasus baru atau kurang lebih sama, beliau mengatakan ada dua faktor yang menyebabkan tetap tinggi atau meningkatnya kasus HIV/AIDS , yaitu penularanan melalui penggunaan jarum suntik pada pemakaian narkoba dan prilaku seksual yang bebas. Perlu diketahui penularanan HIV /AIDS yang paling utaman itu adalah melalui hubungan seksual dan pemakaian jarum suntuk yang bergantian.

Berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah  untuk menekan jumlah kasus HIV/AIDS salah satunya adalah teori ABCDE, teori ini disosialisasikan sebagai cara pencegahan HIV/AID,  melalui beberapa langkah yaitu  :

·         A = Abstince (tidak berhubungan sek diluar nikah), jika tidak mampu untuk melakukan langkah ini, maka ada langkah yang kedua yaitu,

·         B = Be Fithful (saling setia pada pasangan/tidak boleh berganti – ganti pasangan), jika tidak mampu melakukan langkah yang ke dua, maka ada  langkah yang ketiga,

·         C = Condom, diyakini kondom adalah salah satu alat yang mampu mencegah penularan virus HIV/AIDS jika berhubungan. 

·       D= Don’t use drugs, tidak memakai narkoba.

·       E  = Equipment, mempergunakan alat – alat yang steril ketika melakukan tindakan medis dan sejenisnya.

Selain teori ABCDE dilakukan pula peningkatan deteksi lebih dini untuk menjaring kasus HIV/AIDS, serta berbagai upaya pengobatan semakin ditingkatkan, akan tetapi kasus penderita HIV/AIDS terus meningkat. Dalam teori ABCDE, ketika kita cermati seolah ada pilihan bagi para pelaku sek bebas, seolah prilaku itu dapat terlaksana dengan resiko yang minimal, sesungguhnya akar permasalahan dari terjadinya peningkatakan kasus HIV/AIDS ini adalah sek bebas itu sendiri  yang merupakah buah pemikiran sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan), yang menjadikan kehidupannya tidak mau diatur oleh agama, dengan demikian akan muncul suatu faham liberalisme (kebebasan), dalam seluruh asfek kehidupan, dalam hal ini bagaimana terjadi kebebasan dalam memenuhi naluri seksual, yang sejatinya naluri yang di berikan oleh oleh Allah yang Maha Pencipta, bukan semata– mata untuk memuaskan hasrat seksualnya, tetapi ada tujuan lain yang lebih mulia, yaitu untuk melestarikan keturunan.

Pemenuhan naluri seksual akan menjadi ibadah (bernilai pahala) jika memenuhi aturan yang disyari’atkan oleh agama, yaitu melalui pernikahan dengan pasangan yang sah. Munculnya interaksi yang bebas dalam pergaulan antara laki – laki dan perempuan, bahkan memperbolehkan hubungan sesama jenis (Na’udzubiliah min dzalik), semua itu adalah buah dari pemikiran sekulerisme. Sex bebas adalah faktor utama penularan  HIV/AIDS, pergaulan bebas antara lawan jenis, bahkan sesama jenispun. 

Bagaimana islam memberikan solusi dalam  memecahkan permasalahan ini ? ada 3 (tiga) aktivitas :

1.     Aktivitas pencegahan meliputi;

·        Penancapan aqidah dan membangun ketaqawaan individu, yang akan dimualai dari keluarga, pendidikan formal, masyarakat dan negara.

·       Larangan berkhalwat (berdua – duaan) antara laki – laki dan perempuan, dari Ibnu Abbas, Rosulullah SAW berkhotbah, “ Janganlah seorang laki – laki bersama dengan seorang perempuan, melainkan (hendaklah) ada mkhromnya, dan janganlah besafar (bepergian) seorang perempuan melainkan dengan mahramnya.”

·       Larangan berzina yang akan dibuat oleh negara dengan merujuk kepada dalil yang ada dalam Al qur’an, sebagaimana Allah SWT, berfirman dalam QS  : An –Nur  : 2

ٱلزَّانِيَةُوَٱلزَّانِى فَٱجْلِدُوا۟ كُلَّ وَٰحِدٍ مِّنْهُمَا مِا۟ئَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَاتَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَبِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama ( hukum) Allah

jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. QS Al Isra : 32, Allah berfirman yang artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.

·       Larangan Homoseksual dan sejenisnya ( LGBT ), sebagaimana Allah berfirman dalam QS AL A’raaf : 81, yang artinya “ Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian  (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas “

·       Kontrol masyarakat /negara yang ketat , untuk beramar ma’ruf nahi mu’ngkar, ketika melihat lingkungan/ situasi /sosial media yang mendekati zina dan mengumbar syahwat yang menumbuh suburkan kemaksiatan, termasuk tidak mefasilitasi lokalisasi/prostitusi.

2.     Aktivitas Kuratif ( Pengobatan ) :

·       Melakukan pengobatan kepada setiap individu yang terkena dengan tuntas, sesuai dengan standar medis, karantina.

·       Memberikan hukuman kepada individu yang terkena HIV/AIDS karena berzina, dengan menjilidnya 100 kali bagi yang belum menikah dan merajamnya bagi yang sudah menikah.

·       Bagi pelaku homoseksual (liwath), hukumannya lebih berat dari yang berzina, Baihaqiy mengeluarkan hadist dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau ditanya tentang had pelaku liwath, beliau berkata, “Jatuhkanlah dari atas bangunan yang paling tinggi disuatu daerah, kemudian hujanilah dengan lemparan batu."

Perlu diketahui hukuman yang diberikan dalam islam bersifat jawabir (penghapus dosa ketika di dunia) dan jawazir (pencegah terjadinya tindakan kriminal yang baru).

3.     Aktivitas Rehabilitatif ( Pemulihan )

·       Aktivitas karantina bagi individu HIV/AIDS, bertujuan untuk mencegah penularan, ODHA tidak diperkenankan untuk berkeluyuran/ beraktivitas bebas, ODHA akan tetap berinteraksi dalam pengawasan, segala kebutuhannya akan dipenuhi.

·       Memberikan edukasi yang bersifat spiritual untuk meningkatkan ketaqwaan , motivasi yang bersifat penyemangat, meningkatkan skill, menumbuhkan rasa percaya diri untuk menjalankan aktivitas dalam kehidupan sehingga tidak terpuruk dengan kondisi masa lalu ODHA.

Sungguh sempurna islam, ketika memecahkan permasalahan kehidupan, akan memberikan ketenangan kepada pemeluknya dan lingkungan sekitarnya, mengundang Rahmat dari sang Maha Pemelihara Mahkluk –Nya, Allah SWT  dan semua ini akan terealisasi dalam naungan Khilafah Islamiah An Nubuwwah.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations