Oleh : Ita Harmi
Pemerhati Sosial dan Politik

Bila di Prancis sedang menghangat dengan aksi sang Presiden muda, Emmanuel Macron, yang melarang pemakaian hijab di kampus-kampus, serta terbitnya kembali penghinaan atas Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdoo, menjelang jatuhnya peringatan Maulid Nabi 1441 H ini, di Indonesia tengah viral film pendek bertema nasionalisme yang dibenturkan dengan radikalisme menurut terjemahan pemerintah.

Film ini beredar beberapa hari yang lalu dikanal youtube. Pengunggah film ini berasal dari ormas islam terbesar di Indonesia. 

Dalam film pendek tersebut dikisahkan ada dua kelompok pemuda dan pemudi yang mengusung dua bendera. Kelompok pertama mengusung merah putih yang menurut penafsirannya adalah bentuk kecintaan terhadap Indonesia. Sedangkan kelompok satu lagi mengusung panji rasulullah yang berwarna putih, dikenal dengan sebutan al liwa'. Saat dua kelompok pemuda ini bertemu, terjadilah aksi perkelahian, hingga dicopotnya cadar seorang muslimah pengusung panji rasul, lalu dicampakkan dengan penuh kebencian, karena pengusung merah putih beranggapan bahwa pengusung panji rasul ini adalah kelompok radikalisme yang harus ditumpas. Secara keseluruhan, film ini menggambarkan bahwa seolah-olah radikalisme yang dimaksud adalah Islam yang tidak mengusung merah putih. 

Jelas sekali ini adalah bentuk adu domba sesama muslim di Indonesia. Padahal ormas terbesar ini dahulunya adalah salah satu ormas yang getol menyuarakan Islam ditengah umat saat negeri ini dikuasai oleh penjajah Belanda. Besar kemungkinan, ormas ini sudah ditunggangi oleh oknum-oknum yang ingin memecah belah kaum muslim di Indonesia. Sebab dari awal berdirinya saja, ormas ini sudah sangat jauh melenceng dari cita-cita pendirinya. 

Apabila Islam memang dianggap biang radikalisme, lalu Islam seperti apa yang mereka sandang? Bukankah pembuat dan pemeran film juga menginterpretasikan dirinya sebagai muslim? Sebagai orang yang mengaku muslim, bukankah seharusnya mereka mencintai saudara sesama muslimnya? Sebab pesan Nabi, umat ini adalah satu tubuh, bila salah satu diantaranya sakit, maka seluruh tubuh juga akan ikut merasakannya. 

Bila Islam memang dianggap sebagai sumber radikalisme, apakah mereka lupa, bahwasanya pekikan takbir mengiringi perjuangan rakyat selama perang melawan penjajah? Bung Tomo saat melawan agresi Belanda di Surabaya, membangkitkan semangat juang rakyat justru dengan takbir. Bahkan sampai hari ini, tidak pernah ada bukti autentik bahwa pahlawan nasional semisal Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar dan istrinya Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, dan para sultan disepanjang Sumatera sampai Halmahera, serta yang sezaman dengan mereka, mengusung merah putih saat melawan penjajah. Justru mereka adalah para ulama yang berjuang bersama rakyat atas dasar keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pemahaman inilah yang dicoba untuk dibelokkan oleh oknum-oknum ini. Padahal ungkapan sosok yang dianggap sebagai Founding Father nya negara ini berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Lantas beginikah cara menghargai jasa para pahlawan? 

Lebih dari itu, yang membuat para pahlawan nasional tadi sampai berani menggadaikan leher mereka dalam perjuangan mengusir penjajah adalah tidak lain karena ajaran mulia yang disebarkan oleh Rasulullah Muhammad Sholallahu 'alaihi wassalam ke seluruh penjuru dunia. Maka seharusnya rakyat di negara berterima kasih pada beliau sholallahu 'alaihi wassalam karena telah menghasilkan sosok-sosok yang berani dan lantang melawan kedzaliman. 

Maka menjadi mudah untuk ditebak bahwasanya nasionalisme adalah produk asing yang disusupkan ke benak kaum muslim. Dengan nasionalisme mereka menanamkan cinta buta terhadap negara. Dengan nasionalisme mereka mengkotomi siapa saja yang tidak mengusung merah putih adalah golongan radikal, anti pancasila, penumpang gelap, dan cacian semisalnya. Dengan nasionalisme pula mereka menjadi tidak peduli dengan nasib kaum muslim yang berada diluar teritorial negara. Yang mereka cintai hanya terbatas pada apa saja ada didalam dashline yang tertulis di peta dunia. Maka dari itu, kecurigaan patut atas mereka yang menyombongkan diri dengan nasionalisme. Harus ditelusuri untuk apa dan untuk siapa mereka bergerak. 

Padahal Rasulullah sendiri juga mencintai Makkah sebagai kampung halamannya. Itulah kenapa setelah mendapatkan amanah untuk menjadi pemimpin kaum muslim di Madinah, kota selanjutnya yang segera dibebaskan beliau dari kekufuran terhadap Allah adalah Makkah, sebagai kecintaannya terhadap negerinya. 

"Ya Allah, cintakanlah kepada kami kota Madinah sebagaimana cinta kami kepada Makkah, bahkan lebih." (HR. Bukhari)

Hal ini bukan berarti Rasulullah berjiwa nasionalisme. Akan tetapi beliau berbuat demikian karena lillah hanya karena dorongan iman kepada Allah saja. Beliau juga membebaskan negeri-negeri lain, tidak terbatas di jazirah Arab saja. Sebab sejatinya, dimana ada kekufuran, disitulah ada kedzaliman. Setiap sudut dibumi ini berhak untuk mendapatkan cahaya Islam. Inilah bentuk kepedulian beliau yang harus diteladani oleh umatnya, dimana rasa peduli tidak terbatas oleh zona teritorial. 

Islam adalah rahmatan lil'alamin. Ini bukan klaim sepihak dari manusia. Akan tetapi yang Menciptakan Islam itu sendiri yang berkata demikian, yakni Allah Subahahu wa Ta'ala. 

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (TQS. Al Anbiyaa' : 107)

Inilah jaminan yang langsung datangnya dari Allah Ta'ala. Maka adalah hal yang sangat tidak mungkin bila Islam dituding sebagai sumber kekacauan dan terpecah belahnya negeri ini. Justru kecurigaan harus ditempatkan kepada manusia-manusia yang selalu menggembosi ajaran Islam. 

Adanya kejadian ini tentu tak lepas dari hilangnya negara sebagai perisai bagi Islam. Sebagaimana yang dituliskan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya al-Iqtishaad fii al-I'tiqaad hlm. 128 mengumpamakan diin dan kekuasaan (kepemimpinan), sebagai saudara kembar,

"Al-Diin itu asas dan penguasa itu penjaganya, maka apa-apa yang tidak ada asasnya maka ia akan roboh dan apa-apa yang tidak ada penjaganya maka ia akan hilang."

Hari ini kaum muslim tak lagi berada dalam kepemimpinan Islam. Itulah mengapa agama ini mudah sekali untuk dihina, diolok-olok oleh pembencinya dimanapun mereka berada. Karena itu, menjadi sebuah kewajiban untuk menghadirkan sebuah negara dimana Diin ini sebagai landasannya, agar kedzaliman bisa dihapuskan dan keadilan bisa ditegakkan. 

Wallahu a'lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations