Oleh : Dwi Sarni
Aktivis Muslimah Jakarta

Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dirombak oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud).

Perubahan kurikulum ini disesuaikan dengan program link and match.  

Ada lima aspek yang mengalami perombakan,  diantaranya :

1. Mata pelajaran yang bersifat akademik dan teori akan dikontekstualisasikan menjadi vokasional, misalnya matematika dan Bahasa Indonesia akan menjadi matematika terapan dan Bahasa Indonesia terapan.

2. Praktik kerja industri (Prakerin) atau magang dilakukan minimal satu semester atau lebih. 

3. Ada mata pelajaran berbasis proyek (project base learning)  dan kewirausahaan. 

4. Sekolah mengadakan mata pelajaran pilihan 3 semester, contohnya siswa otomotif mengambil pelajaran marketing. 

5. Terdapat co-curricular wajib tiap semester seperti membangun desa dan pengabdian masyarakat (Detiknews, 09/01/2021).

Menjadikan jam belajar lebih banyak di lapangan. Magang biasanya hanya dua sampai tiga bulan saja,  diubah menjadi minimal enam bulan.  Ini dapat berdampak pada semangat belajar siswa. Fakta di lapangan jika sudah nyaman di dunia kerja/ industri maka akan malas dengan pelajaran sekolah. 

Pelajaran pilihan ini tidak nyambung. Contoh siswa jurusan otomotif mengambil mata pelajaran marketing dengan waktu tiga semester. Ini seperti jaka sembung naik ojek alias tidak nyambung jek. Memang betul jika memahami illmu dalam berbagai bidang itu bagus,  tapi jika seperti ini yang ada siswa jadi tidak menguasai bidang yang menjadi jurusan utamanya. 

Konon perubahan kurikulum ini tujuannya baik,  yaitu supaya keterserapan lulusan peserta didik lebih optimal dunia industri.  Namun,  jika kita telaah dengan cermat ini semua menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia  khususnya sekolah kejuruan (vocational high school) mencetak generasi didiknya sebagai budak industri semata. Inilah sistem pendidikan yang berbasis kapitalisme. 

Pendidikan bergeser alih fungsi, pendidikan bukan lagi menjadi pencetak SDM berkualitas dan cemerlang,  melainkan menjadi pencetak SDM tenaga buruh industri. Sekolah bukan lagi untuk mencerdaskan anak bangsa,  melainkan sekolah mencari ijazah lulus langsung kerja. Padahal, pendidikan vokasi harusnya dirancang untuk mencetak tenaga ahli bukan tenaga kuli. 

Seringkali negara kita mendatangkan SDN ahli dari luar negeri, lantaran di Indonesia tak ada tenaga ahli.  Padahal ini akibat dari salahnya sistem pendidikan kita ditambah ketidakpercayaan negara terhadap potensi generasinya. 

SISTEM PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Kurikulum pendidikannya berasaskan akidah Islam. Tujuan pendidikan dalam islam diantaranya adalah : 

• Membentuk kepribadian Islam

Pendidikan haruslah membentuk pribadi seseorang yaitu pola pikir dan perilakunya sejalan sesuai syariat Islam. Materi pembelajarannya harus diterapkan di setiap jenjang sekolah mulai dari sekolah dasar,  menengah dan perguruan tinggi. 

• Menguasai tsaqafah Islam

Setelah kepribadiannya terbentuk dan menguasai pemikiran tsaqafah Islam,  seseorang akan terjauh dari tindak kemaksiatan kepada Allah

• Menguasai Ilmu IPTEK

Dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, para siswa akan siap berinteraksi dengan dunia industri. Mereka akan menekuni skill sesuai minatnya sebagai bekal yang bisa diberdayakan untuk masyarakat. 

Pendidikan dalam islam akan melahirkan ulama,  pemimpin dan ilmuwan yang faqih fiddin. Mendalami ilmu agama juga menguasai ilmu dunia. Sehingga ilmu duniawinya akan digunakan selaras dengan syariat Islam. 

Pada masa kejayaan islam, sudah terbukti hasil cetakan cetakan cemerlang.  Seperti Muhammad Alfatih sang penakhluk konstantinopel,  beliau manjadi panglima hebat pada usia belia. Ibnu Sina ilmuwan di bidang kedokteran yang ilmunya masih digunakan hingga saat ini.  Al-Khawarizmi sang bapak Aljabar,  beliau ilmuwan penemu teori aljabar dan penemu angka nol. Abbas bin Firnas orang pertama pembuat alat terbang seperti burung, hingga dikembangkan oleh ilmuwan setelahnya. 

Ini hanya beberapa contoh saja,  masih ada banyak profil ilmuwan hebat hasil dari sistem pendidikan Islam.  Semua bisa terwujud tak lepas dari peran negara.  Sistem pendidikan beserta penyusunan kurikulumnya tak bisa bediri sendiri.  Harus didukung dengan sistem ekonominya juga. Kita tidak bisa menjalankan sistem pendidikan Islam dengan sistem ekonomi liberal kapitalisme seperti saat ini. 

Dalam Islam pendidikan termasuk kebutuhan dasar yang wajib ditanggung oleh negara. Negara wajib menyediakan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan. Semua hanya akan terwujud dalam naungan sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations