Oleh: Siti Wilda Malik
Bogor

Viral pernyataan rektor ITK (Institut Teknologi Kalimantan) Prof. Budi Santosa Purwokartiko yang menghina kerudung muslimah dan Islam. Sang rektor mengatakan bahwa beberapa mahasiswa yang diwawancarai dalam program beasiswa LPDP tidak satupun yang berjilbab seperti halnya manusia gurun.

Ujaran Rektor ITK ini dinilai rasis dan meresahkan warga. Akhirnya ramai kecaman salah satunya dari mahasiswa ITK yang menuntut agar 7x24 jam Prof. Budi segera meminta maaf kepada publik. Namun pihak kampus pun membela bahwa itu hanyalah tulisan pribadi tidak ada kaitannya dengan tugasnya sebagai rektor ITK. 

Di dalam Islam seorang muslimah yang memakai hijab atau penutup kepala adalah salah satu bentuk kepatuhan hamba terhadap syariat agamanya. Sungguh sangat disayangkan ada seorang intelektual yang membuat ujaran berbau SARA di media sosial. Sekalipun itu di media Facebook pribadinya. 

Kesombongan sang intelektual ini yang menilai prestasi unggul itu dari prestasi akademik semata, dan jauh dari kata-kata akhirat seperti insyaallah, qadarullah adalah bukti bahwa pemahaman sekulerisme menjangkiti kaum intelektual. Sehingga pemahaman ini merusak mentalitas kaum intelektual.

Bahkan tak dipungkiri bahwa sang intelektual terjangkiti 'virus' islamofobia. Dalam sistem demokrasi yang sangat mengagungkan kebebasan berpendapat cuitan yang menyinggung SARA dapat dilindungi. Sehingga tidak memberikan efek jera kepada para penghina syariat Islam. 

Lain halnya dengan sistem Islam yang melahirkan intelektual sebagai orang-orang yang paling besar ketundukan dan rasa takutnya kepada murka Allah SWT. Di dalam Islam kaum intelektual semakin tawadhu serta berhati-hati dalam berbicara dan bersikap.

Intelektual di masa Islam berjaya tak hanya menguasai sains dan teknologi saja tapi menguasai pula beberapa bahasa dan ilmu alat untuk semakin mengenal Allah SWT dan menciptakan karya yang luar biasa. Ibnu Firnas mampu menciptakan pesawat terbang sebelum barat menemukannya, Alkhawarizmi penemu angka nol yang mempermudah dalam proses berhitung.

Jadi jangan takabur menjadi intelektual yang baru menguasai ilmu dunia. Jangan akhirnya menghina Islam begitu mudahnya. Bertaubatlah wahai intelektual yang terjangkiti virus islamofobia. Bukan menjadi kaum penyinyir yang justru kecerdasan anda nanti akan dihisab di Yaumil akhir nanti. Ya Allah jauhkan kami dari sifat sombong. Aamiin.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations