Oleh : Susi

Bupati Bandung, Dadang Supriatna mengapresiasi program dari Yayasan Ummahat Perindu Surga yang telah memberikan perhatian terhadap Guru ngaji dengan memberikan Umroh gratis.

Yayasan Ummahat Perindu Surga sangat peduli terhadap guru ngaji dengan

memberikan kesempatan Umroh terhadap Guru ngaji yang betul – betul pahlawan tanpa tanda jasa yang hadir di tengah – tengah masyarakat, tanpa harus menerima gajih.

Bupati juga berharap, kepada Yayasan yang lain agar bisa memperhatikan guru ngaji, yang sudah mewakapkan diri memenuhi panggilan suci.

Seharusnya pemerintah yang sepatutnya memberikan perhatian yang lebih besar kepada guru ngaji dengan menambah insentif/gaji dan juga memberikan umrah gratis karena hakikatnya merupakan kewajiban penguasa. Namun pemerintah hanya mengapresiasi program yayasan tanpa mengikutinya. Memang sistem kapitalisme tidak pernah berorientasi pada riayah dan tidak memberikan jaminan kesejahteraan bagi para guru.

Dalam sistem islam, posisi guru sangat dimuliakan. Kesejahteraan guru sangat diperhatikan. Tercatat dalam sejarah kegemilangannya, pada masa Khalifah Umar bin Khattab gaji pengajar adalah 15 dinar/bulan atau sekitar Rp 36.350.250,- (1 dinar = 4,25 gram ,dan jika 1 gram = Rp 570.200.-) Atau di zaman Shalahuddin Al Ayyubi gaji guru malah lebih besar lagi. Di dua madrasah yang didirikannya yaitu Madrasah Suyufiah dan Madrasah Shalahiyyah gaji guru berkisar antara 11 dinar sampai 40 dinar. Artinya gaji guru bila dikurs dengan nilai saat ini adalah Rp 26.656.850,- sampai Rp 96.934.000,- . Maka wajar para guru menjadi bersemangat dan fokus dalam mendidik generasi. Karena kualitas generasi yang akan datang, sangat ditentukan oleh peran guru dalam mendidik mereka.

Wallahu a'lam bish-shawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations