Oleh: Ita Husnawati

Sedih rasanya melihat kondisi Indonesia tanah air anugerah Allah tercinta yang kini sedang dirundung duka. Berbagai ujian menimpa negeri ini, bisnis retail mulai tumbang satu per satu, BUMN mengalami kerugian.

Pandemi Covid-19 belum juga usai, calon jama’ah haji gagal brangkat. Maluku diterjang banjir. Muncul pula wacana perluasan pajak pertambahan nilai (PPN) atas barang dan jasa yang sebelumnya termasuk bebas PPN. Teringat akan lagu karya Ismail Marjuki di masa lalu yang disendungkan sang bunda dengan diiringi petikan gitar sang ayah:

“Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati..........”

“Air matanya berlinang, ..........”

“Kini ibu sedang lara, merintih dan berdo’a ..........”

Kondisi saat ini hampir menggambarkan bait sya’ir lagu tersebut. Ada apatah dibalik semua ini? Saatnya penduduk negeri ini merenung sejenak mencari solusi.

Indonesia dengan wilayah yang terbentang luas dan dilalui garis khatulistiwa, memiliki kekayaan alam yang berlimpah, lautan yang luas melebihi daratan, tanah yang subur, sehingga kayu dan batu jadi tanaman. Bahkan di atas genting saja bisa tumbuh tanaman. Hutan, sungai, tambang emas, perak, batu bara, aspal, minyak bumi, gas, semua Allah anugerahkan kepada negeri ini. Namun ironis ketika melihat yang terjadi saat ini. Utang luar negeri melonjak naik plus bunganya. Walaupun secara individu rakyat Indonesia banyak yang sejahtera. Namun alangkah baiknya jika kondisi negaranya juga sejahtera, sehingga seluruh rakyat bisa merasakan dampaknya. Secara logika seharusnya pendapatan negeri ini melimpah ruah dari pengelolaan sumber daya alam yang luar biasa ini, ditambah jumah SDM Indonesia juga cukup banyak, lulusan perguruan tinggi juga sudah semakin banyak. Namun anehnya kenapa penduduk asing masih didatangkan sebagai tenaga kerja dan pemilik modal (kapital). Itulah sistem kapitalisme yang mencengkram negeri ini. Lalu bagaimana agar Indonesia ini bangkit dari keterpurukan?

Indonesiaku sayang, sesungguhnya Allah Yang Maha Penyayang, sebagai pemilik hakiki bumi ini termasuk bumi pertiwi telah menurunkan aturan yang sangat indah dan solutif bagi setiap permasalahan. Allah SWT telah menetapkan bahwa umat berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padangrumput dan api. Artinya ketiga jenis kekayaan alam ini adalah milik umat yang harus dikelola oleh negara untuk kesejahteraan umat. Jika hal ini dijalankan, maka hutan, air, listrik, gas, tambang emas, batu bara, minyak bumi dan lain-lain hanya boleh dikelola oleh negara, tidak boleh diserahkan kepada individu apalagi negara asing. Dengan demikian pendapatan negara akan sangat berlimpah dan tidak perlu memungut pajak, karena pajak seharusnya hanya dikenakan saat kondisi darurat dan hanya orang-orang yang mampu yang akan dikenai pajak. Selain itu sifatnya tidak permanen (hanya sementara waktu). Setelah kondisi normal kembali maka pungutan pajak akan dihentikan.

Indonesiaku sayang, saatnya kembali kepada aturan Sang Pemililik Haqiqi bumi pertiwi ini. In syaa Allah keberkahan akan diturunkan dari langit dan bumi sebagaimana janji-Nya:

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami iksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-A’raf[7]: 96)

Untuk bisa menerapkan aturan yang solutif ini tentu harus dengan sistem yang baik pula yaitu sistem Khilafah ‘alaminhajinnubuwwah yang in syaa Allah akan hadir kembali sebagaimana janji-Nyamelalui Rasul-Nya. Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :

Adalah Kenabian (nubuwwah) itu adadi tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (Musnad Ahmad, Juz IV, hlm, 273, nomor hadits 18.430. Hadits ini dinilai hasan oleh Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, 1/8; dinilai hasan pula oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dalam Musnad Ahmad bi Hukm Al Arna’uth, Juz 4 no hadits 18.430; dan dinilai shahih oleh Al Hafizh Al ‘Iraqi dalam Mahajjah Al Qurab fi Mahabbah Al ‘Arab, 2/17).

Indonesiaku sayang, sambutlah kabar gembira ini dengan keimanan dan ketakwaan. 

Wallahu A’lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations