Oleh: Alfiah, S.Si

Mendengar kata darurat rasanya tidak enak di telinga. Mirisnya Indonesia memborong segala kedaruratan. Mulai dari darurat moral, darurat corona, darurat bencana, hingga darurat utang.

Berbicara soal utang, siapa sih negara yang tidak pernah utang? Negara sekali ber AS saja justru peringkat pertama negara pengutang terbesar di dunia. Badan Anggaran Kongres Amerika Serikat (AS) atau The Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan defisit anggaran AS tahun 2020 mencapai US$3,13 triliun. Defisit membengkak karena nominal belanja diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan penerimaan negara.

Bagaimana dengan Indonesia? Meski utang Indonesia masih jauh di bawah AS, namun tetap berbahaya. Hingga akhir Desember 2020, utang pemerintah sudah menembus Rp 6.074,56 triliun. Posisi utang ini naik cukup tajam dibandingkan dengan akhir tahun 2019. Dalam satu tahun, utang Indonesia bertambah Rp1.296,56 triliun dari akhir Desember 2019 yang tercatat Rp 4.778 triliun (kompas.com) 

China yang kabarnya ekonominya meroket, justru ternyata utangnya juga meroket. China malah peringkat ketiga negara pengutang terbesar di dunia, dengan catatan utang US $ 4.976 miliar. Menurut IMF, utang China diperkirakan akan meningkat menjadi 300% dari PDB pada tahun 2022 (idntimes.com).

Bahaya Utang

Utang tentu akan membebani kas negara. Pembayaran utang akan menyerap pendapatan negara yang seharusnya digunakan untuk rakyat, misalnya saja untuk anggaran pendidikan, kesehatan, BBM, listrik dan lain-lain. Jika kas negara tidak lagi mencukupi, maka negarapun akan menarik pajak kepada rakyat. Sudahlah hak rakyat dirampas. Rakyat dipalak lagi dengan tingginya tarif pajak dan macam- macam pajak. Kondisi pandemi ini tentu semakin memperburuk tingkat ekonomi rakyat.

Bagi negara maju seperti AS dan China, salah satu penyelamatan ekonomi mereka dengan mengeksploitasi kekayaan alam dan penguasaan aset strategis negara lain dengan dalih investasi. Sebaliknya bagi negara miskin dan berkembang, penyelamatan ekonomi jika target pajak juga tidak terpenuhi justru dilakukan dengan menjual aset-aset strategis dan menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada asing. Bahkan negara yang terbelit utang bisa rela melepaskan sebagian pulau atau wilayahnya demi menuruti arahan negara pengutang atau lembaga keuangan dunia. 

Demikianlah, negara atau lembaga pemberi utang bak rentenir yang tak mentolerir negara pengutang lepas dari jeratan utang. Kedaulatan negeripun tergadai. Akhirnya tak sejengkalpun wilayah yang tidak dikuasai asing. Tidak seorangpun termasuk bayi yang baru lahir, melainkan mewarisi utang yang mungkin sepersenpun dia tidak menikmati. Mungkin inilah gambaran potret negeri ini.

Berkaca dari Khilafah Utsmaniyah

Khilafah Utsmaniyah di akhir-akhir masa kemundurannya-pun pernah mengalami krisis keuangan dari hampir segala segi. Ekonomi negeri Utsmani benar-benar berada dalam ambang batas yang sangat memprihatinkan dan berada di ambang kehancuran. 

Celah ini akhirnya mendorong Herzl (Pemimpin Yahudi Internasional) untuk mempengaruhi kebijakan politik Sultan Abdul Hamid II (Khalifah Utsmani saat itu) terkait tanah Palestina. Mengenai hal ini Herzl mengatakan ; " Jika kita berhasil menguasai Palestina, maka kami akan membayar uang pada Turki (Khilafah Utsmani-red) dalam jumlah yang sangat besar dan kami akan memberikan hadiah dalam jumlah yang melimpah bagi orang yang menjadi perantara kami. Dan sebagian balasan dari ini, kami akan senantiasa bersiap sedia untuk membereskan masalah keuangan Turki (Khilafah Utsmani-red)..." 

Apa jawaban Sultan Abdul Hamid terhadap tawaran Herzl? Sultan Abdul Hamid II justru membalas tawaran Herzl dengan mengirimkan surat pada Herzl melalui perantaraan temannya, Neolanski.

Dalam surat itu disebutkan ; "Nasehatilah temanmu Herzl agar dia tidak mengambil langkah-langkah baru mengenai masalah ini, sebab saya tidak bisa mundur dari tanah suci ini (Palestina) walaupun hanya sejengkal. Sebab tanah ini bukanlah milik saya. Dia adalah milik bangsa dan rakyat saya. Nenek moyang saya telah berjuang demi mendapatkan tanah ini. Mereka telah menyiraminya dengan ceceran darah. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku tercabik-cabik, maka sangat mungkin mendapatkan negeri Palestina tanpa ada imbalan dan balasan apapun. Namun patut diingat, bahwa pencabik-cabikan itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun tentunya saya juga tidak akan menerima, raga saya dicabik-cabik sepanjang hayat masih dikandung badan."

Kita tentu merindukan pemimpin yang gagah berani menghadapi tekanan negara-negara imperialis yang ingin menguasai atau mengancam kedaulatan negeri. Sejarah membuktikan bahwa hanya Khalifah dengan sistem Khilafah-nya yang akan melindungi dan menjaga kehormatan rakyat dan negara. Sekalipun Khilafah berada pada titik nadir yang paling lemah, Khalifah tetap perkasa menghadapi rongrongan musuh negara. 

Wallahu 'alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations