Oleh: Elis Sulistiyani
Muslimah Perindu Surga

Tahu dan tempe selama ini memang jadi menu andalan masyarakat Indonesia. Harganya yang terjangkau menjadi salah satu alasan pangan ini banyak diminati.

Namun saat ini kacang kedelai sebagai bahan baku keduanya sedang meroket di pasaran, berdampak kepada biaya produksinya juga harga jual tahu dan tempe di pasaran. Harga semula kacang kedelai hanya di kisaran Rp. 7.200/kg, namun saat ini sudah menyentuh Rp. 9.200/kg. Sekretaris Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Handoko Mulyo mengatakan dampak kenaikan ini juga membuat para produsen tahu dan tempe berhenti produksi pada tanggal 1- 3 Januari 2021.  ( merdeka.com, 4/1/2021  )

Kebijakan impor yang ugal-ugalan di sektor pangan diduga menjadi biang keladi tidak stabilnya harga pangan di pasaran, termasuk kacang kedelai. Saat ini Indonesia memang menjadi negara yang tidak bisa lepas dari Impor. Gelar negara agraris yang disandangnya tidak serta merta mampu membuatnya menjadi negara swasembada pangan. Janji untuk menjadikan Indonesia swasembada pangan yang digaungkan setiapkali berganti pemimpin acap kali tak memberikan bukti.

Dwi yang juga adalah Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) mengingatkan ketergantungan pada produk pangan luar negeri akan membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga komoditas pangan dunia. Pemerintah akan mengulangi kesalahan negara-negara di Afrika Utara dan Timur Tengah yang saatini menjadi importir. (Tirto.id, 26/10/2021). Gejolak harga komoditas pangan dunia  pula yang menyebabkan harga pangan domestik tidak stabil.

Selain itu kebijakan impor ini juga menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu menjadi negara yang mandiri pangan padahal menyandang gelar negara agraris. Ketergantungan ini juga berbahaya bagi Indonesia, karena kebijakannya akan mudah di setir oleh kepentingan kapitalis.  Hal ini terbukti dengan disahkannya Undang-Undang (UU) cipta kerja yang melonggarkan impor pangan. Saat impor terus menggelontor petani hanya bisa gigit jari, karena jika impor dilakukan saat panen komoditi pertanian harga ditingkat petani akan terpukul bahkan hasil panennya banyak yang tidak terserap pasar karena harus bersaing dengan produk impor. (Tirto.id,26/10/2021).

Harga bahan pokok yang merangkak naik juga akan menurunkan daya beli masyarakat ditengah kemiskinan yang melanda negeri ini. Akhirnya hal ini juga berdampak kepada tumbuh kembang anak-anak di Indonesia yang terancam stunting dan juga kelaparan.

Indonesia saat ini telah terjebak dalam kubangan kotor kapitalis. Perselingkuhan penguasa dan pemodal kian mesra di pertontonkan.maka jelaslah hal ini semakin mengokohkan penjajahan ekonomi di negeri ini. Dan kembali, rakyat yang akan menjadi korbannya.

Halini jauh berbeda dengan sudut pandang Islam dalam hal negara mengurus rakyatnya. Dalam  negara khilafah yang notabene adalah representasi dari penerapan syariat secara kaffah, memandang rakyat adalah amanah besar yang mesti di urusi segala kebutuhannya. Terlebih urusan pangan yang merupakan kebutuhan pokok untuk di penuhi. Baik dari segi untuk menyediakan pangan itu sendiri ataupun memudahkan berbagai sarana dan prasarana bagi rakyatnya untuk memperoleh pangan tersebut.

Negara sebagai pemegang kendali memaksimalkan segala upaya untuk mampu menjadikan negaranya mandiri. Dalam hal pangan negara mengharuskan tanah yang produktif untuk di kelola, bahkan jika ada tanah produktif yang tidak dikelola selama tiga tahun tanah itu bisa menjadi hak orang lain. Umar bin Khaththab pernah berkata,”Orang yang membuat batas pada tanah (muhtajir) tak berhak lagi atas tanah itu setelah tiga tahun ditelantarkan.” Umar pun melaksanakan ketentuan ini dengan menarik tanah pertanian milik Bilal bin Al-Harits Al-Muzni yang ditelantarkan tiga tahun. Para sahabat menyetujuinya sehingga menjadi Ijma’ Sahabat (kesepakatan para sahabat Nabi SAW) dalam masalah ini. (Al-Nabhani, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, Juz II hal.241).

Pemberian edukasi guna mendukung tercapainya hasil pertanian yang optimal juga turut diberikan. Selain itu sarana pendukung lainnya juga di urus secara maksimal. negara juga lebih mengutamakan numm untuk menyerap hasil pertanian dalam negeri. Namun jika memang setelah itu masih belum terpenuhi selurunya maka baru akan di buka kran impor itupun hanya dalam jangka waktu tertentu dan barang tertentu.

Maka saat aturan ini di laksanakan petani dapat merasakan jerih payahnya dihargai dengan selayaknya. Rakyat pun tak perlu khawatir dengan harga pangan yang akan mudah dijangkau karena kebutuhannya sudah terpenuhi secara baik.

Sungguh sempurnanya Islam yang mampu memecahkan setiap problematika hidup manusia.Kesempurnaan ini hanya mampu dirasakan saat kota hidup dalam nega yang menerapkan Islam secara kaffah.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations