Oleh: Novianti.

Publik dikejutkan oleh berita tewasnya anak 8 tahun karena dianiaya oleh kedua orangtuanya. Peristiwa yang terjadi pada Agustus 2020 ini sontak mendapat banyak kecaman.

Sebelum kematiannya, anak dianiaya dengan  cara dicubit,  dipukul dengan gagang sapu oleh ibu kandungnya sendiri.  Kekerasan ini sudah sering  dialami korban.  Berdasarkan penyelidikan, pelaku kerap menganiaya saat korban  kesulitan belajar on line.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan, kekerasan terhadap anak selama pandemi baik verbal maupun fisik meningkat.   Data KPAI menunjukkan, kekerasan verbal mencapai 62 persen, sementara kekerasan fisik 11 persen.

Kenyataan ini sungguh ironis, karena seharusnya rumah menjadi tempat yang paling aman bagi anak.  Tempat yang memberikan ruang untuk tumbuh kembang anak secara optimal, merawat seluruh fitrah kebaikan.  

Situasi pandemi merupakan ujian bagi orang tua terutama ibu. Pembelajaran sekolah berpindah ke rumah tetapi tidak sedikit ibu  yang gagap dalam mendampingi anak selama belajar. Tanpa persiapan dan skill memadai,  peranan yang seharusnya merupakan kewajiban dirasa menjadi beban.  

Meningkatnya kasus kekerasan menunjukkan  ketidakberdayaan seorang ibu menunaikan kewajiban. Minimnya ilmu dan tsaqofah Islam untuk  mendampingi anak belajar, rapuhnya iman sehingga mudah menyerah pada keadaan, kontrol emosi yang rendah berakibat rentan tersulut amarah, keterampilan komunikasi  tidak terlatih yang memunculkan  kebuntuan dan memicu perselisihan.  

Menjadi seorang ibu sekaligus istri yang menghantarkan anak-anak menjadi generasi penyejuk mata tidaklah mudah.  Petunjuk mendidik anak dalam Al Quran dan hadits  perlu ditelaah dan  latihan  dalam praktiknya.  

Dengan demikian, seorang ibu harus sadar bahwa ia harus memberdayakan diri agar dapat mengemban kewajiban ummun wa rabbatul bait (ibu pengatur urusan rumah tangga) dan ummu ajyal (ibu pencetak generasi). Di tangannya akan terukir masa depan umat Islam.  Ia harus selalu menempa diri  membangun visi besar untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke surga.

Namun, penyebab kasus kekerasan pada anak tidak semata faktor internal.  Himpitan ekonomi karena suami kehilangan pekerjaan, berkurangnya pemasukan berpengaruh pada psikologis seorang ibu lalu memicu tindak kekerasan.

Ibu cemas dengan masa depan keluarganya, sementara biaya hidup bertambah mahal.  Belum lagi lingkungan yang jauh dari aroma religius dikarenakan penerapan sistem sekuler kapitalis.

Sistem sekuler kapitalis ibarat udara beracun yang merusak fitrah kebaikan manusia.  Dimana pemahaman, standar dan keyakinan ( mafahim, maqayis, dan qanaat ) akan kesuksesan dan kebahagiaan diukur dari keberlimpahan materi, jabatan. Sehingga ambisi  yang berkembang fokus pada mengejar syahwat dunia.

Sistem sekuler kapitalis telah mengakibatkan kekerasan pada anak terjadi secara sistemik. Ruang yang hampa dari ruh Islam dan hukum Allah merupakan aktivator berbagai kemaksiatan yang ujungnya pasti memberikan kemudharatan bagi umat manusia.

Karenanya selain memiliki tanggung jawab di ranah  domestik, ibu juga memiliki kewajiban di ranah  publik. Kiprah di ranah  publik bukan berarti  fisik harus keluar rumah saat beraktivitas. Namun, secara sadar ia adalah bagian dari masyarakat yang sedang  perlu pencerahan. Masyarakat yang saat ini  menjadikan agama absen dalam kehidupannya.

Menjalankan kewajiban di area domestik lalu di waktu yang sama menjalankan kewajiban di area publik bukanlah aktivitas mudah.  Dibutuhkan sebuah proses  agar seorang ibu bisa melaksanakan kewajiban di kedua area tersebut  secara optimal.

Ibunda Khadijah, Sosok Ibu Berdaya

Ibunda Khadijah adalah sosok muslimah berdaya yang memberikan perhatian totalitas dalam menjalankan peran sebagai istri dan ibu.  Beliau menjadi pemegang sentral sebagai kunci pembuka kesakinahan dalam rumah tangganya.

Ibunda Khadijah dengan tutur dan sikapnya mampu  mengurai gundah gulana Rasulullah saat pertama kali mendapat wahyu. Berturut-turut wahyu turun kepada Rasulullah di rumah yang damai,  tentram, penuh cinta dan kasih sayang itu. Khadijah tak putus-putus menyemangati karena sadar suaminya dibebani   tugas menyampaikan risalah tidak hanya untuk merubah wilayah Mekah melainkan dunia.  Maka, beliau tak segan mengorbankan diri hingga hartanya untuk menopang tugas berat suaminya.  

Keteguhan pengorbanan  Khadijah ternampak jelas saat berkata pada Rasulullah ,"Sekiranya aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit ataupun jembatan. Maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu." 

Inilah keterlibatan Khadijah untuk mensyiarkan  Islam di tengah-tengah masyarakat. Dengan  pengorbanannya,  saat beliau wafat, dakwah Islam sudah menyebar dan bahkan keluar  Mekah hingga mencapai perbatasan-perbatasan Hijaz. Tiga tahun setelahnya, barulah tujuan dakwah Rasulullah tercapai, menerapkan Islam secara kaffah di Madinah.

Dukungan pada suami juga ditunjukkan Khadijah dengan merawat dan mengasuh putri-putri beliau dengan sebaik-baiknya. Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum serta Fathimah tumbuh menjadi muslimah yang mengikuti jejak ibundanya. Membaktikan diri untuk mendukung perjuangan dakwah. 

Ketangguhan putri-putri beliau salah satunya dibuktikan oleh  Fathimah, putri terkecilnya.  Tatkala Fathimah kecil  menyaksikan ayahnya yang sedang bersujud lalu diperlakukan kasar oleh sejumlah orang musyrik Quraisy.  Uthbah bin Abu Mu'ith melemparkan isi perut hewan di atas punggung ayahnya.  Fathimah dengan keberaniannya menghampiri dan membuang isi perut hewan tersebut lalu mendoakan celaka  kepada orang-orang yang  melakukannya. Keberanian seorang putri kecil mampu membuat kaum musyrikin terdiam.

Ibunda  Khadijah adalah role model seorang ibu yang menjalankan perannya secara sempurna di ranah domestik dan publik.  Beliau tidak hanya fokus mendidik putri-putrinya namun turut ambil bagian dalam perjuangan  dakwah Rasulullah.

Para ibu saat ini seharusnya meneladani ibunda Khadijah.   Sebagai ibu seyogianya menjalankan perannya dengan (1) menjadi ibu yang melahirkan generasi yang menjadi bagian dari khoiru ummah (umat terbaik) yaitu yang melaksanakan amar makruf nahi munkar, (2) mengasah kecerdasan literasinya dengan berbagai ilmu dan tsaqofah islam sebagai bekal mendidik anak, dan (3) menjadi intelektual  peradaban yang menggulirkan opini di tengah masyarakat khususnya umat Islam agar makin melek tentang kesempurnaan islam ( islam kaffah).

Karenanya kiprah para ibu saat ini begitu sangat dinanti.  Mereka harus berbenah diri untuk menjadi ibu berdaya yang menunaikan kewajiban di ranah domestik dan ranah publik secara optimal.

Seorang ibu berdaya memiliki kesadaran menjadi  bagian dari umat Nabi Muhammad yang mulia yang harus mengikuti denyut perjuangan kebangkitan umat di seluruh dunia untuk mengembalikan peradaban Islam di muka bumi ini.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations