Secara fitrah manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk sosial yaitu makhluk yang berhubungan secara timbal balik dengan manusia lainnya (Wikipedia Bahasa Indonesia).

Oleh : Muzaiyanah, S.Pd.


Secara fitrah manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk sosial yaitu makhluk yang berhubungan secara timbal balik dengan manusia lainnya (Wikipedia Bahasa Indonesia). Dalam istilah seorang filosof Yunani, Aristoteles, menyebutnya sebagai zoon political  artinya manusia merupakan makhluk yang hidup bermasyarakat.

Karena sifat manusia sebagai makhluk sosial atau zoon political inilah, maka mereka akan saling berinteraksi dalam kehidupan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan-kebutuhan manusia secara umum adalah sama yaitu dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani seperti makan, tidur, buang hajat, dan lain-lain. Juga dalam rangka memenuhi kebutuhan berupa naluri beragama, naluri mempertahankan diri dan naluri melestarikan jenis. 

Namun terkadang kadar kebutuhan mereka berbeda-beda. Misalkan, seorang yang kaya dan seorang yang miskin sama-sama membutuhkan makan, namun si kaya pasti memilih makanan yang enak karena mereka memiliki uang. Sedangkan si miskin pastinya dalam memenuhi kebutuhan makannya memilih yang sederhana. Dari sinilah terjadi perbedaan dalam memenuhi kebutuhan hidup, sehingga kadang dalam memenuhi kebutuhan ini mereka bisa saling bertentangan dan menimbulkan masalah.

Setiap manusia yang berkumpul dalam sebuah masyarakat baik itu dalam bentuk kerajaan, kekaisaran, maupun negara modern saat ini, pasti memiliki aturan-aturan, supaya kehidupan manusia berjalan dengan baik. Aturan tersebut bisa berupa ketetapan-ketetapan yang harus dipatuhi oleh warga negara atau sanksi bagi pelaku pelanggaran dari ketetapan-ketetapan hukum yang diberlakukan.

Di zaman kekaisaran kuno misalnya, dalam mengatasi masalah yang terkait naluri melestarikan jenis, khususnya sanksi bagi istri yang berselingkuh, maka suami dianjurkan untuk mengurung istri dan pacar istrinya, lalu memanggil para tetangga untuk menonton pasangan selingkuh itu (liputan6.com). 

Di Indonesia misalnya, tindak pidana penganiayaan yang menimbulkan lebam hitam dalam Pasal 351 ayat (1) KUHP dengan pidana penjara selama tiga bulan. Sedangkan jika penganiayaan sampai menimbulkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun (hukum online.com). 

Seperti dalam kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang mengakibatkan rusaknya mata secara permanen.  Pelaku penyiraman mendapat sanksi yang sangat ringan yaitu satu tahun penjara, yang tidak sesuai dengan Pasal 351 KUHP. 

Demikianpun Islam, memiliki berbagai aturan yang harus ditaati oleh pemeluknya. Peraturan Islam yang meliputi semua aspek kehidupan termasuk sanksi hukum bagi pelaku pelanggaran hukum-hukum Islam. Di mana seyogyanya aturan-aturan Islam ini juga diterapkan dalam kehidupan bernegara dalam bingkai Khilafah Rasyidah.

Dalam Islam aturan terkait sanksi hukum terdapat empat macam yaitu hudud, Jinayat, ta’zir dan mukhalafat.  

Hudud adalah sanksi yang telah ditetapkan kadarnya oleh Allah bagi suatu tindak kemaksiyatan/kejahatan, untuk mencegah pelanggaran pada kemaksiyatan/kejahatan yang sama. Yang termasuk bagian dari sanksi hudud adalah zina, homoseksual, qadzaf (mendatangi wanita pada duburnya), minum khamar, pencurian, riddah (keluar dari islam), hirabah (pembegal/perompak), dan bughat (orang-orang yang melawan Daulah Islamiyah).

Jinayat adalah pelanggaran terhadap badan yang di dalamnya mewajibkan qishash atau harta (diyat). Yang dikenai sanksi jinayat adalah pelaku pembunuhan baik karena sengaja, mirip disengaja ataupun tidak disengaja. Jinayat selain jiwa yaitu jinayat atas salah satu organ dari anggota tubuh manusia, atau atas tulang dari tulang-tulang tubuh manusia, atau atas kepalanya, atau atas bagian dari tubuh manusia dengan sebuah pelukaan.

Sedangkan ta’zir adalah secara syar’i yang digali dari nash-nash yang menerangkan tentang sanksi-sanksi yang bersifat edukatif, adalah sanksi yang ditetapkan atas tindakan maksiyat/kejahatan yang di dalamnya tidak ada had dan kifarat. Sanksi ta’zir diberlakukan kepada pelaku pelanggaran terhadap kehormatan (harga diri), pelanggaran terhadap kemulyaan, perbuatan yang merusak akal, pelanggarran terhadap harta, gangguan keamanan, subversi, dan perbuatan yang berhubungan dengan agama.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations