Oleh : Maya A
Aktivis Muslimah Gresik

Ekonomi syariah mulai dilirik. Dalam Peringatan Hari Santri Nasional dan Peluncuran Logo Baru Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Jakarta pada 22 Oktober lalu, Presiden RI Joko Widodo mengutarakan keinginannya atas Indonesia menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah dan industri halal dunia.

Hal ini merujuk pada fakta bahwa RI merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Juga fakta bahwa pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia sangat signifikan berdasar data The State of Global Islamic Economy Indicator Report. Dimana capaian tertinggi berhasil diraih pada 2020 lalu dan menempatkan ekonomi syariah RI pada peringkat 4 dunia.

Lebih lanjut, Jokowi ingin MES menjadi jembatan bagi seluruh pemangku kepentingan ekonomi syariah untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang inklusif dan mampu bertahan menghadapi berbagai macam krisis. (Kompas.com 22/10).

Sejalan dengan Jokowi, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan juga  Menteri BUMN Erick Thohir mengajak seluruh pihak bergotong royong mendukung industri syariah dalam negeri.

Terlebih penduduk muslim dewasa Indonesia pada 2025 yang diproyeksikan mencapai 184 juta merupakan potensi besar bagi institusi penyedia layanan syariah mengingat industri halal terus berkembang dan menyesuaikan dengan masyarakat, terutama negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim. (Republika.co 23/10).

Sungguh, betapa menarik eksistensi kaum muslimin bagi negeri ini. Populasinya yang banyak, ternyata tidak hanya dilirik saat konstelasi perpolitikan sedang berlangsung, tapi juga diklaim bermanfaat bagi perkembangan ekonomi syariah dan industri syariah dalam negeri.

Tak heran bila bersamaan dengan itu, geliat terhadap syariat mulai semarak. Sikap alergi terhadap syariat pun sepertinya perlahan hilang. Oh, ataukah sebenarnya masih alergi, tapi dikecualikan pada aspek ekonomi lantaran potensinya yang menggiurkan? Karena faktanya, pernyataan manis para pejabat negara atas agenda ekonomi syariah tidak semanis perkataan mereka terhadap syariat yang lain. Bahkan di berbagai kesempatan, syariat kerap kali mendapat stigma negatif dan dinarasikan pada khalayak sebagai sesuatu yang negatif berlabel radikal.

Dari sini saja, umat harusnya bisa menerka kemana sebenarnya arah kebijakan ini. Karena pada dasarnya, ketika suatu negara masih menolak penerapan syariat secara utuh dan memilih bertahan pada kapitalisme, maka kebijakan apapun yang lahir dari nya sudah pasti akan dihambakan pada sang tuan : para kapital! Bukan rakyat!

Bahkan jika melihat peluang keuntungan negara dari sektor ini pun, sudah sepantasnya umat berlakon cerdik, bahwa embel embel syariat di belakang kata ekonomi tak lebih dari sekedar manipulasi para dedengkot kapitalis.

Sebagaimana watak kapitalis pada umumnya yang selalu berporos pada cuan, maka menjadi omong kosong bila geliat ekonomi syariah ini lahir atas satu kesadaran bahwa ia adalah solusi bagi problema kehidupan. Karena implementasinya, pilihan syariah ini masih belum diambil sebagai sebuah sistem ekonomi yang mengikat. Terbukti investasi di sektor non riil dan transaksi berbasis ribawi baik skala makro maupun mikro masih begitu diminati bahkan dilegalisasi.

Omong kosong pula jika kemudian para petinggi berharap MES bisa menjadi jembatan bagi pemangku kepentingan ekonomi syariah untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang inklusif dan mampu bertahan menghadapi berbagai macam krisis. Karena yang demikian itu, jelas tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa ditopang oleh sistem politik dan sistem pemerintahan Islam. Sebab dalam pelaksanaan bernegara, kebijakan apapun yang diterapkan sangatlah bergantung pada sistem politik dan pemerintahan yang tengah diadopsi.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat berhenti untuk tergiur dengan tawaran tawaran solusi yang sifatnya masih parsial. Karena selain penuh tambal sulam, tawaran tersebut dipastikan hanya mengecoh fokus umat dari perjuangan hakiki yangsejatinya mampu menghadirkan solusi komprehensif. Yakni, perjuangan penegakan syariat Islam secara kaffah.

Terlebih lagi, negeri ini sudah memiliki modal yang mumpuni berupa populasi penduduk muslim terbesar dunia. Hanya perlu dorongan keimanan, berupa kesadaran akan ketundukan seorang hamba terhadap hukum syariat, maka harapan menjadi kiblat dunia dan mercusuar peradaban bukan lagi sebatas angan.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations