Oleh: Ervie Nursetiyawati, S.Pd

Pemberitaan yang tengah marak saat ini salah satunya adalah wacana pembukaan sekolah tatap muka. Nadiem Makarim mulai mengusulkan kebijakan baru terkait belajar tatap muka untuk anak sekolah.

Pemerintah berencana akan memulai kegiatan sekolah tatap muka tahun depan. Wacana ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Rencana tersebut Nadiem Makarim sampaikan dalam konferensi pers secara daring padaJumat (20/11/2020) lalu. “Pemerintah pada hari ini melakukan penyesuaian kebijakan untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah, kantor wilayah Kementerian Agama, untuk menentukan pemberian izin pembelajaran tatap muka disekolah-sekolah di bawah kewenangannya," ujar Nadiem Makarim. Kebijakan sekolah tatap muka rencananya mulai berlaku pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 atau mulai Januari tahun depan. (Tribunnews.com) 

Selama pemerintah melalui Mendikbud menetapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) banyak kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan selama pembelajaran daring. Mulai dari siswa meninggal karena dibunuh ibu kandungnya, meninggal karena kecelakaan saat mencari sinyal dan masih banyak lagi lainnya. Ketidak efektifan pembelajaran jarak jauh inilah yang membuat pemerintah berencana membuka kembali sekolah tatap muka. Hal ini diserahkan kepada Pemda, kanwil dan orangtua murid melalui komite sekolah. Adapun pembukaan sekolah dibuka dengan memperhatikan beberapa syarat yaitu; ketersediaan fasilitas kebersihan, pysical distancing, pola pembelajaran yang fleksibel dan anggaran khusus untuk protap kesehatan. Namun jika kebolehan pembukaan sekolah tidak diiringi kemajuan dalam penanganan Covid-19, maka berarti akan menempatkan rakyat pada posisi dilematis.

Pada masa pandemi ini, kualitas pendidikan semakin diuji dimana banyak hak anak sekolah yang terancam. Solusi penanganan covid-19 yang dilakukan pemerintah pun hanya solusi tambal sulam yaitu hanya bersifat sektoral, jauh dari mengurusi urusan rakyatnya dari seluruh aspek. Ini menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dari awal terjadinya pandemi dengan memisahkan masyarakat yang sakit dengan masyarakat yang sehat. Sehingga wabah mudah masuk melalui pariwisata dan impor. Ditambah lagi dengan minimnya fasilitas kesehatan hingga banyak tenaga kesehatan yang gugur.

Mindset pendidikan dalam sistem kapitalis sekuler adalah komoditas bisnis dimana pendidikan harus menghasilkan profit atau keuntungan. Pendidikan menjadi barang mahal yang mana hanya siswa dari kalangan yang punya uanglah yang bisa mengenyam pendidikan berkualitas. Sedangkan bagi siswa dari kalangan tidak mampu hanya bisa sekolah apa adanya bahkan tidak dapat bersekolah karena tidak punya biaya. Karena dalam sistem pendidikan kapitalis, negara hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator bukan pelaksana yang menjamin secara langsung pelayanan pendidikan. Miris memang karena sesungguhnya pendidikan adalah kebutuhan pokok rakyat yang harus dipenuhi oleh negara. Jika sebelum pandemi saja dunia pendidikan kita carut marut, apalagi masa pandemi saat ini yang jauh lebih besar tantangannya. Ketidaksigapan pemerintah akhirnya membuat masyarakat galau untuk menyekolahkan anaknya ketika wabah covid-19 ini masih terus meningkat.

Tatanan kehidupan yang tidak berdasar syariah pasti membuat galau. Dan sudah seharusnya setiap muslim berkewajiban menghilangkan sumber masalah dan mengembalikan kejalan yang benar. Jika kita mau melihat dengan jujur bagaimana solusi Islam mengatasi pandemi maka seharusnya inilah yang dilakukan pemerintah Indonesia.

Mengisolasi wilayah wabah, mencegah warga keluar dan masuk

DaulahKhilafah harus menerapkan kebijakan isolasi atas suatu wilayah yang telah menjadi epidemi. Hal ini telah diajarkan oleh Baginda Nabi SAW. bahwa bila pada suatu wilayah telah terjadi wabah penyakit, maka warga yang di dalam tidak boleh keluar, sedangkan yang di luar tak boleh memasukinya. Sabda Beliau:

« الطَّاعُونُآيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَاسَمِعْتُمْ بِهِ فَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَافَلاَ تَفِرُّوا مِنْهُ »

Artinya:“Wabah Tha’un adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Alloh Azza Wajall yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah Tha’un, maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya, jika Tha’un telah terjadi pada suatu daerah dan kalian disana, maka janganlah kalian keluar darinya.”

Maka kebijakan pemerintah Indonesia adalah gegabah karena beberapa hari lalu tetap mengizinkan warga asal Tiongkok masuk ke Tanah Air. Padahal negara-negara lain telah memberlakukan travel warning, serta melarang orang yang datang dari Cina memasuki negara mereka.

Alasan pemerintah karena telah memasang alat pemindai suhu badan (thermal scanner) disejumlah bandara internasional untuk mendeteksi kemungkinan penumpang yang mengidap virus Corona. Padahal alat pemindai suhu tubuh diduga hanya efektif pada individu yang sudah menunjukkan gejala positif terinfeksi, sedangkan orang yang belum menunjukkan gejala tersebut tak akan terdeteksi oleh thermal scanner tersebut. Dua pasien pengidap virus Corona lolos dari thermal scanner diPrancis, karena saat naik pesawat tidak menunjukkan gejala terinfeksi virusn-Cov tersebut.

Melihat kejadian demi kejadian sejumlah epidemi global seperti virus Corona, SARS, Ebola atau Anthrax, terlihat bila umat membutuhkan kehadiran Daulah Khilafah untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal itu dikarenakan perlu adanya teknologi kedokteran dan farmasi yang canggih dan berkhidmat pada pelayanan umat. Khalifah bersama aparaturnya, dan umat Muslim, telah diwajibkan untuk mencegah mudlarat dan menciptakan kemaslahatan bagi manusia, termasuk dalam bidang kesehatan. Semua itu dilakukan atas dorongan kemanusiaan (qimah al-insaniyyah), sehingga Daulah Khilafah akan menolong semua bangsa dan negara tanpa memandang status agama mereka.

Kemudian, perawatan akan dilakukan apabila seseorang positif Covid-19. Jika ditemukan tidak ada gejala, orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas yang sudah ditunjuk pemerintah. Sebaliknya, jika orang tersebut menunjukkan gejala, para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah.

Upaya 3M dan 3T selaras dengan upaya sistem Islam menangani wabah sejak awal sehingga penularannya bisa diminimalisir. Perintah Islam untuk menjaga jarak (social distancing) dan isolasi dari penyakit tercermin dari hadis Rasulullah Saw. Berikut:

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, yang artinya: “Tha’un (penyakit menular/wabah kolera) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu WaTa’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk kenegeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari Muslim).

Dari upaya 3M dan 3T yang optimal akan didapatkan mana daerah episentrum Covid-19 dan mana daerah yang minim kasus. Untuk daerah episentrum di mana masih banyak kasus Covid-19 seharusnya pembukaan sekolah (tatap muka) bisa ditunda dulu hingga kondisinya membaik/memungkinkan. Sedangkan untuk daerah minim kasus Covid-19, sekolah bisa dibuka dengan syarat protokol kesehatan yang ketat.

Sistem Islam menempatkan keselamatan warganya adalah yang terpenting dan bersungguh-sungguh mengurus rakyatnya, sebagaimana hadis Rasulullah Saw., “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Wallahua'lambishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations