Oleh: Nanik Farida Priatmaja
Aktivis Muslimah

Politisasi agama seringkali terjadi menjelang musim pemilu. Tak mengherankan politisasi agama dinilai sebagai cara ampuh para calon penguasa untuk menarik simpati calon pemilih yang notabene mayoritas muslim.

Tak tanggung-tanggung kutipan ayat suci Alquran ataupun hadis dijadikan pelengkap orasi saat kampanye. Mengapa politisasi agama kerap terjadi?

Dikutip dari Antaranews.com, Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, TGB Muhammad Zainul Majdi, mengingatkan bahwa politisasi agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik akan berdampak buruk dan berbahaya. "Menurut saya, politisasi agama bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan politik. Sekelompok kekuatan politik menggunakan sentimen keagamaan untuk menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya. Menggunakan sentimen agama dengan membuat ketakutan pada khalayak ramai. Menggunakan simbol agama untuk mendapatkan simpati," katanya, saat webinar Moya Institute bertema "Gaduh Politisasi Agama", Kamis (19/11).

Sistem demokrasi menjadikan suara terbanyak sebagai pemenang dalam pesta demokrasi. Wajar hal ini menjadikan para peserta calon penguasa berlomba-lomba meraih suara terbanyak dengan berbagai cara. Cara tercantik hingga tak etis terkadang dilakukan demi mendapatkan simpati dan dukungan rakyat.

Politisasi agama salah satu cara terampuh menarik simpati calon pemilih muslim. Tak diragukan lagi. Cara tersebut terbukti mampu mendulang suara terbanyak dari kalangan muslim AS sehingga Joe Biden memenangkan pilpres. Meksipun belum terbukti adanya jaminan terpenuhinya hak-hak pemilih muslim. Namun adanya politisasi agama telah memberi kesan seolah-olah calon penguasa tersebut akan mampu membawa dampak positif bagi kaum muslim.

Politisasi agama di Indonesia pun tak jauh berbeda. Tak sedikit para politisi, calon walikota, calon bupati, calon legislatif dan sebagainya melakukan politisasi agama demi meraih dukungan para petinggi tokoh agama dengan harapan mampu mempengaruhi pengikutnya untuk memilih politisi tersebut. Hal ini selalu saja terjadi saat masa kampanye karena secara budaya rakyat Indonesia khususnya warga muslim masih mengikuti dan menaati sosok yang ditokohkan dalam agamanya (para ulama, kyai, pemangku adat dan sebagainya). Inilah yang terus menerus dijadikan pegangan para  peserta pesta demokrasi. Sehingga mereka akan memakai politisi agama sebagai cara tercantik meraih suara pemilih muslim.

Tak sekali dua kali, meskipun para calon penguasa telah sukses meraih suara dari kalangan muslim hingga mereka menduduki kursi kekuasaan. Namun hingga saat ini hak-hak kaum muslim masih tak sepenuhnya terjamin. Hal ini terbukti masih banyaknya islamphobia di negeri ini meski mayoritas muslim.

Kaum muslim seharusnya sadar bahwa politisasi agama hanya alat pemikat para calon penguasa yang selalu berulang dilakukan menjelang pemilu. Hal ini karena sistem demokrasi sangat kondusif untuk melakukan politisasi agama.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations