Oleh : Neneng Suryani
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Saat ini demokrasi dianggap sebagai pintu gerbang harapan rakyat menuju perubahan.

Harapan bisa hidup sejahtera serta dapat terpenuhinya kebutuhan pokok menjadi alasan rakyat untuk kembali memilih pemimpin yang dirasa mampu mengurusi urusan rakyat, amanah dan piawai dalam mengelola sumber daya alam. 

Akankah demokrasi ini menjadi satu - satunya jalan sementara kualitas dari demokrasi itu sendiri nyata penuh dg kebohongan?

Menurut analis politik Arif Susanto dalam peringatan 22 tahun reformasi yang digelar melalui daring  menuturkan bahwa kualitas demokrasi Indonesia cenderung mengalami kemerosotan. 

Penurunan kualitas demokrasi di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal diantaranya;

1. Korupsi dan ketertutupan menjadi praktik meluas, sedangkan lembaga anti korupsi di lemahkan.

2. Ancaman kebebasan berekspresi semakin terang - terangan baik dari negara maupun masyarakat. 

3. Kebebasan organisasi cenderung mengalami regresi. 

4. Kebebasan dan independensi media semakin rentan karna dampak adanya pemusatan kepemilikan dan intervensi kekuasaan. 

5. Penegakan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah dan nyaris tidak mengalami kemajuan.(kompas.com, 21/5/2020)

Kemunduran demokrasi Indonesia terjadi semakin cepat saat pandemi. Dilansir dari tempo.com, (17/11/2020), Direktur LP3ES Wijayanto menyampaikan, masa depan demokrasi di 2020 menjadi lebih suram dan nyata tak lain karena penanganan pandemi yang salah. 

Demokrasi di 2020 ini juga diwarnai dengan penggunaan siber, buzzer, penindasan terhadap aktivis, serta kooptasi universitas dan sekolah. 

Banyak sekali kebijakan - kebijakan yang tidak menempatkan nyawa manusia sebagai prioritas. 

Pemerintah sempat menyangkal bahaya virus corona. Selanjutnya penerapan new normal demi ekonomi. 

Pencapaian kebijakan yang sangat kontroversi dengan keinginan rakyat adalah pengesahan UU Omnibus Law. Meski banyak pihak yang protes tapi pemerintah tetap pengesahkan UU tersebut. 

Tanggapan buruk pemerintah terhadap protes Omnibus Law ini, diperparah dengan represi terhadap oposisi dan aktivis.

Dan yang terakhir adalah kasus penembakan 6 laskar FPI yang sampai sekarang kasusnya belum jelas. 

Murahnya nyawa seorang muslim dalam sistem demokrasi menjadi trauma dan pukulan tersendiri untuk masyarakat Indonesia secara umum. Alhasil mereka lebih apatis dan cenderung tidak percaya lagi akan elektabilitas kinerja pejabat negara. Hal ini dibuktikan dengan menurunnya jumlah pemilih di pilkada 2020. Golput hampir mencapai 50%. Hal ini disampaikan komisioner KPU Surabaya, Subari kepada wartawan (detiknews.com, 10/12/2020)

Belum selesai dengan fakta golput yang hampir separuh, baru - baru ini masyarakat Indonesia dikagetkan dengan terpilihnya Sandiaga Uno sebagai Menteri di era presiden Jokowi. Bagaimana tidak kaget, pemilu kemaren rasanya belum bisa dilupakan. Meninggalnya 700 anggota kpps menjadi bukti sejarah demokrasi di Indonesia yang luar biasa menyisakan tangis dan trauma. Akankah rakyat percaya?

Ketika oposisi sudah merapat ke petahana, kritik dibungkam, suara dibatasi hanya 50 orang, apa arti dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat?

Sebagai seorang muslim harusnya kita mencari tahu terlebih dahulu dan menggali bagaimana hukum demokrasi menurut islam? 

Layakkah demokrasi kita jadikan acuan untuk memilih seorang pemimpin? 

Apa itu demokrasi? 

Demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya.

Sebagaimana ucapan Abraham Lincoln bahwa demokrasi adalah suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

 

Dalam sejarahnya dibarat, demokrasi lahir sebagai solusi dari dominasi gereja yang otoritarian dan absolut sepanjang abad pertengahan(abad V - XV M). 

Disisi lain para filosof dan pemikir menolak secara mutlak peran gereja dalam kehidupan. 

Terjadinya reformasi gereja, Renaissance dan humanisme menjadi titik tolak awal runtuhnya dominasi gereja. 

Akhirnya pasca Revolusi Prancis tahun 1789 terwujudlah jalan tengah dari 2 sisi kubu yang berseteru. Dari sinilah lahir faham sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Agama hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Sementara hubungan manusia dengan manusia diatur oleh manusia itu sendiri, bukan tuhan atau agama. Pada titik inilah demokrasi lahir.

Demokrasi memberikan pada manusia 2 hal yaitu;

1. Hak membuat hukum

inilah prinsip kedaulatan rakyat. 

2. Hak memilih penguasa

inilah prinsip kekuasaan rakyat. 

Jadi dalam demokrasi rakyat adalah sumber legislasi dan sumber kekuasaan. Dan kita sudah melihat fakta - faktanya bahwa pada pelaksanaannya demokrasi berjalan berdasarkan kepentingan penguasa dan bukan dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. 

Disini sangat jelas bahwa demokrasi merupakan sistem buatan manusia, yang memisahkan agama dari kehidupan(sekuler).

Sistem ini menyalahi sistem Islam karena tidak bersandar pada wahyu Allah SWT. 

Demokrasi hanya bersandar pada rakyat. Keburukan yang menonjol dari demokrasi adalah suara mayoritas dalam menentukan kebenaran. Jelas sekali demokrasi bertentangan dengan Islam(lihat QS. Al - An'am ayat (6): 116).

Demokrasi itu kufur bukan karena konsepnya bahwa rakyat menjadi sumber kekuasaan, melainkan karena konsep manusia berhak membuat hukum. Kesalahan konsep ini sangat jelas karena menurut agama Islam yang berhak membuat hukum hanya Allah SWT, bukan manusia(QS. Al- An'am (6): 57)

Itulah titik kritis dalam demokrasi yang sungguh bertentangan frontal dengan Islam. 

Memberi hak pada manusia untuk membuat hukum adalah suatu kekufuran(QS. Al- Maidah (5): 44)

Dalam Islam seorang muslim wajib terikat dengan hukum syara' dalam segala perbuatannya. Tidak bisa bebas dan seenaknya. 

Terikat dengan hukum syara' bagi seorang muslim adalah wajib dan sekaligus merupakan pertanda adanya iman kepadaNya. Allah SWT berfirman : "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadi kamu (Muhammad) hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan." (QS. An- Nisa': 65)

Jadi sudah seharusnya kita menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan dalam kehidupan sehari - hari dan juga dalam kehidupan bernegara. 

Wallahu a'lam Bishawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations