Oleh: Sarie Rahman
Komunitas Ibu Bahagia

Seakan tak pernah lelah musuh Islam berupaya menjauhkan umat Islam dari agamanya. Dalam acara pembukaan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke -20 di Surakarta, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan sambutannya yang berisikan tentang pengamatannya bahwa perlu diadakan kajian ulang keselarasan Islam dengan zaman, seiring perubahan dunia yang terus terjadi.

Dengan melakukan rekontekstualisasi beberapa konsep fikih atau ortodoksi Islam untuk merespon tantangan zaman. “Pentingnya membuka celah pemikiran dan inisiatif yang diperlukan untuk membangun peran konstruktif bagi Islam dalam kerja sama menyempurnakan tata dunia baru, ujarnya. ”(Kemenag Senin, 25/10/21).

Dilansir dari kemenag.go.id, AICIS adalah konferensi Studi Islam International tahunan yang diprakarsai Kementerian Agama. Dan pada tahun ini bertemakan ”Islam in a Changing Global Context: RethinkingFiqh Reactualization and Public Policy”, membahas lebih dari 5000 journal yang berisi temuan baru dalam studi Islam. Apakah hal ini akan jadi gelombang baru sekularisasi Islam yang telah lama tumbuh di badan umat? Bahayakah bagi umat?

Perlukah Rekontekstualisasi Islam diLakukan?

Menurut Yaqut ada beberapa alasan penting dilakukannya rekontekstualisasi ortodoksi Islam. Alasan pertama menyatakan bahwa pengamalan Islam adalah pengoperasian nilai substansialnya yaitu tauhid, kejujuran, keadilan dan rahmat. Ortodoksi dalam pengertian Menag adalah pemahaman syariat jadul atau kolot yang dianggap tak relevan lagi dengan zaman. Dengan kata lain, Islam harus tampil lebih modern dan mengikuti arus kehidupan saat ini.

Berangkat dari sekularisasi liberalisasi yang telah lama disuntikkan pada umat, rekontekstualisasi adalah ciri khas orang-orang liberal sekuler yang memahami Islam bukan lagi secara tekstual melainkan kontekstual, agar Islam dapat dikompromikan dengan kondisi saat ini.

Alasan ke dua, model operasionalisasinya harus dikontekstualisasi realitas aktual agar pada praktiknya yang dinyatakan sebagai pengamalan Islam tidak malah bertentangan dengan nilai-nilai utamanya.

Alasan ini seolah menyatakan keraguan atau ketidak yakinan pada penerapan syariat Islam klasik yang sejatinya membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Padahal tidak pernah ada pembuktian baik secara empiris dan historis yang menganggap pengamalan Islam bertentangan dengan syariatnya sendiri. Kalaupun ada, yang salah tentu bukan Islam melainkan orang yang mengamalkannya. Karena syariat Islam berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna, Allah Azza Wajalla maka ia sudah pasti tanpa cacat cela.

Ketiga, dakwah Islam harus berjalan dengan tetap menjaga keselarasan masyarakat keseluruhannya. Di sini apakah yang dimaksud keselarasan berarti harus berkompromi dengan ide-ide Barat seperti sekularisasi atau moderasi? Jika iya, hal ini berarti mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan karena menyejajarkan hukum Islam dengan hukum Barat.

Pemikiran semacam ini sama halnya menganggap Islam tidak sempurna, dan tidak dapat berdiri sendiri hingga membutuhkan penyelarasan dengan pemikiran lain. Bukankah Allah telah menegaskan dalam firmannya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam. Dan tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali setelah mendapatilmu, karena kedengkian diantara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya” (QS. Ali Imron:19).

Allah telah menjamin kesempurnaan Islam dengan aturan yang termaktub dalam Kitabullah dan sunnah Rasulullah. Kenapa malah memakai rumusan lain yang justru akan menghancurkan Islam sendiri.

Dan alasan ke empat penting dilakukan rekontekstualisasi fikih menurut Menag adalah mengadopsi nilai substansial Islam sebagai nilai operasional dalam masyarakat merupakan pencapaian dakwah yang tak ternilai harganya, meski tidak menjadikan non muslim berpindah agama menjadi muslim.

Alasan keempat di sini sangat bertentangan dengan Islam. Dalam Islam capaian tertinggi dakwah adalah manakala ketinggian dan kemuliaan Islam dapat diterapkan di seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,”Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa mengalahkan ketinggiannya.”(HR.ad Daruquthni)

Bahayanya Bagi Umat Muslim

Menanggapi rekontekstualisasi fikih diatas, pakar fikih K.H.M.Shiddiq al Jawi menilai ada tendensi menundukkan pemikiran Islam termasuk syariatnya kepada pemikiran kafir Barat. Jika dicermati gerakan rekontekstualisasi ini merupakan bagian dari gerakan intelektual global didunia Islam. Busthami Muhammad Sa’ad menerangkan dalam Mafhum Tajdid ad Din adanya trend pemikiran bernama modernisme di dunia Islam, pada abad 19 lalu. Muslimahnews.com (01/11/21).

Disampaikan pula oleh cendekiawan muslim ustad zIsmail Yusanto, hal ini adalah perang pemikiran. Rekontekstualisasi fikih pada hakikatnya adalah menempatkan Islam sebagai objek yang diatur atau disesuaikan. Jika fundamennya bukan Islam, maka Islam hanya sebagai objek yang mendatangkan keuntungan atau kerugian. Berbeda jika fundamennya Islam, maka setiap permasalahan dapat tersolusi dengan Islam.

Rekontekstualisasi fikih akan menimbulkan kebimbangan terhadap Islam, mereka utak-atik Islam sesuai hasrat pihak yang memiliki kepentingan merusak Islam. Sekularisme liberalisme saja sudah berhasil memporak porandakan pemahaman umat hingga tanpa disadari makin menjauh dari ajarannya. Sekarang mereka malah masuk ke ranah fikih, tentunya akan lebih besar lagi dampak kerugiannya dalam kehidupan umat.

Mereka juga mengebiri serta mempersempit cakupan Islam dan kandungannya sebatas substansi semata, yang menyebabkan umat tidak lagi anggap mempelajari hukum atau fikih Islam sesuai aturan syariat Islam sangatlah penting. Efeknya pun meluas lagi, berimbas pada penafsiran Islam sesuai fikrah manusia dan kenyataan yang ada. Yang terjadi, Islam bukan lagi sebagai subjek yang mengatur manusia melainkan yang diatur manusia.

Bahaya lain yang muncul akibat adanya rekontekstualisasi ini adalah dimunculkannya hukum-hukum yang mencaruk dan membunuh ajaran Islam. Daulah Islam misalnya, yang dianggap berbahaya karena tidak ada hubungannya dengan Indonesia. Padahal daulah Islam adalah pemahaman fikih yang butuh diwujudkan dalam kehidupan umat, bukan sekadar sejarah untuk dikenang. Hal ini tentunya akan menggerus keimanan umat muslim. Yang pada akhirnya umat tidak lagi merasa berkewajiban tunduk dan taat sepenuhnya pada syariat Islam. Ketaatan hanya cukup diamalkan dalam nilai humanis saja.

Semua itu akan berdampak sangat buruk bagi kaum muslim. Karena akan menghalangi kaum muslim dari amalan tertinggi yaitu menegakkan daulah Islam dan jihad fii sabilillah. Adanya rekontekstualisasi, hukum-hukum Islam yang mengatur urusan non muslim dianggap tidak dapat mewujudkan kehidupan yang selaras antar umat beragama. Padahal keselarasan justru tidak terbentuk di sistem sekuler. Terbukti sejak ideologi sekularisme diadopsi dunia, intoleransi justru meningkat.

“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan, dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya”. (QS.Al Baqarah: 42)

Dalam Islam sudah sangat jelas kebenaran dan kebatilan Sebagai hamba-Nya yang serba terbatas dan lemah rasanya sangatlah tidak layak coba-coba mengubah hukum yang berasal dari Sang Pencipta sesuai kemauan atau kepentingan kekuasaan.

Fikih bukanlah hasil pemikiran para pemikir atau filosof, melainkan mafhum terhadap dalil syara’ dengan aturan yang telah ditetapkan, yang sudah pasti mengandung maslahat bagi umat manusia. Sebaliknya, tatkala umat menjauh dari Islam dan dari memahami fikih yang sahih, kemudharatan yang datang menghampiri. Jadi pantaskah mencari solusi selain yang sudah digariskan Allah dan Rasul-Nya? Tak cukupkah peringatan Allah menjadi renungan bagi setiap individu untuk kembali pada aturannya?

Wallahu a’lam bishawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations