Oleh : Ummu Fauzi
Member Komunitas Penulis Mustanir

Pandemi belum juga berakhir, namun dampaknya masih terasa oleh masyarakat dan semakin hari beban yang dirasa kian bertambah oleh berbagai kalangan masyarakat.

Bahkan untuk kesekian kalinya  lingkup Pemerintah Provinsi Jabar  menggelontorkan dana bantuan sosial untuk mereka. Seperti yang terjadi di Desa Cinunuk Kabupaten Bandung misalnya,  bansos membuat antrean warga tak terelakkan.

Sebanyak 3.863 Rumah Tangga Sasaran (RTS)di Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat harus antri memburu bantuan sosial (bansos) tahap III dari Pemerintah Provinsi Jabar. Pembagian bansos ribuan RTS terdampak Covid-19 berlangsung di Aula Kantor Desa Cinunuk, Rabu (Visi News, 11/11/20202).

Sebagaimana diutarakan oleh Kusnadi sebagai Kasi Pelayanan dan  Ketua Puskesos Desa Cinunuk, Bansos Pemprov  Jabar tahap III rinciannya berupa uang tunai Rp100.000  non tunai senilai Rp250.000/KK  berupa 5 kg beras, 1 kg gula pasir, 500 grgaram, satu liter (botol) minyak goreng, sarden 155 gr sebanyak 5/4 kaleng, kornet satu kaleng besar/dua kaleng kecil, 1 paket vitamin C, 5 pcs susu, 4 masker dan 1 pcs tas.

Walaupun harus mengantri, masyarakat merasa senang akan adanya bantuan tersebut. Setidaknya melalui bantuan tersebut, untuk beberapa hari ke depan mereka memiliki persediaan makanan untuk dikonsumsi. Walaupun bantuan yang didapat tidak bisa menutupi kebutuhan pokok untuk satu bulan bagi seluruh anggota keluarga. Karena pada akhirnya masyarakat tetap harus mencukupi sendiri sisa kebutuhan lainnya.

Namun nyatanya dimasa pandemi seperti sekarang ini, tidak semua masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini bisa dipahami karena tidak mudah mengais rezeki ditengah sistem kapitalis dengan kaum pemodal mendominasi kebijakan.

Itulah sedikit gambaran nyata dari kehidupan masyarakat saat ini yang hidup dalam kondisi penuh keprihatinan. Diakui atau tidak akibat adanya demokrasi kapitalisme dalam aturan negara membuat perhatian penguasa tak semaksimal yang diharapkan. Kebijakan dengan membiarkan kelompok kapital menguasai aset publik membuat rakyat gigit jari. Pasalnya, selain kerusakan alam rakyat hanya mendapat remah dari setiap pembangunan yang dilakukan pengusaha swasta/asing. Saat terjadi masalah karena kondisi sulit rakyat dibiarkan mengurus dirinya sendiri apalagi jika harus mengandalkan bansos seadanya, kurang dari cukup dan tidak merata tentunya. 

Selain negara yang abai terhadap rakyatnya, masyarakat yang ada dalam sistem kapitalis  cenderung individualis. Sistem ini telah menggerus rasa simpati, empati dan mengutamakan orang lain dan tidak peka terhadap kesusahan saudara dan tetangga disekitanya. Padahal Rasulullah saw. menggambarkan hubungan persaudaraan Islam sejati dengan sangat indah:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan saling mengasihi bagaikan satu tubuh, satu anggota tubuh merintih kesakitan sekujur badan akan merasa panas dan demam.” (HR Muslim)

Islam mengajarkan untuk memperhatikan diri sendiri dan orang lain disekitarnya. Karena hal itu merupakan akhlak terpuji dan salah satu ciri orang bertakwa. Oleh karena itu ketika seoarang muslim membebaskan kesulitan sesamanya, pada hakikatnya ia sedang membebaskan kesulitan dirinya. Mengutamakan kepentingan orang lain merupakan puncak kebajikan dan bagian dari akhlak  mulia dan di sisi Allah termasuk perbuatan terpuji.

Fakta saat ini sungguh indah ketika persaudaraan seperti yang digambarkan nabi itu bisa terwujud. Masyarakatnya diikat dengan akidah dan keyakinan yang kuat kepada Allah Swt. Semua taat pada perintah-Nya. Masyarakatnya saling tolong dan mengasihi karena Allah, mereka hidup dituntun dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Kelaparan akibat kemiskinan sistemik tak akan terjadi jika pengelolaan diatur dengan ekonomi Islam. Kekayaan melimpah akan semakin berkah di bawah pemimpin yang amanah yang selalu mendahulukan kepentingan rakyatnya. Kekayaan alam dikelola untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat menerima haknya secara penuh. Ketika terjadi bencana pemimpin ikut merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Bahkan pemimpin ini akan mencari carapra terjadi, saat atau sesudah terjadi bencana. Sosok pemimpin semacam ini tidak menginginkan rakyatnya menderita karena kepemimpinannya.

Namun sayangnya hal ini tidak akan pernah terwujud dalam sistem rusak seperti demokrasi kapitalisme yang dianut negeri ini.  Semua itu baru akan terwujud ketika kita berada dalam  sistem pemerintahan Islam yang menerapkan aturan secara  kaffah di setiap aspek kehidupan.

Wallahu a'lam bi ash-shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations