Hastag maaf aku nggak sengaja sempat menjadi trending topik di berbagai media sosial. Bahkan meme-meme lucupun ikut meramaikan pemberitaan, terkait tuntutan satu tahun terhadap penyerang penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Oleh: Erna Ummu Aqilah ( Member AMK)

Hastag maaf aku nggak sengaja sempat menjadi trending topik di berbagai media sosial. Bahkan meme-meme lucupun ikut meramaikan pemberitaan, terkait tuntutan satu tahun terhadap penyerang penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Semua yang terjadi karena masyarakat merasa kecewa atas tuntutan yang dinilai sangat ringan dan tidak masuk akal. Ketua Komisi Kejaksaan RI Barita Simanjuntak menyatakan, pihaknya bisa memahami kekecewaan masyarakat atas tuntutan dalam perkara penyerangan terhadap Novel Baswedan. Pihaknya berjanji akan memberikan sejumlah rekomendasi setelah persidangan berakhir.

Hal itu sesuai dengan Perpres 18 Tahun 2011 Tentang KKRI. Barita mengutip pasal 13, disebutkan bahwa dalam menjalankan tugas dan kewenangannya KKRI tidak boleh mengganggu tugas kedinasan dan mempengaruhi kemandirian jaksa dalam melakukan penuntutan, sehingga untuk materi maupun teknis penuntutan adalah ranah kejaksaan.

Menurut Barita putusan hakim adalah dokumen yang sangat penting bagi komisi kejaksaan, untuk memberikan evaluasi menyeluruh secara komprehensif dan obyektif. Karena dalam perkara penyerangan tidak dapat dipisahkan dari proses penyidikan, pra penuntutan, penuntutan hingga putusan.

Barita berharap agar aspek keadilan publik terakomodasi secara profesional dan obyektif dalam proses penuntutan ini. Menurutnya ada dua alasan. Pertama, Novel Baswedan adalah aparat penegak hukum yang giat dalam memberantas korupsi, sudah sewajarnya mendapat proteksi maksimal dari negara melalui proses penuntutan dan keadilan. Kedua, pelakunya adalah aparat penegak hukum juga, yang seharusnya menjadi contoh ketaatan pada hukum.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, menjatuhkan hukuman penjara satu tahun terhadap kedua terdakwa yaitu Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis. Dalam pertimbangannya, jaksa menyebut hal yang memberatkan bagi para terdakwa adalah perbuatan mereka telah menciderai kehormatan institusi Polri. Liputan6.com, (14/6/2020).

Alasan jaksa menuntut kedua penyerang Novel dengan hukuman pidana satu tahun penjara adalah, dalam pertimbangan surat tuntutan yang dibacakan jaksa penuntut umum, jaksa menyebut kedua terdakwa tidak sengaja menyiramkan air keras kebagian wajah Novel. Menurut jaksa, kedua terdakwa hanya ingin menyiramkan ke badan Novel.

Dalam fakta persidangan, terdakwa tidak pernah menginginkan melakukan penganiayaan berat. Terdakwa hanya ingin memberikan pelajaran kepada Novel dengan menyiramkan air keras ke badan. Namun mengenai kepala yang mengakibatkan tidak berfungsinya mata kiri hingga cacat permanen.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations