Oleh: Linda Khadeeja

“Setiap keindahan yang tampak oleh mata. Hanya istri shalehah. Istri shalehah” (H. Rhoma Irama)

Kalau berbicara tentang istri shalehah rasanya hati ini tak bisa membayangkan bagaimana keshalehahan yang diharapkan oleh Allah dari seorang wanita.

Allah menuturkannya dengan sangat indah di dalam Al-Qur’an dengan potret-potret yang mulia. Diantaranya adalah Khadijah binti Khuwalid atau dikenal dengan Khadijah Al Kubra. 

Istri pertama Rasulullah yang memiliki keanggunan budi dan rasa pengorbanan yang tinggi. Berjuang, menemani dan menopang da’wah Rasulullah. 

Beliau selalu hadir ditengah-tengah Rasulullah dan menjadi teman sejati sampai ujung usianya. Yang saat itu berusia 65 tahun ketika Allah panggil menghadap-Nya. Sedangkan Rasulullah masih berumur 50 tahuun. Tepat tahun 10 kenabian. 

Dan yang sangat mengagumkan bagaimana Allah melalui malaikat Jibril menyampaikan salam kepada Khadijah atas semua kebaikan-kebaikannya. 

Di dalam kitab shahih Al Bukhari dari Abū Hurairah berkata: 

Pada suatu ketika Jibrīl pernah datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sambil berkata: “Yā Rasūlullāh, ini dia Khadījah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk (baik itu makanan ataupun minuman).“Apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.” ( Bab:Tazwijun Nabiyyi Khadijata Wa Fadluha, I/1539)

Kalau kita mampu menatap dan belajar darinya sungguh sebuah anugrah tak ternilai harganya. Dialah potret wanita mulia yang Allah jaminkan surga untuknya. 

Yang terbuat dari emas dan perak serta tidak ada kebisingan di dalamnya. Sebagai balasan atas semua yang telah beliau lakukan selama di dunia. 

Yang tiada pernah mengeluh atas semua keletihan-keletihannya dalam mendampingi dawah Rasulullah dan mengurus anak-anaknya.

Sungguh dalam diri Khadiijah terdapat kekokohan iman dan kelembutan jiwa. Sehingga Rasulullah merasa sangat senang dan bahagia hidup bersamanya. 

Hari ini kita hanya mampu membaca kisahnya dalam lembaran-lembaran sejarah yang dituliskan oleh para ulama. Tapi tidak mengapa.

Meskipun kita hanya bisa membaca kisahnya lewat lembaran tinta sejarah itu. Semoga bisa menjadi petunjuk dan panduan kita untuk berusaha menjadi istri shalehah sebagaimana Khadijah. 

Kebaikan-kebaikan Khadijah bisa kita teladani dan bisa kita ikutin. Bagaimana beliau selalu tampil menjadi istri yang mulia, tempat berbagi rasa dengan Rasulullah. 

Berusaha memberikan ketenangan ketika baginda tengah merasa kegundahan. Menjadi orang yang pertama siap berkorban untuknya. 

Sebagaimana temaram malam yang memberikan ketenangan. Begitulah Khadijah. 

Ustadz Budi Ashari dalam bukunya Sentuhan Parenting beliau mengatakan: 

”Istri adalah bak bintang dan rembulan. Indah untuk dipandang. Tak pernah bosan dan tak kuasa mata suami untuk mengalihkannya ke pandangan yang lain. Cahaya istri begitu bersinar tapi tidak membakar. Indah, indah dan indah”

Ya seperempat abad lamanaya Khadijah berada di samping Rasulullah menemani beliau dalam suka dan duka. Menopang risalah kenabian. Dan menjadi teman yang selalu membelanya di saat manusia lain mengingkarinya.

Sebagaimana Rasulullah selalu mengenang dalam ingatan dan tutur katanya: 

“Dia telah beriman kepadaku saat manusia lain kufur (ingkar) kepadaku, dia membenarkanku di saat manusia mendustakan, dia berikanku hartanya di saat manusia tidak mau memberikannya kepadaku, Allah mengkaruniakan aku anak darinya sementara Dia tidak menganugrahkannya dari istri yang lain” (HR. Ahmad di dalam Musnad, VI/118)

Begitulah Allah menciptakan seorang istri sebagai sumber ketenangan dan keindahan. 

Istri  yang shalehah adalah penyejuk mata. Penawar hati yang sedang gundah gulana bagi sang suami tercinta.

Juga ia adalah simpanan ilmu yang kekal untuk diwariskan bagi anak-anak tercinta. 

Ketika seorang laki-laki diberikan anugrah oleh Allah seorang istri yang shalehah maka ia bagaikan memiliki harta simpanan yang tak ternilai harganya. 

Karena sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalehah.

Sudahkah kita berusaha dan belajar menjadi sebaik-baik perhiasan dunia itu?

YOUR REACTION?

Facebook Conversations