Oleh: Maman El Hakiem

Orang-orang yang beriman adalah mereka yang menempuh jalan kehidupan dengan pengorbanan. Kehidupan adalah ujian yang bisa berupa kesenangan atau penderitaan.

Bercerminlah pada Mushab bin Umair yang diberikan segala kenikmatan hidup, dicintai masyarakat karena kedudukan keluarganya yang terhormat, sosok rupawan, kekayaan harta dan kasih sayang dari seorang ibu.

Beliau lahir dari rahim seorang ibu yang sangat teguh pendirian, Khunnus binti Malik, namun sayang cinta ibu tersebut belum sejalan dengan keyakinan anaknya. Ibunya tetap pada keyakinan jahiliyah, yaitu menyembah berhala, sementara Mushab memilih jalan hijrah bersama para sahabat Rasulullah Saw.

Dalam kitab “Rijal Haula Rasul” karya Khalid Muhammad Khalid, perjuangan Mushab untuk menempuh jalan hijrah penuh dengan tantangan, bahkan sampai mengorbankan cintanya pada seorang ibu. Ketika peristiwa hijrah ke Habsyi, beliau sampai diintimidasi oleh ibunya karena dianggap sebagai anak yang "durhaka", meskipun hati ibunya tahu tentang bagaimana baktinya Mushab dengan pesona akhlaknya. Begitulah cermin keyakinan dan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-nya harus diutamakan, apalagi jika dihadapkan  dengan kemaksiatan, maka harus segera ditinggalkan. 

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Nilai ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya teramat mahal harganya, bahkan mengalahkan segala macam bentuk kecintaan, termasuk pada sosok seorang ibu yang amat dimuliakan. Bagi Mushab bin Umair, ibu tetap menjadi panutan, namun keyakinan untuk hidup bersama Islam membutuhkan pembuktian. Maka, pembuktian cintanya dengan rela berkorban meninggalkan segala kemewahan dan reputasi kehormatannya di hadapan seorang ibu. Setelah tidak lagi mendapat “dukungan” dari ibu yang dicintainya, beliau  semakin kokoh menjadi pilar kekuatan Islam, menjadi  kunci diraihnya kekuasaan, sebagai pembuka pintu penegakan dan penrapan  syariah Islam secara kaffah di Madinah.

Mushab bin Umair menjadi tokoh penting yang diutus Rasulullah Saw sebelum peristiwa hijrah ke Yatsrib (Madinah). Melalui dakwahnya, Usaid bin Hudhair, tokoh paling keras di Yatsrib luluh hatinya, begitupun  Sa’ad bin Muadz, pemimpin Khazraj dan  Sa’ad bin Ubadah, pemimpin dari suku Aus, dua kabilah besar Madinah yang  menjadi kekuatan umat menyerahkan kekuasaannya pada Islam. Sungguh pembuktian cinta yang luar biasa, linangan air mata ibunya dibalas dengan capaian prestasi dakwah yang menjadi titik tegak penerapan syariat Islam di Madinah.

Begitulah gambaran perjalanan kisah cinta akan selalu diwarnai nilai-nilai perjuangan yang menuntut pengorbanan.  Maka, sebak-baiknya pengorbanan, jika harta, tahta, bahkan jiwa dipersembahkan untuk jalan dakwah yang Allah SWT ridloi. Bagi para pengemban dakwah, kecintaan kepada makhluk sebatas memenuhi naluri  atau gharizah yang berjalan secara alami, namun kecintaan pada syariat Allah SWT, selalu membutuhkan pembuktian dan pengorbanan yang  luar biasa.  Pengorbanan itu  akan membuahkan kenikmatan. Jika tidak di dunia saat ini, sudah pasti di surga nanti. 

Wallahu’alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations