Oleh: Maman El Hakiem

Apa jantung ekonomi kapitalis? Bank. Tanpa kehadiran bank, kapitalisme tumbang. Kehadiran bank telah merubah aliran darah ekonomi umat menjadi kotor. Darah segar menjadi legam karena bunga. Namanya juga bunga, selalu menarik dan menggoda, dipetik meskipun berduri.

Adanya bunga sebagai kompensasi atas pinjaman yang diberikan bank kepada nasabah. Inilah akad muamalah yang harus diluruskan. Dalam Islam, pinjaman (qardh) termasuk aktifitas muamalah tabaruat yang nilai amalnya(qimatul amal) tolong menolong, bukan muamalah tijariyat atau bisnis. Sehingga berlaku kaidah “Tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari pinjaman”.

Berbeda dengan aktifitas sistem kapitalisme yang selalu mencari nilai manfaat dari transaksi atau akad apapun. Apapun menjadi lahan bisnis, tidak boleh ada harta yang terpakai dalam rentang waktu  tertentu tanpa adanya kompensasi atau keuntungan. Pinjaman sebenarnya harus dilihat dari harta yang menjadi obyek pinjamannya. 

Ada dua jenis harta, yaitu mitsliyyat (harta yang semisal, bisa ditakar,ditimbang atau dihitung dan mudah ditemukan padanannya). Ada pula harta qiimiyyat, yaitu jenis harta yang senilai, menyangkut kuantitasnya, meskipun kualitasnya boleh jadi berbeda. Harta mitsliyyat misalnya, sembako, uang dan emas. Sedangkan harta qiimiyyat semisal rumah, kendaraan dan hewan.

Jika pinjaman itu berupa uang, maka berlaku ketentuan harta mitsliyyat, jika dipinjamkan harus dikembalikan dengan harta yang serupa baik kuantitas dan kualitasnya. Tetapi, jenis harta qiimiyat seperti hewan atau kendaraan,dalam pengembalian pinjaman boleh berbeda kualitas, tetapi kuantitasnya harus sama. Inilah yang dicontohkan Rasulullah saw, saat mengembalikan pinjaman seekor unta dari yang kecil menjadi unta dewasa. Penambahan nilai (kualitas) pinjaman tersebut tidak termasuk riba.

Definisi riba secara umum adalah tambahan atas manfaat harta yang menjadi utang,yang disyaratkan di awal atau di akhir sebagai denda keterlambatan membayar. Dalam praktik sistem ekonomi kapitalis, riba itu bunga, baik dengan dalih "bagi hasil" maupun denda.

Konsep bagi hasil dalam dunia perbankan sekedar label, karena aliran dananya masih melewati jantung keharaman, yaitu akad batil berupa transaksi kerjasama usaha yang merugikan salah satu fihak. Nasabah yang "bekerja sama" dengan bank hanya sekedar teken apa yang telah disyaratkan pihak bank sebagai pemberi pinjaman(pemilik modal).

Sunggguh praktik sistem ekonomi kapitalis, sejatinya bunga berduri. Tidak mengherankan jika ekonomi umat banyak yang terluka karenanya. Darah yang dipompa jantung kapitalis tersebut sesungguhnya tidak akan pernah mampu menyehatkan tubuh ekonomi sebuah negara. Negara-negara kapitalisme yang kelihatan maju dan makmur secara fisik, hakikatnya lumpuh karena jantungnya sakit kronis. Itulah pengaruh riba yang membuat manusia secara psikis sakit jiwa, mudah ambruk saat tertekan oleh keadaan yang tidak menguntungkannya. "...Tidak dapat berdiri, kecuali seperti berdirinya orang-orang yang kerasukan setan karena tekanan penyakit jiwa..."(QS Al Baqarah: 275).

Wallahu'alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations