Oleh: WATINAH

Sebentar lagi pesta lima tahunan akan di gelar. Pesta yang menyedot biaya yang tidak sedikit ini terus di laksanakan, walau pandemi covid -19 belum juga berhenti.

Alih-alih memikirkan kondisi rakyat yang sedang betahan hidup di tengah wabah pandemi, pemerintah malah sibuk mempersiapkan pesta yang  pada dasarnya hanya dinikmati para segelintir penguasa. 

PESTA INI UNTUK SIAPA???

Jangan salah kan masyarakat ketika banyak yang bertanya- tanya, buat siapa pesta pilkada ini tetap dilakukan saat pademi tengah melanda???

Pemerintah tidak peduli  lagi dengan banyaknya kasus yang terinfeksi virus ini, sehingga pilkada terus dilakukan walau pandemi terus meninggi.

Di lansir dari Kabar 24 bisnis. Com, 28/11/2020 . 70 orang calon kepala daerah terinfeksi covid -19, dan 4 orang di antaranya meninggal dunia. 100 orang penyelenggara termasuk ketua KPU RI ter infeksi

Pengamat politik Indonesia Punlic Institute ( IPI) , Karyono Wibowo menerangkan hasil survei  IPI menunjukkan bahwa mayoritas responden yakni hampir 80 persen masyarakat menyatakan was- was datang ke TPS- TPS pemungutan suara pilkada 2020. Karena pemilih takut pandemi covid -19 sampai saat ini angka penularannya masih sangat tinggi. ( LingkarMadiun, pikiran rakyat. Com, 23/9/2020)

Selama ini masyarakat di himbau untuk selalu mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, cuci tangan dan hindari kerumunan. Selama ini masyarakat di suruh taat dengan aturan tersebut, bahkan ada sanksi bagi masyarakat yang melanggarnya. Dari sanksi berupa denda uang sampai sanksi sosial.

Satu sisi masyarakat di suruh taat, tapi satu sisi pemerintah justru melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Masyarakat dilarang membuat acara yang didalam nya ada kerumunan massa, tapi justru pemerintah tidak bisa menunda acara pilkada.

Hingga muncul cuitan Ustadz Hilmi Firdaus yang mengatakan " Sekarang virus itu sudah bisa membedakan kerumunan biasa dan kerumunan yang di atur UU" di unggahnya lewat Twitter pada ( 20/11/2020)

MEMILIH PEMIMPIN DALAM ISLAM

Sudah menjadi rahasia umum, pemilihan pemimpin dalam sistem Demokrasi membutuhkan biaya yang sangat mahal dan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Sampai - sampai telah banyak memakan korban. Dari mulai kehilangan harta sampai kehilangan akal pikiran. Alih - alih mendapatkan pemimpin yang amanah tapi justru mendapat pemimpin yang berjiwa korup dan sibuk memperkaya diri sendiri dan partainya.

Bebeda dengan cara islam dalam memilih pemimpin, tidak membutukkan biaya banyak dan waktu nya pun sangat singkat.

Dari Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nizham al humk Fii al islam menyebutkan syarat- syarat syar'i yang wajib ada pada seorang pemimpin ( imam/ khalifah) yaitu : Muslim, laki-laki , dewasa ( balig), berakal, adil ( tidak fasik) , merdeka, mampu melaksanakan amanah ke khekhilafahan bedasarakan kitabullah dan sunnah Rosulullah SAW.

Sementara itu Syaikh Abdul Qodim Zallum dalam kitab Al Afkar as.siysiyyah juga menyebutkan beberapa karakter seorang pemimpin.

1. Berkepribadian kuat, orang yang lemah tidak pantas menjadi pemimpin.

2. Bertaqwa.

3. Memiliki sifat welas kasih, dengan sifat lembut dan bijak serta tidak menyulitkan rakyat.

4. Penuh perhatian kepada rakyat nya

5. Istiqomah memerintah dengan syariah.

Sabda Rosulullah SAW 

" Sungguh jabatan ini adalah amanah , pada hari kiamat nanti, jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan , kecuali bagi orang yang mengambil jabatan itu dengan haq dan menunaikan amanah itu yang menjadi kewajiban nya ( HR. Muslim).

Wallahuahlam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations