Oleh : Mastori

Secara pribadi, saya yakin semua orang tidak nyaman ketika mendengar kalimat-kalimat kasar diucapkan, oleh siapa pun.

Akan tetapi, sebagai muslim tentu kita tidak boleh mengadili orang lain atau suatu perbuatan dengan perasaan atau pikiran kita sendiri. Kita wajib merujuk pada pemilik kebenaran yaitu Al-Qur’an dan Sunah, sebisa mungkin.

Sependek yang saya baca, khususnya dalam kitab fiqh akhlak karangan Dr. Musthofa al Adawi. Beliau mengatakan bahwa memang pada dasarnya komunikasi dengan orang lain itu harus dengan kata-kata baik dan lembut. 

Akan tetapi, apabila suatu saat kita harus berkata kasar pada orang lain maka lakukanlah itu layaknya obat yang rasanya pahit atau seperti dokter  yang memberi suntikan pada pasien atau bahkan mengamputasi pasien. Pahit dan sakit, pasti.  Tapi rasa sakit dan pahit ini ditujukan untuk menyembuhkan pasien, bukan untuk menyakitinya.

Seyogyanya kita jangan merasa lebih baik dari Nabi atau para sahabat dengan mengkriminalisasi perkataan kasar. Apalagi bila kriminalisasi itu ditujukan untuk membela kedzaliman. Sebab nabi dan sahabat yang katanya selalu lembut kenyataannya beliau pernah marah, tegas bahkan kasar.

Perhatikan perkataan beliau yang saya kutip dari Fiqh Akhlak. Nabi pernah bersabda “barang siapa berteriak atau meminta bantuan dengan cara-cara jahiliah (yang dibalik panggilan itu dia membanggakan ayahnya, maka suruh dia menggigit kemaluan bapaknya’ (HR Ahmad dan An Nasa’i). bayangkan Nabi sampai mengatakan suatu kalimat yang menjijikan.. gigit kemaluan bapakmu! Kasar? Pasti!

Beranikah kita mengatakan bahwa nabi tidak berakhlak? Atau bahasa Abu Bakar kepada Urwah bin Mas’ud pada perjanjian Hudaibiah. Beliau mengatakan ‘pergi dan isaplah kelentit (daging kecil pada kemaluan perempuan) berhala latta’!. Perkataan ini muncul akibat kemarahan Abu Bakar setelah mendengar tuduhan bahwa muslim pengecut.

Dan tentu masih banyak hadits dan perkataan sahabat yang diuraikan Dr. Musthofa Al Adawi yang menunjukan sikap marah dan kasarnya orang-orang sholih pada kondisi tertentu. Kemarahan mereka adalah obat bagi orang yang hatinya hidup. Sementara racun bagi orang yang hatinya berpenyakit.

Tentu saja, sekali lagi, ini bukan dalil untuk memudah-mudahkan berkata kasar. Tapi dalam kondisi tertentu kalimat kasar itu diperbolehkan bahkan diperlukan, dalam situasi tertentu dan dosis yang tertentu pula. 

Wallahu a’lam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations