Oleh: Diana Nofalia, S.P.
Aktivis Muslimah Riau

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana mengatakan bencana banjir bandang yang terjadi di wilayah Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, salah satu pemicunya adalah kerusakan kawasan hutan. Dengan kondisi tersebut, menurutnya perlu dilakukan reboisasi.

"Ada penggundulan di situ (kawasan hutan), mau tidak mau harus dilakukan reboisasi, termasuk nanti penetapan tata letak betul, harus dengan kajian lingkungan. (bukan hanya di bagian hulu) sebetulnya di bawah juga ada yang rusak, akumulasi. Tapi poinnya adalah bagaimana kita menumbuhkan kembali (pohon tegakan), poinnya di situ," kata Nurdin, Minggu (7/11).

Dengan terjadinya bencana banjir bandang itu, idealnya, menurut Sekda perlu dilakukan treatment berupa reboisasi. Dari beberapa kejadian banjir di Garut, kaitannya selalu dengan kondisi kawasan hutan yang rusak. (https://www.merdeka.com/peristiwa/banjir-bandang-di-sukaresmi-garut-dipicu-kerusakan-kawasan-hutan.html)

Prof Henny mengatakan, faktor lain yang menyebabkan banjir adalah terjadinya konversi tutupan lahan seiring bertambahnya jumlah penduduk dan keinginan melakukan konversi lahan menjadi lahan budidaya.

"Sehingga lahan dibuka untuk permukiman, lahan awalnya merupakan lahan tertutup atau kawasan hutan. Dibuka untuk lahan pertanian atau perkebunan. Selain itu, curah hujan yang lebat terjadi di sejumlah daerah di Kalbar, menyebabkan banjir yang melanda di daerah hulu Sungai Kapuas," tuturnya. (https://www.merdeka.com/peristiwa/ahli-sda-banjir-di-kalbar-karena-kerusakan-das-dan-koversi-tutupan-lahan.html)

Pada dasarnya hujan merupakan rahmat bagi makhluk hidup. Dalam QS Al-Furqan: 48—49, Allah Swt. berfirman, “Dialah (Allah) yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, agar kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.”

Tapi mengapa di era kapitalisme saat ini, hujan menjadi ujian? Rahmat yang diturunkan Sang Penguasa Alam menjadi bencana? Pertanyaan ini tentu perlu untuk kita temukan jawabannya.

Penyebab banjir bukan hanya karena curah hujan tinggi akan tetapi juga akibat konversi lahan besar-besaran sehingga menyebabkan kerusakan daerah aliran sungai (DAS). Lahan yang awalnya merupakan lahan tertutup atau kawasan hutan, terbuka menjadi pemukiman dan lahan pertanian ataupun perkebunan. Hal demikian menyebabkan kerusakan DAS sehingga hidrologi aliran pada DAS tersebut berubah menjadi tidak baik. Mirisnya, konservasi lahan besar-besaran ini berlangsung secara tidak terkendali dan demi keuntungan sebagian kalangan ataupun pemilik modal.

Selain mengakibatkan rusaknya lingkungan, pembangunan yang tidak terkendali ini juga mengakibatkan bencana bagi masyarakat. Sungguh tidak adil, keuntungan yang diraih oleh para kapitalistik ini merugikan banyak kalangan masyarakat.

Syariat islam memandang kepemilikan hutan merah kepemilikan umum. Dalam hal ini tidak boleh ada individu, swasta ataupun asing yang boleh menguasainya. Adapun negara hanya bertugas mengelola hutan dan mengembalikan kebermanfaatannya pada umat.

Sebagaimana sabda Rasulullah. “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput (hutan), air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad). 

Adapun dalam pengelolaannya, negara harus memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan, dengan kata lain kemaslahatan umat tetaplah menjadi hal yang paling diutamakan. Dalam hal ini keuntungan materi bukan menjadi alasan, lalainya negara dalam mengurusi masyarakat.

Alhasil, jika pengelolaan hutan sesuai dengan cara pandang Islam. Maka, keberkahan tetaplah menjadi sebuah keberkahan yang akan dinikmati oleh makhluk hidup yang ada di alam semesta ini. Hujan bukan lagi sebuah ketakutan yang akan mendatangkan bencana yang menyengsarakan. Karena sesungguhnya ketamakan dan jauhnya manusia dari aturan Allah yang menjadikan keberkahan itu hilang di muka bumi ini.

Wallahu a'lam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations