Oleh: Watinah

Tahun 2020 baru saja dilewati, tahun 2021 baru saja dimasuki. Tapi bencana demi bencana datang silih berganti. Dari mulai pesawat jatuh, tanah longsor, erupsi gunung merapi dan banjir bandang yang baru saja terjadi.

Dari Kompas. Com- Sejumlah daerah di Kalimantan Selatan (KalSel) terendam banjir pada beberapa hari terakhir. Setidaknya 1.500 rumah warga di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, KalSel kebanjiran dengan ketinggian air mencapai 2- 3 meter.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan  Hidup (Walhi) Kalimantan Selatan, Kisworo Dwi Cahyono, mengatakan bahwa banjir tahun ini merupakan yang terparah dalam sejarah.

"  Banjir (2021) kali ini adalah banjir yang terparah dalam sejarah Kalimantan Selatan yang sebelumnya" kata Kis saat dihubungi Suara .com, Jum' at (15/ 1/ 2021).

Menurut Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup ( Walhi) KalSel, M. Jefri Raharja, banjir terjadi karena curah hujan yang sangat tinggi.  Selain itu banjir juga disebabkan karena banyaknya pembukaan lahan yang dilakukan secara terus menerus. Dilihat dari beban izin konsesi hingga 50 pesen lahan di KalSel dikuasai oleh tambang dan sawit. Kalimantan yang dulu dilihat dari banyaknya hutan yang dimiliki, sekarang berubah menjadi lahan perkebunan.

Berdasarkan laporan tahun 2020 saja sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif , bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah.

PENGELELOLAAN TAMBANG DALAM ISLAM

Dalam sistem Demokrasi Kapitalis, pengelolaan tambang dikuasai oleh individu ataupun perusahaan. Sehingga para pengusaha dengan watak kapitalisnya, mengeruk semua sumber daya alam sesuai keinginan mereka. Bahkan melakukan pembukaan lahan dengan tidak mengindahkan kelangsungan hidup mayarakat dan lingkungan sekitarnya. Bagi pengusaha yang terpenting adalah mendapatkan keuntungan sebanyak banyaknya, walaupun harus mengorbankan nyawa masyarakat di sekitarnya.

Penebangan hutan yang  dilakukan secara berlebihan dan merubah menjadi perkebunan yang dilakukan oleh para pengusaha, membuat hutan menjadi gundul dan tidak tersedia lagi akar pohon yang dapat menyerap air , apalagi dimusim hujan seperti saat ini.

Di dalam islam, pengelolaan hutan dilakukan oleh Negara. Dan hasilnya akan diberikan kepada rakyat, berupa fasilitas umum seperti : jalan, sekolah atau rumah sakit. Sehingga tidak boleh dikelola oleh individu atau pengusaha, yang pasti hasilnya hanya bisa dinikmati oleh mereka.

Rosulullah bersabda, " kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput/ hutan, air dan api (HR Abu Daud).

Ketika lingkungan dikelola dengan benar, maka bencana yang melanda bisa berkurang. Semua terjadi karena Negara tidak bisa mengelola lingkungan sesuai dengan aturan yang telah islam berikan. 

Allah berfirman ," Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" ( QS Ar Ruum : 41).

Wallahua'lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations