Oleh : Ita Harmi
Pengamat Sosial dan Politik

Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Kementerian Agama sepertinya tidak main-main dalam menyebarkan paham Islam Moderat ketengah-tengah pemikiran kaum muslim di nusantara.

Sejak awal didaulat sebagai Menteri Agama, Fachrul Razi, yang notabenenya adalah kalangan militer, sudah menegaskan visi misinya di kementerian ini.

Pemahaman Islam Moderat adalah misi utama sang menteri demi menekan ekstrimisme dan radikalisme dalam beragama. Tak tanggung-tanggung, langkah awalnya dimulai dari level paling dasar, yakni kurikulum pendidikan sekolah bidang agama. Kurikulum tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Agama atau KMA 183 tahun 2019.

"Moderasi beragama harus menjadi bagian dari kurikulum dan bacaan di sekolah. Kami telah melakukan review 155 buku pelajaran, muatan tentang pemahaman keagamaan yang inklusif diperkuat,” kata Menag (Okezone.com, 03/07/2020)

"Mulai tahun pelajaran 2020/2021, pembelajaran di MI, MTs, dan MA akan menggunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. KMA 183 tahun 2019 ini akan menggantikan KMA 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah," kata Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag Ahmad Umar (Detikcom, 11/7/2020).

Selain mengubah kurikulum madrasah, Kemenag juga berencana menyebarkan paham Islam Moderat ini ke tingkat yang lebih tinggi. Di tingkat Perguruan Tinggi Negeri, sudah ada Rumah Moderasi yang juga melakukan pembinaan kepada civitas akademika serta masyarakat sekitarnya. Ke depan, Rumah Moderasi akan semakin diaktifkan. Menurut Menag Fachrul Razi,  program penceramah bersertifikat juga akan mulai dijalankan.

Nilai-nilai moderasi beragama juga akan diinstal dalam program ToT guru dan dosen, penyusunan modul membangun karakter moderat, serta madrasah ramah anak. Bahkan Menag juga mengaku sedang merumuskan ide untuk menggelar lomba ceramah toleransi, menulis cerita pendek tentang toleransi, hingga lomba karikatur toleransi dan kerukunan umat beragama.

Dari langkah-langkah yang diambil oleh Kemenag ini, bisa dipastikan bahwa tingkat keseriusan pemerintah dalam mengembangkan ajaran Islam Moderat tidak bisa dianggap sepele.

Dilansir dari laman Oke Muslim 16/07/2020, ciri-ciri Islam Moderat itu antara lain tidak memaksa diri atau orang lain untuk memakai cadar, tidak mengharamkan perayaan tahun baru masehi dan ucapan selamat pada perayaan agama lain, tidak berlebih-lebihan dan terlalu ketat dalam beragama, serta mengedepankan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah (nasionalisme), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Sekularisasi dalam kehidupan memang sudah diemban oleh manusia sejak Barat berhasil merebut kekuasaan Islam dihampir 14 abad kejayaannya. Perang Dunia dua jilid telah sukses merenggut Islam dari kehidupan kaum muslim. Tak hanya merenggut Islam yang sudah membudaya dan terintegral dalam kehidupan, tapi juga mencabut akar-akar Islam sampai pada tahap pemikiran ummat Islam.

Untuk mempertahankan keberhasilan mereka yang sudah menjauhkan Islam dari kaum muslim, maka paham Islam Moderat adalah salah satu strategi yang Barat gencarkan dari tahun ke tahun untuk melemahkan dan membendung perjuangan segelintir kaum muslim yang masih sadar dan peduli dengan Islam.

Indonesia dengan penduduk muslim terbesar diluar bangsa Arab, tak lepas dari gencarnya penyebaran paham Islam Moderat. Sebagian muslim bahkan tidak sadar dengan gerakan ini, karena semenjak lahir pemikiran mereka sudah dijejali dengan sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan, melalui gaya hidup para orangtua. Keadaan diperparah lagi dengan tidak adanya keinginan individu untuk memahami dan mendalami ajaran Islam yang sesungguhnya. Maka ajaran Islam Moderat sangat gampang diterima oleh kaum muslim zaman modern.

Zaman boleh modern, tapi ajaran Islam tidak bisa diubah sesuai zaman. Islam sejak turunnya ayat ketiga Al Maaidah, ketetapannya dibakukan oleh Pencipta Islam itu sendiri, Allah Azza wa Jalla, selamanya tidak akan berubah hingga dihitungnya amalan manusia di yaumil hisab.

Perubahan masa tidak akan merubah hukum syariat. Karena hakikatnya, problematika kehidupan manusia dari zaman ke zaman tetap sama, yang berubah adalah sarana yang digunakan oleh manusia. Sarana tidak akan bisa mengubah status perbuatan seseorang dan hukum yang berlaku atas perbuatannya tersebut. Dulu, orang berjudi pada satu tempat dengan orang-orang tertentu. Sekarang judi bahkan bisa lewat internet secara global dan bisa diakses oleh siapa saja dan dimana saja. Namun hakikatnya, perbuatannya tetap sama, bermaksiat dengan cara berjudi. Dan hukumnya tetap sama-sama haram.

Jadi memoderatkan Islam sama saja dengan mengubah hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Tentu saja ini adalah perkara haram. Islam memang memudahkan pemeluknya dalam beragama, tapi juga bukan berarti dapat dimudah-mudahkan sesuai keinginan manusia.

Lalu bagaimana bisa orang-orang yang menjalankan perintah Allah Ta'ala sesuai ajaran kekasihNya Rasulullah sholallahu 'alaihi wasalaam dikatakan sebagai orang yang radikal atau dicap sebagai ekstrimis? Logikanya, jika seorang ASN bekerja sesuai perintah atasannya, apapun yang menjadi tugasnya dilaksanakannya, apakah bisa disebut sebagai ASN radikal dan ekstrim?

Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri telah menetapkan perintahNya dalam kalamNya,

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. Al Ahzab:36)

Bukankah saat seseorang berani mengutak-atik hukum Allah adalah orang yang durhaka kepada Allah? Dan bukankah disaat yang sama dia juga sudah berbuat radikal terhadap Allah?

Padahal Allah telah menjamin Islam bukanlah biang masalah bagi manusia melainkan rahmat, yakni kasih sayang, bukan hanya kepada manusia saja, melainkan kepada semesta alam,

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al Anbiya : 107)

Maka sebab itu, ajaran Islam Moderat yang sedang digadang-gadang oleh pemerintah baik dalam aspek pendidikan, sosial, dan aspek kehidupan yang lainnya, patut diwaspadai secara serius. Mungkin sebagian kaum muslim tidak sadar dengan program ini. Tapi wajib dipahami bahwa Islam Moderat adalah strategi penjajah kaum muslim untuk menjauhkan "ruh" Islam dari umatnya serta mencegah bangkitnya kegemilangan peradaban Islam.

Wallahu a'lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations