Oleh: Kunthi Mandasari
Pemerhati Remaja, Pegiat Literasi

Pandemi Corona masih menjadi ancaman nyata. Namun alih-alih mencari solusi syar'i untuk menyelesaikannya. Justru agenda liberalisasi agama kian gencar dilakukan.

Hasilnya, 155 buku pelajaran  agama Islam yang dianggap memuat konten radikal telah dihapus oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi. Namun, untuk materi Khilafah tetap ada di buku-buku tersebut. Kendati demikian, Menag memastikan buku-buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia (cnnindonesia.com, 02/07/2020).

Menag mengungkapkan, penghapusan konten radikal tersebut merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama. Tak hanya itu saja, mulai dari seminar dan diskusi online soal Islam moderat kian gencar dilakukan. Tak ketinggalan ide-ide Barat yang dibungkus rapi dengan nuansa Islam dan di siarkan oleh TV milik ormas tertentu. Berbagai artikel yang menyudutkan Khilafah pun bertebaran.

Ada pula statement tokoh nasional dalam pengarusan moderasi. Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan sebagian besar negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam sulit berkembang dan mengalami ketertinggalan di bidang ekonomi karena masih konservatif dalam menerapkan ajaran agama di kehidupan sehari-hari.

Cara berpikir konservatif tersebut juga menghambat upaya-upaya dalam mewujudkan peradaban Islam. Oleh karena itu, untuk membangun kembali peradaban Islam, kata Ma'ruf, pola pikir wasathi atau moderat harus ditanamkan dan dikembangkan dinegara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim (antaranews.com,10/05/2020).

Istilah Islam Moderat muncul dari sebuah dokumen lembaga think tank AS, RAND Corporation yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, yang ditulis Cheryl Benard pada 2003, dan Building Moderate Muslim Network pada 2007. Dalam dokument ersebut Islam dikelompokkan menjadi kutub Islam radikal/fundamentalis, Islam moderat/sekuler,Islam modernis, dan Islam tradisionalis.

Dijelaskan pula karakteristik Islam moderat. yaitu Islam yang mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM (termasuk kesetaraan gender dan kebebasan beragama), menghormati sumber hukum yang non sektarian dan menentang terorisme.

Sedangkan Islam radikal/fundamentalis memiliki karakteristik sosok yang intoleran, cenderung radikal dalam konotasi memaksakan kehendak, brutal, memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah melalui tegaknya Khilafah Islamiyah, menolak demokrasi berikut derivatnya, termasukanti-Barat.

Label buruk selalu disematkan pada kelompok fundamentalis. Seperti teroris, intoleran, garis keras, anti damai, diskriminatif terhadap perempuan dll. Berbagai upaya yang dilakukan tak lepas dari agenda untuk menekan kebangkitan Islam. Apalagi setelah NIC (National Intelligence Concil's), badan intelegen Amerika ini memprediksi khilafah akan tegak di tahun 2020 dalam bentuk dokumen berjudul Mapping The Global Future pada Desember 2004.

Berkembangnya Islam moderat justru membelah persatuan umat Islam, mengancam akidah, menciptakan Islam phobia dan menjauhkan umat Islam dari Islam, menyerang syariat Islam dan mencegah kebangkitan. Para pengikut Islam moderat hanya dijadikan bidak untuk melawan para pengemban dakwah Islam kaffah. Alhasil, sesama kaum muslim sibuk saling sikut dan melupakan perjuangan sesungguhnya untuk mewujudkan kebangkitan Islam.

Padahal hanya dengan penerapan Islam secara sempurna kebangkitan secara hakiki bisa terwujud. Serta menjadi kunci keberkahan hidup. Sesungguhnya tuduhan Islam konservatif adalah tuduhan menyimpang. Karena Islam menjadi agama penutup yang sesuai dengan perkembangan jaman. Para pemeluknyalah yang harus menyesuaikan dengan Islam bukan sebaliknya.

Menganggap Islam sebagai agama yang konservatif dan melakukan arus moderasi sama saja dengan menyekulerkan Islam. Menganggap Islam memiliki kekurangan, dengan kata lain mencela Allah Pencipta Alam Semesta. Padahal Allah jelas-jelas telah menjamin kesempurnaan Islam dalam surat al-Maidah ayat 3.

Mengharapkan kebangkitan Islam melalui arus moderasi sama dengan berhalusinasi. Umat Islam harus kembali pada jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam membangun kota Madinah. Menjadikan Islam sebagai 'way of life'. Bukan hanya dalam skala individu tetapi juga masyarakat dan negara. Melalui jalan inilah kaum muslim pernah menjadi mercusuar dunia dengan menguasai lebih dari dua pertiga dunia. Menorehkan tinta emas peradaban dalam segala aspek kehidupan. Wallahu'alam bishshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations