Oleh : Mariana, S.Sos
Guru Swasta dari Kolaka- Sulawesi Tenggara

Akhir-akhir ini rasa keadilan banyak terusik dengan kejadian yang tidak diperlakukan secara seimbang, misalnya saja penahanan Habib Rizieq Shihab karena melanggar protokes terkait kerumunan di Petamburan, disisi lain beberapa pilkada yang berlangsung juga tampak kerumunan dan keramaian tapi kandidatnya tidak ditahan dengan ancaman yang sama.

Lalu pembubaran FPI tanpa proses pengadilan tapi berdasarkan SKB 6 menteri bahkan dianggap sebagai organisasi terlarang, ini juga mencederai rasa keadilan dan melanggar hak sipil dalam berorganisasi. Dilansir oleh Republika.co.id, 30 Desember 2020, Amnesty: Pembubaran FPI Berpotensi Melanggar Hak Berserikat.

Apalagi selama ini FPI adalah organisasi yang sangat penting bagi masyarakat sebab aktivisnya sangat sering membantu masyarakat contohnya Tsunami Aceh 2004 silam, pun dengan kegiatannya, tidak ada yang bertentangan dengan kenegaraan. Disisi lain banyak koruptor yang melibatkan petinggi partai, tapi organisasinya tidak dilarang apalagi di bubarkan.

Berikutnya kejadian KM 50 Cikampek yakni tewasnya 6 anggota FPI, disinyalir adanya pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM berat dikarenakan penyiksaan dan pembunuhan secara brutal rakyat sipil, disisi lain OPM yang secara nyata bersenjata bahkan melakukan pemberontakan dan menentang negara tetap saja dibiarkan.

Ada lagi kejadian aneh dimana ada seorang wakil dekan yang dipecat karena pernah menjadi anggota HTI, padahal nama organisasi ini telah dibubarkan oleh pemerintah, di sisi lain mantan anggota PKI bahkan boleh jadi caleg, dipilih ataupun memilih,padahal PKI nyata-nyata terlarang berdasarkan ketetapan MPRS nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966.

Arogansi kekuasaan telah merenggut kebebasan yang digaungkan demokrasi ataukah memang demokrasi sendiri adalah alat kekuasaan? karena sejak kelahirannya demokrasi tidak pernah sekalipun berpihak pada rakyat, selalunya demokrasi hadir ketika membela kekuasaan dalam hal ini pemerintah dan sekutunya dan apapun yang tidak bertentangan dengan keinginan kekuasaan.

Tapi ketika itu bertentangan dengan kekuasaan maka demokrasi ditenggelamkan, tidak heran karena demokrasi hanyalah label untuk menarik simpati rakyat agar tetap membela kekuasaan meski kekuasaan itu penuh dengan kedustaan.

Demokrasi ada demi doku dan otoritas, adil dalam sistem demokrasi adalah bagi siapa yang memiliki kekuasaan dan uang, aturan kebebasan seringkali diterjang demi arogansi kekuasaan. Bahkan demokrasi melanggengkan kekuasaan korup dan manipulatif, tidak peduli sekeras apapun rakyat berpendapat tetap saja pemenangnya adalah pemilik kekuasaan dan modal.

Berharap keadilan dalam sistem demokrasi adalah sebuah halusinasi, tidak akan pernah di capai dan tidak akan pernah digapai meski fakta kebenaran itu terungkap, akan ada banyak cara bagi kekuasaan untuk lolos meski harus memanipulasi setiap pasal yang di buat dan membohongi publik dengan pencitraan palsu yang dipamerkan di media.

Rakyat terluka tetapi tembok demokrasi tidak akan pernah diruntuhkan dengan derita dan tangisan rakyat, jika rakyatnya tetap bersemangat mempertahankan sistem keropos ini, demokrasi hanya bisa di robohkan dengan kesadaran utuh dari rakyat untuk mengubah tatanan kehidupan mereka dengan alternatif sistem yang dapat menggantikan demokrasi.

Demokrasi telah melahirkan kekuasaan oligarki yang berakhir dengan otoritarianisme, siapapun yang bersebrangan dengan pemerintah akan mendapatkan cambuk yang akan memukul dan menghantamnya hingga tidak dapat bergerak bahkan bila perlu di lenyapkan agar tidak mengganggu kekuasaan.

Demokrasi telah mencabut rasa kemanusiaan sehingga tidak tersisa lagi kasih sayang penguasa pada rakyatnya, tidak peduli berapa orang yang terluka dan terzalimi bahkan juga tidak peduli berapa jumlah rakyat yang terenggut nyawanya akibat kebijakan dan arogansi penguasa.

Demokrasi telah melahirkan dehumanisasi akut akibat hilangnya nilai spiritual dalam kehidupan, ketika demokrasi hanya menjadikan hubungan manusia dengan penciptanya sebatas ritual belaka bukan sebagai konsep yang di terapkan dalam hidup.

Konsekuensi logis dari semuanya adalah nilai terpenting dalam hidup ada pada kekuasaan dan uang. Kekuasaan hadir karena ditopang oleh uang, dan uang di peroleh karena di dukung oleh kekuasaan, inilah pernikahan sempurna dalam sistem demokrasi antara kekuasaan dan para pemilik modal.

Pejabat publik seidealis apapun dia ketika sudah masuk dalam sistem demokrasi yang tidak bermodalkan dana sendiri tapi di sokong oleh konglomerat pemilik modal, maka akan sulit diharapkan untuk membela kepentingan rakyat, yang terjadi mereka akan menjadi agen perpanjangan tangan kepentingan-kepentingan para pemodal.

Hal ini wajar sebab dalam sistem demokrasi menjadi pejabat publik yang memegang tampuk kekuasaan sangatlah berbiaya mahal, apalagi untuk membuat drama pencitraan di media, kampanye hingga bagi-bagi amplop, maka kalauhanya bermodalkan prestasi dan kinerja tanpa modal yang mencukupi atau tanpa bekingan modal, maka jangan berharap untuk dapat lolos menduduki tampuk kekuasaan.

Maka benar saja bahwa dalam sistem demokrasi, tak ada kawan dan lawan abadi yang adalah adalah kepentingan abadi, hari ini bisa jadi kawan karena satu medan politik, besoknya bisa jadi lawan politik karena berbeda interes, begitulah demokrasi indah di permukaan tetapi memiliki keburukan dan kebobrokan hingga keakarnya.

Maka tidak layak memberi panggung pada pesta yang digelar para kandidat kekuasaan dalam sistem demokrasi, sebab janji yang mereka ucapkan tidaklah sesakral semangatnya, setelah kekuasaan di raih rakyatpun dilempar.

Bahkan bisa jadi kandidat sistem demokrasi yang dielu-elukan masyarakat menjadi harapan perubahan kehidupan mereka dengan membawa setitik cahaya yang indah. Ketika berkuasa justru paling bengis menindas pendukungnya, atau bahkan para kandidat setelah menjabat sangat banyak dari mereka yang melupakan para simpatisannya.

Tidak jarang kita saksikan ada penguasa terpilih yang berada dizona aman dan nyaman tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada organisasi atau lembaga yang telah mempopulerkan dirinya, bahkan tidak sedikit pejabat yang terpilih bila perlu menjilat kaki majikannya untuk mendapatkan sepotong kue kekuasaan dengan upaya apapun dilakukan bahkan bila perlu menghianati pendukungnya.

Ada pejabat yang bersenang-senang menikmati fasilitas mewah kekuasaan yang di raihnya, menjadi musuh yang ramah pada lawannya dahulu, tetapi setelah dimasukkan dalam istana musuh maka dia pun melunak bahkan sangat menikmati setiap kemewahan yang diberikan padanya sementara para pendukungnya yang sering memproklamirkan namanya sebelum menjabat berakhir dengan sangat tragis.

Menjadi korban bengisnya tangan kekuasaan, menjadi obyek yang dizalimi, sasaran persekusi dan pembunuhan bahkan jeruji besi menjadi temannya, tapi tidak ada upaya dari sang pejabat untuk membantu pendukungnya bahkan jika perlu dia akan mengahabisi setiap jejak pendukungnya agar dapat simpati majikannya dan rating kekuasaannya dapat di naikkan dan mendapatkan lebih banyak modal atau keuntungan.

Kejamnya demokrasi membius rakyat dengan pesonanya, pada saat yang bersamaan membunuh rakyat dengan ide kebebasaan, maka sudah selayaknya demokrasi diakhiri sebab hanya menimbulkan luka kronis yang sangat dalam di tubuh rakyat sehingga membawa pada kenestapaan dan derita.

Jika rakyat mau sedikit paham maka sesungguhnya mereka akan dapat menganalis dan mendiagnosis dengan cepat dan tepat akar kebobrokan sistem demokrasi dan berusaha mencari alternatif sistem yang lebih baik.

Maka Islam akan hadir membawa solusi terhadap problem yang di derita rakyat, Islam bukanlah sekadar akidah ritual yang terbatas pada seremonial tetapi Islam adalah aturan kehidupan yang akan membawa kebaikan dan keberkahan pada seluruh rakyat. 

Wallahu a’lam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations