Oleh : Novi Puji Lestari

Kondisi kaum muslim saat ini memang sedang tak baik-baik saja. Pasalnya, nafas kaum muslim seakan begitu sesak lantaran banyaknya arus sekularisasi dan Islamophobia yang semakin gencar diaruskan pada semua lini kehidupan, baik itu politik, sosial, ekonomi, hukum, termasuk juga pendidikan.

Lebih dari itu, Baru-baru ini dunia sosial media sedang digemparkan oleh sebuah postingan seorang rektor dari Institut Teknologi Kalimantan yang digadang-gadang mengandung unsur SARA lantaran menganggap bahwa mahasiswi yang berhijab sebagai "Manusia Gurun" dan tak open-minded. 

Dilansir dari detikNews.com 01/05/2022, 

Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartiko dilaporkan ke Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Dirut LPDP Andin Hadiyanto gegara dituding mengunggah postingan bernada rasis di Facebook pada tanggal 27 April 2022 karena dianggap mengandung unsur SARA dan pelecehan secara verbal.

Dalam postingan yang diunggahnya, ia mengatakan : 

"......12 mahasiswi yang diwawancarai tidak ada satupun yang menutup kepala ala manusia gurun sehingga otaknya benar-benar open mind dan seterusnya," 

Sebelumnya ia pun mengungkapkan sebuah redaksi kalimat seperti  : 

"...Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya. Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagainya." Tulisnya. 

Akibat tulisan yang diunggahnya, Dosen Berprestasi Fakultas Teknik Industri ITS pada tahun 2011 ini menuai banyak sekali kontroversi dari berbagai pihak. Mulai dari Menko Polhukam, Ketua MUI, hingga para warganet pun menjadi geram lantaran pernyataan yang beliau sampaikan.

Walaupun dosen yang meraih gelar master dan doktor dari University of Oklahoma, Amerika Serikat ini telah memberikan klarifikasi melalui siaran Pers ITK dengan dalih bahwa tulisan yang diunggahnya adalah tulisan pribadi dan tidak ada hubungannya dengan jabatan Rektor ITK, namun tetap saja hal ini mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. (kliksamarinda.com,Minggu 01/05/2022)

Semakin terlihat jelas bahwa ini merupakan bukti nyata mirisnya keadaan para intelektual hari ini. Peran intelektual muslim menjadi pudar karena dihantam oleh arus sekularisasi yang terus merasuki jiwa mereka di semua ruang kehidupan baik itu ekonomi, sosial, politik, hingga pendidikan saat ini.

Para intelektual terus digiring pada framing buruk tentang Islam yang  menyebabkan mereka semakin jauh dari agamanya. Padahal peran seorang intelektual dengan segudang potensi yang dimiliki mampu memberikan pengaruh yang sangat besar bagi umat, terlepas apakah pengaruh itu baik atau buruk. 

Dalam hal ini, bisa dibayangkan bukan? seberapa besar pengaruh seorang rektor dan guru besar di universitas ternama dengan latar belakang pendidikan yang sangat baik serta seorang penguji program LPDP yang sangat dihormati para kaum intelektual, namun nyatanya hanya dengan satu saja dari postingannya itu, ia mampu mempengaruhi pemikiran para pengikutnya di media sosial. 

Inilah bukti bahwa di sistem kapitalisme saat ini, pemisahan antara agama dan kehidupan begitu kental terasa. 

Saat kita ingin menjadi kaum muslim yang berpendidikan hebat, seakan-akan tak ada ruang bagi kita untuk menjadi taat. Paradigma intelektual saat ini mengarah pada perspektif bahwa saat kita mengadopsi Islam dalam lini kehidupan, kita akan berujung ketertinggalan, kemunduran, kesengsaraan, dan ketidak bebasan dalam berekspresi. 

Inilah akibat dari serangan Islamophobia yang senantiasa digaungkan. Perintah untuk taat seakan menjadi suatu hal yang tabu dan tak modern. Seorang yang berusaha menjalankan perintah agamanya, dianggap sebagai manusia kuno dan terbelakang. Padahal, Islam harusnya menjadi Ideologi dan garda terdepan sebelum kita melakukan aksi di berbagai aspek kehidupan. Tapi sangat disayangkan, ternyata Islam malah dikesampingkan dan hanya menjadi agama ritual semata. 

Sebaliknya, sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita menoleh pada sejarah Islam yang gemilang di bidang pendidikan. Daulah Islam yang mulia yang mampu melahirkan para cendikiawan muslim yang berhasil menorehkan tinta emas sejarah di dalamnya. Lebih dari itu, mereka yang sangat unggul dalam bidang keilmuan ini selalu menyandarkan diri mereka dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT. Hal itulah yang menyebabkan mereka berhasil dalam menaklukan ilmu yang mereka pelajari. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan yang didapatkan mampu memberikan kebermanfaatan yang sangat luar biasa hingga saat ini. 

Singkatnya, inilah bukti bahwa taat pada syariat, tak menghalangi kita untuk menjadi hebat. Sebaliknya, kemampuan intelektual yang diboncengi dengan Islamophobia, hanya akan menjadi harta di dunia semata, namun tak mampu mengantarkan manusia pada ridha Allah SWT.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations