Oleh : Diyaa Aaisyah Salmaa
Mahasiswa MM UMY

"Anda tidak perlu jadi seorang muslim untuk membela Gaza, anda hanya perlu menjadi manusia,"tulis Khabib Nurmagedov di akun instagramnya @khabib_nurmagedov, Selasa (11/5/2021).

Penyerangan Israel terhadap Palestina

Penyerangan Israel pada warga Palestina bermula pada Jumat (7/5/2021) ketika umat Islam memadati kompleks Masjid Al-Aqsa, dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar di akhir Ramadhan. Warga Palestina yang sedang melaksanakan tarawih kemudian diserang oleh polisi Israel dengan menembakkan peluru karet dan granat kejut yang menyebabkan terjadinya pelemparan batu, botol, dan kembang api ke arah polisi Israel. Sebanyak 220 lebih orang terluka dalam kejadian ini yang didominasi oleh warga sipil Palestina. Seperti dilansir Reuters, Sabtu (8/5/2021), bentrokan ini pecah saat kemarahan memuncak di kalangan warga Palestina terkait potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah-rumah mereka yang tanahnya diklaim oleh para pemukim Yahudi yang menggugat ke pengadilan. Sebelumnya aksi kekerasan mengalami peningkatan di Yerusallem dan Tepi Barat semenjak pekan lalu.

Makin Memanas

Kondisi memanas mulai terjadi pada Jumat pekan lalu. Polisi Israel menembakkan peluru karet dan granat kejut ke arah warga Palesina yang bersenjatakan batu di kompleks Masjid Al Aqsa, Yerusalem. Bentrokan terjadi karena adanya ancaman pengusiran warga Palestina di Sheikh Jarrah, dekat Kota Tua, Yerusalem. Para pemukim Yahudi mengklaim wilayah tersebut. Sebanyak 205 warga Palestina dan 17 aparat keamanan Israel terluka, menurut Reuters. Peristiwa itu terjadi usai puluhan ribu warga Palestina melakukan salat Jumat. Kejadian ini makin memanas dan berbuntut pada pengerahan militer kedua negara. Militer kedua negara tersebut melakukan serangan udara di Gaza. Tindakan ini menjadi situasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir di wilayah itu.

Dukungan Dunia Untuk Palestina

Di media sosial Twitter ramai tagar #PrayForPalestine. Ramainya tagar tersebut membuat beberapa unggahan berbagai akun netizen mengucapkan doa, dukungan, pembelaan untuk masyarakat Palestina, hingga kecaman untuk Israel. Berbagai kalangan masyarakat lainnya juga turut mendoakan untuk keselamatan masyarakat Palestina yang menjadi korban dalam peristiwa bentrokan tersebut.

Tak hanya itu, bahkan tokoh-tokoh berbagai negara pun menyuarakan ketidaksetujuan, protes, kecamandan kutukan pada tindakan opresif Israel terhadap Palestina hingga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mengerahkan kekuatan militer untuk menolong Palestina dari konflik yang tengah terjadi.

Dukungan Dunia Belum Cukup dan Tidak Maksimal

Serangan Israel terhadap warga Palestina yang melakukan ibadah di masjid Al Quds dan pengusiran warga Palestina di Sheikh Jarrah tidak sepatutnya hanya direspon dengan pernyataan berupa kecaman, penolakan, dan kutukan oleh dunia. Konflik yang menimpa Palestina juga bukanlah konflik yang bisa terselesaikan tuntas dengan doa bersama ataupun pengiriman bantuan logistik. Palestina sejatinya membutuhkan aksi nyata berupa pembelaan dan perlindungan fisik, yang mana usaha tersebut tidak dapat dilakukan oleh individu-individu ataupun organisasi kemanusian. Dunia perlu memahami bahwa pembelaan atas muslim Palestina memerlukan pengerahan kekuatan militer yang terbebas dari unsur manfaat, sehingga dalam hal ini berharap pada kekuatan militer Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pun tidak menjadi solusi. Terlebih dengan adanya sistem nation state, yang berimplikasi pada adanya sekat-sekat atau batas-batas teritorial negara untuk ikut campur urusan negara lain, membuat konflik Israel-Palestina selama ini semakin berlarut-larut dan tak kunjung berakhir hingga saat ini.

Untuk mendapatkan solusi tuntas, dunia memerlukan sistem yang memaksimalkan kekuatan militer tanpa ada niat terselubung, dan juga sistem dimana batas atau sekat-sekat negara tidak menjadi halangan atas pembelaan dan perlindungan fisik yang diberikan. Hanya saja solusi tuntas berupa sistem yang cemerlang itu tidak bisa dunia dapatkan dari penerpan sistem kapitalisme yang selalu menimbang-nimbang untung-rugi dan membawa niatan tersembunyi.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations