Oleh: Siti Maftukhah, SE.
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Sudah hampir 10 hari pemerintah memberlakukan new normal life, ternyata terus menorehkan ‘prestasi’ atau kemunduran dengan bertambahnya jumlah kasus. Jumlah positif corona di Kabupaten Karawang terus bertambah. Setelah menerapkan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), ditemukan 41 pasien positif baru tersebar di enam kecamatan. Alhasil, enam kecamatan tersebut tergolong zona hitam.

Dengan penambahan pasien positif tersebut, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, menghimbau masyarakat untuk lebih waspada. Cellica juga mengakui bahwa pihaknya tak bisa membubarkan kerumunan seperti saat menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), akibat menerapkan status AKB di Karawang. (https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5083458/berlakukan-akb-6-kecamatan-di-karawang-malah-jadi-zona-hitam)

Selain itu pasar juga menjadi salah satu tempat yang rawan penyebaran wabah corona. Karena pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, bisa dikatakan tempat berkerumunnya manusia. Beberapa pasar di daerah-daerah menjadi klaster baru corona.

Termasuk pondok pesantren atau sekolah yang buka saat wabah masih cenderung meningkat. Pondok pesantren Gontor akhirnya diisolasi setelah diketahui santrinya ada yang positif. Bahkan jumlah yang positif semakin membengkak, sehingga ribuan penghuni harus dirapid test. (https://regional.kompas.com/read/2020/07/09/18454011/jumlah-positif-covid-19-di-pondok-gontor-membengkak-ribuan-penghuni-dirapid)

Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat (Secapa AD) di Bandung menjadi klaster baru virus corona. Sebanyak 1.262 orang positif terdiri dari peserta didik dan beberapa tenaga pelatih. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 orang dirawat dan diisolasi di rumah sakit karena mengalami keluhan seperti demam, batuk dan gangguan pernafasan. Sisanya 1.245 orang tanpa keluhan apa pun sehingga dilakukan karantina mandiri. (https://nasional.kompas.com/read/2020/07/09/16491181/secapa-ad-jadi-klaster-baru-1262-orang-positif-covid-19)

Bahkan tanggal 9 Juli 2020, Indonesia mencatat penambahan kasus sebanyak 2.657 sehingga totalnya menjadi 70.736 kasus. (https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3167937733291514&id=265134686905181)

Sebelum pemerintah mulai memberlakukan new normal life, para ahli dan beberapa kalangan sudah mewanti-wanti bahwa Indonesia belum siap untuk melakukan new normal life. Diantara alasannya adalah puncak wabah yang belum terlihat, dimana tren kasus masih menunjukkan peningkatan.

Bahkan sudah diprediksi akan ada gelombang kedua wabah jika new normal diberlakukan.

Namun, karena alasan agar ekonomi bangkit kembali, penguasa negeri ini tetap bersikukuh untuk memberlakukan kebijakan new normal life.

Ya, wabah pandemi ini memang menimbulkan dampak yang luar biasa. Termasuk lumpuhnya perekonomian. Dan itu tidak hanya menimpa Indonesia, negara-negara di dunia juga merasakan dampak yang diakibatkan wabah yang asalnya dari China ini.

Kini semakin tampak bahwa penguasa negeri mayoritas Muslim ini tidak menjadikan keselamatan rakyat sebagai prioritas dalam penanganan wabah dengan alasan ekonomi. Padahal jika kasus semakin bertambah, artinya rakyat sebagai pelaku perputaran ekonomi terkena virus, maka juga akan memperpuruk ekonomi (kembali).

Penguasa memang lebih mementingkan para pengusaha besar yang menginginkan untuk kembali memutar roda ekonomi demi menambah pundi-pundi mereka.

Padalah syariat Islam secara tegas telah melarang kepada perbuatan dhoror sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Abu Said al-Khudri:

“Janganlah berbuat dhoror dan memudharatkan.” (HR. Ibnu Majah)

Saat ini butuhnya kita dengan penguasa yang memiliki visi akhirat, penguasa yang menjadikan rasa takutnya pada Allah sebagai pijakan dalam menentukan kebijakan pada rakyatnya. Bukan penguasa yang mengedepankan syahwat pengusaha, sehingga rela mengorbankan nyawa rakyat.

Dan itu hanya ada pada penguasa dalam sistem Islam.

Kenapa harus penguasa yang bervisi akhirat (baca: penguasa dalam sistem Islam)? Karena dalam Islam, ketika terjadi wabah, maka penguasa akan memberlakukan karantina atas wilayah yang terkena wabah agar tidak semakin menyebar ke wilayah lainnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada, janganlah kalian tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari)

Penguasa juga akan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar, terutama kebutuhan pangan dan kesehatan, rakyat yang berada di wilayah karantina. Lha wong saat normal (tidak ada wabah) saja, penguasa juga pasti memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, baik pangan, sandang, papan, pendidikan, keamanan dan kesehatan dengan gratis atau murah. Apalagi saat wabah.

Rakyat akan mendapatkan pemenuhan kebutuhan pangan serta mendapat pengobatan yang layak dan gratis hingga wabah berhasil ditangani.

Darimana anggaran untuk memberikan semua pelayanan yang diberikan kepada rakyat? Dari pos di Baitul Mal, yaitu jizyah, kharaj, fai’ dan harta kepemilikan umum.

Penguasa dalam sistem Islam akan berpegang pada prinsip kepemimpinan dalam Islam yaitu sebagai pelayan umat/rakyat, sehingga tidak akan dibiarkan rakyatnya terlantar dan terpuruk karena model kepemimpinan yang tidak benar/sahih.

“Seorang imam adalah raa’in pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya), dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations