Oleh: Rosyida Elzam

Hampir dua tahun pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia ini, bermula dari satu kota di Tiongkok hingga sekarang telah merata di berbagai belahan dunia.

Setelah sekian lama banyak aktivitas masyarakat yang terhenti dikarenakan pandemi sekarang mulai kembali seperti sediakala, seperti Sekolah mulai kembali tatap muka, tempat hiburan sudah banyak yang dibuka, pusat perbelanjaan sudah mulai ramai pengunjung, serta aktivitas lain yang awalnya hanya bisa via daring sekarang telah bisa dilakukan dengan tatap muka. Kembalinya aktivitas menjadi normal tentu tidak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah serta WHO selaku organisasi kesehatan dunia dalam menghadapi masalah pandemi ini, namun belum lama ini dilaporkan bahwa ledakan pandemi kembali terjadi di berbagai wilayah dan negara dunia.

Sebagaimana dikabarkan dalam cnbcindonesia.com, bahwa ledakan pandemi kembali terjadi disejumlah negara diantaranya adalah Singapura, jumlah kasus Covid-19 masih tergolong tinggi, di negeri 5 juta penduduk itu. Mengutip data John Hopkins, rata-rata kasus seminggu ini sekitar 3.030. Bahkan akibat ledakan Covid ini, CDC, memasukkan Singapura ke "daftar merah" tujuan perjalanan dengan status "very high risk" alias berisiko tertinggi Covid-19. Lonjakan kasus juga terjadi di Turki, senin (18/10/2021) kasus baru tercatat 29.240. Kenaikan ini di luar prediksi. Mengingat angka vaksinasi lengkap di negara tersebut telah mencapai 54% penduduk. Selain dua negara tersebut, jumlah korban Covid-19 juga meledak di Inggris, Rusia, China bahkan Menurut data dari John Hopkins University, Negara Eropa lainnya seperti Kroasia, Denmark, Norwegia dan Polandia masing-masing juga mencatat peningkatan kasus rata-rata mingguan. Bahkan lebih dari 70%.

Di Indonesia sendiri, tambahan kasus positif Covid-19 pada hari ini alami peningkatan, dikutip dari data laman Covid19.go.i. Hari ini, Selasa (23/11/2021) sebanyak 394 pasien baru dinyatakan positif Covid-19. Jumlah tersebut naik dibanding kemarin hari Senin (22/11/2021) yang mencapai 186 kasus. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 masih jauh dari selesai. “Jumlah kasus dan kematian global yang dilaporkan dari Covid-19 sekarang meningkat untuk pertama kalinya dalam dua bulan, didorong oleh peningkatan berkelanjutan di Eropa yang melebihi penurunan di wilayah lain,” kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Dari banyaknya kabar peningkatan kasus covid-19 di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa ternyata berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan WHO selaku organisasi kesehatan dunia rupanya belum bisa menyelesaikan masalah pandemi yang telah terjadi hampir dua tahun ini, hal ini disebabkan berbagai kebijakan yang diambil WHO adalah berdasarkan perspektif kapitalisme yang lebih mengedepankan kepentingan ekonomi daripada keselamatan nyawa masyarakat sehingga walaupun aktivitas ekonomi sudah mulai berjalan kembali namun justru mengorbankan nyawa masyarakat dengan adanya lonjakan kasus covid-19.

Keadaan ini tentu berbeda jika sistem islam dan khilafah yang diterapkan, karena sistem islam akan mensejahterakan umat berbanding terbalik dengan sistem kapitalisme. Dalam salah satu maqoshid syariah atau tujuan diterapkannya syariat islam adalah "Hifdzun nafs" yakni menjaga nyawa manusia, oleh karena itu islam dalam penanganan pandemi akan memprioritaskan keselamatan nyawa dibandingkan kepentingan ekonomi sehingga tidak akan ada pelonggaran kebijakan dikarenakan untuk memperbaiki ekonomi serta tidak akan ada hambatan dalam pelaksanaan 3T (Testing, Tracing, Treatment) atau terjadinya ketimpangan vaksin akibat dominasi negara produsen.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations