Oleh : Ismawati

Sebuah pepatah lama mengatakan “Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah” rasanya pepatah yang tak asing di telinga kita.

Pepatah yang berarti bahwa kasih sayang ibu kepada anaknya sepanjang masa, sementara kasih sayang anak kepada ibunya memiliki batasan. Padahal, ibu adalah sosok manusia mulia, ia rela bertaruh nyawa demi anak-anaknya.

Beberapa waktu yang lalu seorang ibu berinisial K (60) dilaporkan oleh M (40) anak kandungnya karena masalah motor. Dilansir dari tribunnews (29/6/20), Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono mengatakan perseteruan itu berawal dari harta warisan peninggalan ayah M yang dijual seharga Rp 200 juta. Setelah terjual, sang ibu mendapatkan bagian Rp 15 juta dan uang itu dipakai untuk membeli motor. Namun, M tidak terima dan dianggap menggelapkan karena motor tersebut di taruh di rumah keluarga.

Jika melihat kejadian ini, hati ibu mana yang tidak teriris membayangkan jika anak yang dikandungnya selama Sembilan bulan lamanya, disusui dua tahun, dididik dan dibesarkan dengan kasih sayang, dengan tega melaporkan ibu kandungnya. Anak mana lagi jika bukan anak buah dari sistem liberal. Liberalisme yang menganut kebebasan mulai dari kebebasan berpendapat hingga berperilaku menjadikan manusia bertingkah laku bebas sesuai dengan kehendaknya sendiri. 

Sementara itu, Sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan hubungan anak dan ibu tak ubahnya bagai hubungan yang diatur dengan untung dan rugi. Kapitalisme telah membentuk karakter manusia menjadi manusia yang bertumpu meraih materi semata. Alhasil, sistem ini telah gagal memberikan ketenangan dalam keluarga dan rentan menghasilkan generasi durhaka. 

Selain gagal menghasilkan individu yang beriman, sistem sekuler juga gagal menghadirkan lingkungan yang islami. Pola pendidikan hari ini minim pembentukan akidah dan akhlak sehingga menghantarkan seseorang menjadi individu yang mudah murka kepada orang tua. Tentu hal ini tak lepas dari peran negara sebagai penyokong terbesar hadirnya sistem yang dapat mengatur semua kebijakan. Hingga, saat ini negara tak mampu menjadi penjaga ketahanan keluarga.

Sebagai seorang anak, ingatlah bahwa surga ada di telapak kaki ibumu. Rasulullah Saw mengingatkan kita melalui sabdanya : “Sungguh Allah telah berwasiat kepada kalian untuk berbakti kepada ibumu, ibumu, lalu kepada ayahmu; baru kepada orang yang lebih dekat dan seterusnya,” (HR. Bukhari, Ahmad dan Ibnu Majah). Semarah apapun dengan ibu, pahamilah bahwa semua jasa dan keikhlasannya merawat anaknya tak mampu dibalas dengan apapun. 

Maka, untuk mengatasi segala permasalahan ini butuh sinergi yang tepat antara individu, masyarakat dan negara. Hanya kembali kepada Islamlah semua permasalahan akan terselesaikan. Dimana dalam sistem Islam, bekal utama seseorang adalah keimanan dan ketakwaan yang akan mendorong manusia untuk senantiasa menjalankan semua aturan-aturan Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Sementara didalam masyarakat akan tercipta suasana islami yang mendorong manusia untuk senantiasa melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar (mengajak yang ma’ruf dan mencegak kemungkaran). Terakhir, negara memiliki tanggungjawab besar sebagai pelindung utama bagi rakyat. Negara memiliki peran besar memastikan keluarga mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Sebagaimana ayah yang mampu mencari nafkah untuk keluarga, ibu sebagai pendidik dan pengurus rumah tangga. Kemudian anak akan terpenuhi hak dan kewajibannya sebagai generasi yang wajib dididik dengan pendidikan islami sehingga memiliki kepribadian islam dan berakhlak mulia.

Wallahu a’lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations