Oleh : Arini F Aprila

Anak muda dan politik, dua kata yang masih terasa jauh jika disandingkan, terkesan masih terdapat gap diantara mereka.

Padahal seharusnya mereka saling bergandengan dan berjalan menuju tujuan bersama-sama. Apalagi pada kondisi sekarang, dimana kita membutuhkan gebrakan perubahan.

Anak muda memiliki energi yang masih tak terbatas, daya juang yang tinggi serta idealisme yang masih kokoh. Sementara politik memiliki peran besar dalam perubahan seluruh lini kehidupan. Cocok bukan?Namun permasalahannya, mereka ini seperti jodoh yang belum bertemu, harus ada upaya “mak comblang” untuk mempertemukan mereka.

Anak Muda dan Politik Demokrasi

Sejak Pilpres 2019, anak muda telah mengambil peran besar dalam pelaksanaan politik praktis demokrasi. Koordinator Pusat Peneliti Politik LIPI, Sarah Nuraini Siregar menyatakan, berdasarkan hasil survei lembaganya, ada sekitar 35 persen sampai 40 persen pemilih dalam Pemilu 2019 didominasi generasi milenial. (https://tirto.id/dbGF).

Semangat anak muda untuk menjadi pelaku politis praktis pun mulai menggeliat, Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) merilis hasil kajian anatomi daftar caleg sementara (DCS) Pemilu Legislatif 2019. Hasilnya, terdapat 21 persen caleg DPR berusia milenial. (https://news.detik.com/berita/d-4211731/formappi-68-caleg-berusia-produktif-sisanya-21-dari-milenial).

Bahkan mereka tak ketinggalan dalam Pilkada 2020. "Terdapat enam orang dari 23 orang bakal calon yang berstatus anak, berusia di bawah 30 tahun atau merepresentasikan kelompok milenial," Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Arfianto Purbolaksono mengatakan hal tersebut berdasarkan hasil pengamatan di media massa dari 10 hingga 14 Agustus 2020. (https://www.suara.com/news/2020/08/29/031000/anak-muda-ikut-nimbrung-dalam-politik-dinasti-pilkada-serentak-2020?page=all).

Berpolitik atau Korban Politik?

Namun, keterlibatan anak muda dalam kancah politik demokrasi ini akankah membawa angin segar perubahan? Mengingat semakin terpuruknya kondisi generasi saat ini.

Pada faktanya, kehadiran mereka hanya kembali mengulang apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya, melanjutkan berbagai aturan dzalim kepada rakyat, mengetok palu atas Undang-undang yang tidak pernah berpihak pada rakyat. 

Mereka disetir oleh sistem demokrasi yang mereka masuki, tanpa memiliki pilihan yang lain. Bahkan bukan hal yang mengherankan ketika tujuan mereka pun sama seperti senior-seniornya, menjadikan kekuasaan sebagai penopang perusahaannya, menjadikan kekuasaan sebagai pintu untuk memperbanyak kekayaannya. 

Pada akhirnya, anak muda pun sama saja. Bahkan lebih parah, karena mereka telah tercebur lebih cepat dalam lumpur demokrasi. Inilah mereka yang sesungguhnya, menjadi korban politik demokrasi itu sendiri. 

Politik Dalam Islam

Dalam Islam politik didefinisikan sebagai ri'ayah syu' un al-ummah (mengurusi urusan umat), artinya memikirkan dan mengelola semua urusan umat dengan aturan-aturan Islam. Dengan negara sebagai lembaga yang mengatur urusan umat ini secara praktis, dan rakyat sebagai pengendali dan pengoreksinya (muhasabah). Dalil-dalilnya sebagai berikut:

Seseorang yang ditetapkan oleh Allah untuk mengurus kepentingan umat, tetapi dia tidak memberikan nasihat kepada mereka,  tidaklah akan mencium bau surga. (HR al-Bukhari dari Ma'qil bin Yasar ra.).

"Tidaklah seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu Mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah akan mengharamkan dirinya masuk ke dalam surga. (HR al-Bukhari dan Muslim dari Ma'qil bin Yasar ra.).

Dalam politik Islam terjadi sinergi yang tidak terpisahkan antara negara dan rakyat. Dalam Islam politik bukan sekedar urusan memilih atau dipilih. Politik Islam memiliki peran penting dalam membawa manusia kepada ketaatan totalitas kepada Allah Swt., dengan penerapan aturan-aturan Islam secara sempurna dan menyeluruh. 

Islam, Politik, dan Anak Muda

Islam memberikan ruang bagi anak muda untuk terjun dalam politik, bahkan menjadi suatu kewajiban bagi mereka. Pemuda dapat bersuara untuk muhasabah atau koreksi terhadap penguasa atas aturan Islam yang duterapkannya, tanpa harus menghadapi tajamnya kawat-kawat besi atau perihnya gas airmata. Mereka pun dapat menjadi generasi emas kebanggan umat dengan menjadi sang pemimpin muda, seperti Muhammad Al Fatih menjadi khalifah ketika masih menyandang status anak muda.

Mengkombinasikan kekuatan anak muda dan politik Islam adalah pilihan tepat untuk memulai sebuah perubahan besar. Karena itu, wajib bagi pemuda muslim untuk melek politik Islam, sehingga tidak menjadi korban politik, dan dapat menyetir arah perubahan kehidupan dunia yang tengah porak poranda ini, dengan kekuatan yang Allah titipkan padanya. Menuju pada perubahan hakiki, diterapkannya aturan-aturan Islam secara sempurna dalam Khilafah Islamiyah.

 Wallahu’alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations