Oleh: Finny Ibrahim
Aktivis Dakwah di Kota Depok

Ucapan selamat kepada Joe Biden dan Kamal Harris sebagai presiden dan wakil presiden AS terpilih terus berdatangan dari para pemimpin dunia, tak ketinggalan Indonesia.

Presiden Joko Widodo mengucapkan selamat atas terpilihnya Joe Biden dan Kamala Harris dalam Pilpres AS yang telah berlangsung cukup sengit itu.

Sebagaimana kita ketahui, sebelumnya pada 29 Oktober 2020 Mike Pompeo, Menlu AS datang ke Indonesia. Hal ini tentunya tidak lepas dari agenda global AS. Dalam pertemuannya dengan Presiden Jokowidan Menlu Retno Marsudi ada beberapa agenda yang dikemukakan Menlu AS. Di antaranya masalah Laut Cina Selatan, yang menurut Pompeo sebagai klaim yang dibuat oleh Partai Komunis Cina. AS mendukung sikap pemerintah Indonesia yang dinilainya berani dalam isu tersebut di level kawasan maupun di forum PBB.

Pompeo juga menyinggung masalah Timur Tengah yang sedang memanas, terkait normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel yang diprakarsai oleh AS. Solusi dua negara bagi Palestina dan Israel, yang merupakan skenario damai dari AS untuk konflik Palestina, sudah sejalan dengan keinginan Indonesia.

Kerja sama dalam bidang pertahanan yang sebelumnya dibicarakan dalam kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke AS, ditegaskan kembali untuk ditingkatkan. AS menegaskan komitmennya untuk membantu Indonesia meningkatkan kemampuan pertahanan dan perlengkapan militernya.

Di bidang ekonomi, kerja sama terkait dengan perpanjangan komitmen GPS (Generalized System of Prefences) atau sistem tarif prefensial umum antara Indonesia dan AS, yaitu terkait dengan produk impor kategori A dari AS ke Indonesia. Selain itu juga Pompeo menegaskan kesiapan AS untuk melakukan investasi sektor swasta di Indonesia senilai $ 327 miliar dalam 250 proyek infrastruktur.

Agenda lain adalah kehadiran Pompeo dalam kegiatan ormas Islam yang bertajuk “Nurturing the Shared Civilizational Aspirations of Islam Rahmatan lil ‘Alamin”. Dalam acara tersebut, Pompeo menegaskan tentang ancaman komunisme di Cina dan memuji langkah moderasi Islam yang ada di Indonesia.

Kehadiran Pompeo memastikan lagi bahwa Indonesia masih menjadi sekutu AS. Kawasan AS perlu memastikan agenda globalnya aman. Baik kapitalisme ekonomi dengan penguasaan sumber daya strategis seperti Freeport dan perusahaan swasta energi lainnya, maupun agenda moderasi Islam dengan hadir dalam kegiatan keislaman dengan membawa pesan, Islam seperti apa yang sejalan dengan agenda global AS.

Seperti yang dikutip Kompas.com, Kamis (5/11/2020), Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan, siapa pun yang terpilih tidak akan berdampak pada Indonesia. Pasalnya, selama ini  Indonesia sudah bekerja sama dengan negara AS, bukan presidennya. Semua birokrasinya sudah diatur AS.

Gaya kepemimpinan bisa berbeda, tetapi wajah ideologinya tetap sama. Mental kolonial sudah mendarah daging di tubuh negara yang mengemban ideologi kapitalisme tersebut. Sikap AS terhadap Israel akan selalu sama, yaitu konsisten berdiri membela kepentingan Israel diPalestina. Adapun masalah konflik di Timur Tengah, Biden tidak akan mengadopsi kebijakan pemerintahan Trump terhadap pendudukan Israel di Tepi Barat. Meski demikian, kebijakan luar  negeri AS tidak akan berubah, yaitu komitmennya menjaga hubungan dekatnya dengan Israel.

AS berperan besar membuat negeri-negeri Muslim tercerai berai dengan proyek global bernama war on terrorism yang bergeser menjadi perang melawan radikalisme. Akidah sekularisme yang diusung AS menjadikan wajah kehidupan kaum Muslim terpuruk, rusak dalam segala sendi kehidupan. Paham liberalisme Barat juga mengacaukan pemahaman kaum Muslim terhadap Islam.

Jadi, ketika Joe Biden akan mempersatukan semua golongan, itu hanyalah pemanis saja. Padahal, di balik nama kebesarannya, AS menimbun banyak masalah internal di negaranya. Seperti masalah meningkatnya kriminalitas, kebebasan tanpa batas, kemiskinan, kekerasan seksual, rasisme, hingga utang negara.

Maka, jika menggantungkan harapan Islam kepada AS dan Barat sama halnya memberi angin segar bagi negara imperialis tersebut untuk memainkan peran dan kepentingan mereka.

Harapan satu-satunya adalah khilafah, yaitu institusi Islam yang mampu menandingi kekuatan AS sebagai negara adidaya. Khilafah akan mempersatukan kekuatan kaum Muslim dunia dan mampu membebaskan negeri Muslim dari penjajahan AS dan sekutunya.

Dengan tegaknya khilafah, kaum Muslimin akan mampu berdiri tegak dan tampil sebagai negara adidaya yang mandiri tanpa harus menghamba pengharapan dan belas kasih dari Barat. Hal ini sudah pernah terjadi saat Islam berkuasa di dunia selama 13 abad lebih. Inilah yang ditakutkan Barat, termasuk AS terhadap ideologi Islam yang akan mengancam hegemoni ideologi kapitalis sekuler.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations