Oleh: Maman El Hakiem

Dear, Ramadhan.
Keberkahan Ramadhan bukanlah karena keuntungan materi semata. Banyak orang mengira, larisnya jual beli dan banyaknya pembeli di hari-hari orang berpuasa sebagai tanda keberkahan.

Bagi pelaku bisnis, kesempatan hari-hari Ramadhan sebagai promo besar-besaran, bukan untuk memaksimalkan ibadah. Tidak megherankan banyak orang memasang target keuntungan jual beli, daripada target pahala ibadah.

Sudah menjadi rutinitas di negeri ini, banyak peluang bisnis yang di jalankan di bulan suci Ramadhan , mulai dari kuliner, sandang, kebutuhan sekunder, bahkan tersier sebagai pasar bisnis menggiurkan. Hal tersebut beralasan karena budaya belanja di negeri ini begitu luar biasa, segala kebutuhan pokok dan perlengkapan selalu diupayakan yang baru dalam menyambut hari istimewa lebaran. Jadi, lebih kental menyambut lebaran daripada mengisi aktifitas Ramadhannya.

Menjadi pemandangan umum, hiruk pikuk di pasar atau pusat perbelanjaan begitu dominan dibanding aktifitas di masjid atau majelis ilmu lainnya. Target Ramadhan yang harusnya melahirkan insan yang bertakwa, malah menjadi insan yang penuh dengan belanja. Pahala yang dijanjikan Allah SWT yang berlipat ganda, seolah kalah oleh janji bonus atau diskon dari berbagai produk yang menggoda.

إِنَّ التُّجَّارَ يُحْشَرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلا مَنِ اتَّقَى وَبَرَّ وَصَدَقَ .

Artinya: “Sesungguhnya para pedagang akan dikumpulkan di hari kiamat sebagai orang yang fajir. Kecuali orang yang bertakwa, berbuat kebajikan dan jujur.” (HR Ath-Thahawi).

Perniagaan yang melalaikan tidak lain adalah mereka yang lebih mengutamakan target-target materi daripada menumbuhkan nilai ketakwaan. Ciri mereka diantaranya menukar keuntungan akhirat dengan dunia, bersikap curang dan bersumpah palsu. Seorang pedagang akan selalu dihadapkan dengan ujian kejujuran dan perhitungan untung dan rugi.

Karena hal itulah, maka penting untuk diperhatikan bagi pelaku perniagaan agar selalu menjaga nilai-nilai ketakwaan saat berjual beli, seperti mengutamakan shalat berjamaah, tidak curang dan selalu mengingat Allah dalam praktik niaganya, menjaga hukum syariah dalam muamalahnya. Karena perniagaan bukanlah sebab datangnya rezeki, melainkan amal shalih yang bernilai pahala di samping nilai materi.

 لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Q.S. An-Nuur [24]: 37-38).

Prof Buya Hamka di dalan tafsir Al-Azhar menyebutkan, besarnya pahala  yang akan  diraih tersebut, jika perniagaannya tidak sampai melalaikan dirinya untuk menjalani ketaatan kepada Allah SWT.  Nah, takwa itulah yang menjadikan nilai keberkahan dalam hidup atas rezeki yang diraihnya.

Wallahu’alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations