Oleh: Maman El Hakiem

Dear, Ramadhan.
Bedanya buzzer dan influencer itu ternyata bukan soal materi finansial, melainkan soal kualitas konten yang disampaikannya.

Di jaman digital yang serba medsos ini, muncul dua istilah baru yang menghentak dunia maya, yaitu buzzer dan influencer. Mereka hadir bermula dari kepentingan politik penguasa saat ranah opini di masyarakat didominasi pengaruh media sosial. Buzzer adalah pendengung yang dibayar asal terima uang tanpa melihat kebenaran kontennya atau seberapa jauh pengaruh penyebar pesannya. Sedangkan influencer lebih profesional karena mereka biasanya orang-orang yang banyak dikenal atau berpengaruh di hadapan publik.  Di dunia medsos mereka sangat kreatif dan memiliki  banyak follower.

Influencer memberikan kontribusi bagi opini publik sebagai penyampai pesan yang efektip tanpa sekat ruang dan waktu. Banyak pelaku bisnis, politisi bahkan penguasa menggunakan jasa infuencer untuk mencapai target tujuannya, baik sekedar pencitraan diri, maupun branding agar menjadi viral atau dikenal publik dalam waktu singkat. Biasanya marak saat ada kasus-kasus tertentu dalam persaingan bisnis atau menjelang pemilihan kepemimpinan.

Adapun mengenai konten pesan yang disampaikan cenderung mengikuti selera  komunitas publik figurnya, di sinilah pentingnya publik hati-hati dalam memilih dan memilah pesan yang bersponsor. Karena nilai kebenarannya sangat dipengaruhi kepentingan bisnis atau politis mereka yang membayarnya, apalagi jika mereka memiliki target mempengaruhi kebijakan publik. Maka, cek dan sadari bahwa nilai kebenaran yang mereka tawarkan sarat dengan kepentingan yang bisa membodohi publik. Apalagi jika mereka adalah orang-orang yang memiliki karakter merusak (fasik).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

Meneliti kebenaran berita di jaman yang serba terhubung ini, tentu tidak mudah jika tidak melakukan cek dan ricek dengan menelusuri jejak digitalnya. Suatu kebohongan yang terus disebarkan tanpa adanya perlawanan balik  bisa menjadi sebuah kebenaran hanya karena pengaruh influencer. Maka, bagi orang-orang yang beriman ketika dakwah menjadi panggilan jiwanya untuk menyebarkan Islam kepada khalayak ramai. Harus dibekali pengetahuan tentang lingkaran informasi dalam jaringan internet, sehingga tidak mudah disesatkan oleh perbuatan orang-orang yang memang  berniat merusak pemikiran umat.

Banyaknya kasus berita bohong yang menjebak kaum muslimin untuk saling curiga dan bermusuhan karena salah persepsi, alasannya tidak lain karena kurangnya influencer dakwah yang  menyampaikan kebenaran dengan  pengaruhnya bagi kemuliaan dan kemenangan Islam. Saat ini dibutuhkan influencer yang melek  literasi di dunia medsos agar dapat memenangkan opini umum dalam kancah perang pemikiran (al ghazwu al fikr). 

Wallahu’alam bish-Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations