Oleh: Ahmad Yasin Habibillah
‘Pembelotan’ Prabowo terhadap perjuangan umat dan malah tergoda untuk ’melipir’ ke pusaran kubu Jokowi bisa dibilang memberikan berkah tersendiri.
Bendera Tauhid, Al-Liwa dan Ar-Rayah. Foto: Bandung Kita

Musibah tidak selamanya memang membuat kita terpuruk bukan? Umat memang sempat melabuhkan hati dan berharap kepada Prabowo. Namun akhirnya dibuat 'patah hati' oleh sang jenderal. 'Patah hati' memang musibah. Namun di balik musibah terkandung berkah. Dan berkahnya pun tak bisa dianggap ‘receh’.

Berkah ini sungguh luar biasa. Tak bisa kita pungkiri, ini memang skenario yang telah Allah takdirkan untuk umat ini. Boleh jadi ‘kepergian’ Prabowo memang menjadi sebuah keharusan. Pasalnya, seandainya pun sang jenderal masih di samping umat dan alumni 212, perjuangan umat ini bakal dihadapkan pada perjuangan dan temporer dan kian berlarut-larut dininabobokan perjuangan dalam sistem demokrasi yang penuh ilusi. 

Kalau Prabowo masih bersama umat, boleh jadi umat ini akan terhanyut lebih lama dalam arus 'air keruh' demokrasi. Bukan saja terhanyut, bahkan kalau terus dibiarkan bakal tenggelam dan terbunuh oleh racun-racun yang terkandung dalam air keruh menjijikkan itu.

Dengan kejadian ini, justru boleh jadi Allah menginginkan umat ini melakukan sebuah lompatan besar dalam perjuangan ini. Dan bukti perjuangan umat yang makin mengerucut itu terlihat dalam putusan Ijtima’ Ulama IV. 

Jika dalam Ijtima’ ulama sebelumnya, nuansa dukung-mendukung calon presiden masih kental, maka di Ijtima’ Ulama paling anyar ini, justru tak ada lagi figur politisi pengusung demokrasi yang didukung, Sebaliknya yang ada hanya penekanan akan wajibnya penegakan syariah dan khilafah. Dari sinilah justru makin terlihat jelas arah perjuangan umat ini. 

Rezim zalim Jokowi, mungkin saat ini sedang terkaget-kaget dan keheranan. Bagaimana bisa khilafah dibela, padahal dia sudah bubarkan ormas yang paling getol mengampanyekannya. Dia juga sudah melakukan rekayasa jahat, khilafah seolah-olah bertentangan dengan NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations